Litera

Mimpi Sunyi Larasati

Oleh: Nanang E S

Setahun, setelah kejadian memalukan itu, Larasati sulit menerima dirinya lagi. Terlebih sebagai perempuan cantik yang banyak diagungkan sebagai penerus takhta kecantikan Desa Sumpel. Genap satu tahun juga, Larasati telah membeci kaca. Sorot matanya yang penuh dosa selalu menyiksanya. Ia juga takut dengan mimpi. Sebab, kerap membawanya kembali pada pengalaman masa lalu. Hingga pada suatu waktu, tidur menjadi ketakutan tersendiri. Batinnya terasa sakit saat mimpi menemukannya dengan Joe.

Larasati benar-benar ingin melupakan kenangan itu. Salah satunya dengan memutuskan untuk tinggal sendirian di rumah peninggalan neneknya. Di dalam kampung, jauh dari kerumunan warga.

Itu salah satu cara agar ia tidak semakin sakit ketika keburukannya menjadi pembicaraan orang-orang. Ia tinggal ditemani gubug reyot dan lilin saat malam hari. Larasati akan sangat marah jika sampai orang lain mengkhawatirkan keadaannya. Larasati merasa tidak pantas dikhawatirkan lagi.

Bermula ketika Larasati hidup dalam jagat virtual. Tubuhnya yang cantik kerap dijadikan bunga di rumah akunnya. Hampir setiap hari, setelah mengenakan gincu. Larasati mengabadikannya di dalam berandanya. Senyumnya menjadi semacam pelipur bagi mereka yang tengah kesepian.

Suatu waktu ia kenal dengan Joe. Lengkapnya Josephtani. Dimulai pesan singkat, ia meladeni Joe yang suatu pagi mengirimi foto bunga di pesan pribadinya. Dari identitasnya, Joe anak seorang pejabat. Orangnya tampan, putih, berpangkat tinggi, lulusan luar negeri. Obrolan itu berakhir keakraban.

Hingga keduanya bersepakat bertemu di suatu tempat. Jauh, di luar desanya. Larasati tak ingin ada yang melihat pertemuannya dengan Joe. Tanpa berpikir panjang, Larasati berangkat sendirian ke tempat itu. Sebuah vila, tempatnya romantis. Joe yang memesannya. Larasati bisa melihat pemandangan yang indah. Seporsi makanan siap saji. Juga bunga-bunga di kelilingnya. Kemudian seorang laki-laki keluar dari dalam ruangan dengan wajah tampan sambil menyodorkan bunga dari balik badannya.

“Tanpa aku berkenalan, kamu pasti Larasati,” katanya sambil menyodorkan bunga.

“Kamu tidak takut, jika ternyata aku bukan Larasati?” sahut Larasati dengan raut wajah malu.

“Meskipun kau berganti nama, aku tetap yakin. Senyummu telah memperkenalkannya,” ucap laki-laki yang ternyata itu Joe.

Pertemuan itu yang kemudian melahirkan kedekatan. Berlanjut makan bersama, menikmati suasana yang menyenangkan. Larasati menikmati pertemuan itu hingga larut malam. Sampai terlena pada suatu pengalaman pahit.

Ia tak sadarkan diri, terbawa suasana kebahagiaan. Joe telah menaikkan batin Larasati dengan suasana yang ia rindukan semasa kecil.

***

Kenangan manis itu justru membuat Larasati menjadi perempuan tertutup. Terlebih Joe hilang setelah pertemuan itu. Ia serupa pengangsing, melepas kenangan dengan menyendiri. Larasati benar-benar ingin melupakan kejadian itu.

Suatu pagi, bapaknya datang menemuinya yang tengah duduk di kursi tua.

“Bapak datang tidak untuk membuatmu malu, Nak,” kata bapaknya dengan lembut. “Aku ingin kau bisa belajar memperbaiki diri.”

“Ini Sulton, kau masih mengenalnya kan?” lanjut bapaknya.

“Untuk apa? aku sudah tidak seperti dulu. Aku sudah tidak pantas dikagumi seperti dulu. Ajak pergi lelaki itu!” Larasati benar-benar belum menerima orang lain.

“Aku tetap kagum denganmu Larasati, kau telah melalui perjalanan panjang untuk membayar utang kekhilafanmu,” sahut Sulton, lelaki yang pernah melamarnya.

“Aku tidak bisa. Cari saja perempuan lain yang lebih baik dariku,” jawab Larasati.

Pelan-pelan Sulton mendekatinya dan memegang pundaknya. Namun, seketika Larasati menamparnya. Ia masih terbayang-bayang tangan Joe yang busuk itu.

Larasati semakin marah, ia kemudian mengusir keduannya. Larasati benar-benar marah. Terlebih kepada bapaknya yang membawa Sulton.

Sudah banyak cara dilakukan orang tuanya, termasuk mencarikan sosok pengganti Joe. Namun, itu belum berhasil. Larasati masih saja terbelenggu penyesalan. Hingga suatu waktu Larasati benar-benar marah atas dirinya. Selalu teringat ketika ia memegang pipinya, rambutnya, dan bibirnya sendiri. Bayangan Joe membekas di tubuhnya.

Sampai suatu malam, di bawah rembulan dan di pelukan kesejukan malam, Larasati memutuskan menghilangkan bekas itu. Termasuk di kelaminnya. Larasati sudah tidak peduli tubuhnya mengalir darah. Sebab, dengan darah itulah ia menganggap sebagai balasan atas dosa besarnya. Setelah itu, Larasati benar-benar merasa telah selesai menebus dosa besarnya dan kembali menemui orang tuannya yang lama ditinggalkan.

Ia berjalan terseok menuju rumah, jaraknya lumayan jauh. Sesampai di depan pintu, Larasati mendapati seorang laki-laki tengah duduk bersama orang tuanya.

“Joe datang bersama orang tuanya untuk melamarmu, Nak,” kata ayahnya kaget melihat putri semata wayangnya datang berlumuran darah.  Saking kagetnya, orang-orang yang ada di rumah, termasuk kedua orang tuanya, mematung melihat Larasati.

“Larasati,” ucap Joe bergegas mendekati Larasati yang berdiri di depan pintu sambil berniat menahan tubuhnya, namun ditolak olehnya.

“Ke mana saja kau selama ini?” tanya Larasati dengan suara kesakitan.

“Maafkan aku Larasati, aku menghilang. Aku meyakinkan istriku untuk menikahimu,” jawaban Joe mengejutkan.

Ia ingin menjadikan Larasati istri keduanya. Larasati tercengang, termasuk ayahnya. Selama kedatangannya, ia belum tau kalau Joe sudah beristri. Sontak ayah Larasati marah. Awalnya ia ingin menahan amarahnya itu. Namun, kemarahan ayahnya tidak lagi bisa dibendung. Sempat ia mengambil gelas di depannya dan ingin memukulkannya ke Joe. Namun, istrinya yang juga ibu Larasati meredam amarah suaminya.

“Kenapa kau tidak bilang kalau sudah beristri?” tanya Larasati.

“Senyummu membuatku tak kuasa untuk bilang,” jawab Joe dengan enteng.

“Sudah kubuang bekas tanganmu di tubuhku. Kau telah membuat dosa besar dalam hidupku,” ujar Larasati yang kemudian tubuhnya terempas ke lantai dengan berlumuran darah. Entah apakah kenangan itu akan selesai. Tidak ada yang tahu. Sebab, Larasati masih tak sadarkan diri.

Penulis: Alumni STKIP PGRI Ponorogo,

penggerak SLG 01, yang saat ini mengajar di SMA Negeri 01 Batu Sopang, Kalimantan Timur

Baca Lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close