Minim Kepedulian Tempat Wisata, Akses Jalan Masih Sempit dan Rusak

100

MADIUN – Sumber daya alam Gunung Wilis bak perawan ting-ting yang belum banyak terjamah. Ada banyak sekali spot bagus dan instagrammable yang layak untuk diekspose. Bahkan, dijadikan destinasi wisata. Sayangnya, perhatian dari pemkab selama ini masih kurang. ’’Banyak sekali embrio-embrio yang bisa dikembangkan untuk jadi tempat wisata,’’ kata Bernardi S. Dangin, ketua Forum Komunikasi Pariwisata (FKP) Kabupaten Madiun.

Dia mengungkapkan, ada banyak view-view menarik di sejumlah desa yang berada di lereng Gunung Wilis. Mulai dari wilayah Kecamatan Gemarang, Dagangan, Kare, dan Saradan. Dia menyoroti sekitar empat desa yang sebenarnya memiliki potensi yang bagus. Yakni di Desa Cermo dan Desa Kepel di  Kecamtan kare, Desa Durenan dan Tawangrejo di Gemarang, Desa Segulung yang ada di Dagangan dan juga Desa Sugihwaras di Saradan yang bisa dijadikan rest area. ’’Tapi, sebenarnya, semua desa memiliki potensi. Tergantung individunya, mau memunculkan itu atau tidak,’’ katanya.

Potensi-potensi alam berupa pemandangan terasering dari areal persawahan daerah pegunungan rupanya jadi jujukan yang cukup memukau para pengunjung. Khususnya turis mancanegara. Bahkan, saat ini di Bali pun juga sedang ramai-ramainya destinasi wisata yang berupa area terasering persawahan. Dan pemandangan serupa bisa dijumpai juga di Madiun. ’’Ini sebagai contoh saja. Di Cermo itu juga ada yang lebih bagus ketimbang yang ada di Bali. Bahkan, mirip ampitheater yang cakep banget saat sunset,’’ katanya.

Pun, selain kemauan ada juga faktor-faktor lain yang menyebabkan spot yang bagus itu seakan tersembunyi. Di antaranya adalah birokrasi yang membuat kebijakan-kebijakan untuk membuka tempat wisata jadi terhambat. Lantaran untuk membuka wisata pun juga butuh peraturan desa setempat. Sayangnya, ada juga kepala desa yang tidak definitif. ’’Jadi mereka tidak berani mengambil keputusan dan akhirnya terhambat untuk mengembangkan potensi wisata,’’ ternagnya.

Selain itu, daerah pegunungan yang ada di Kabupaten Madiun belum memiliki akses jalan yang cocok untuk kendaraan roda empat. Jalan masih sempit, pun ada yang makadam. Sehingga, beberapa orang akan mengurungkan niat lantaran takut berpapasan dengan kendaraan lain. Namun, jalan emang memungkinkan bagi para turis yang hendak datang menggunakan kendaraan roda dua. ‘’Mobil saja kesulitan, apalagi kalau bawa bus yang besar. butuh rest area dan naiknya pakai shuttle. Angan-angannya begitu,’’ ungkapnya.

Sayangnya, jejaring wisata yang diidamkan belum terwujud di Bumi Dongkrek. Masih ada rasa kedaerahan sehingga agak sulit jika diajak untuk saling mempromosikan destinasi wisata yang ada di dearah lain. Hal itulah, yang sampai saat ini menghambat perkembangan pariwisata yang ada di pegunungan. Menurutnya, rest area dan adanya shuttle car bisa mempermudah para pengunjung yang hendak berwisata. ‘’Contoh lagi, rest area di Sugihwaras, naik ke Gemarang naik shuttle car,’’ jelasnya. (fat/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here