Mimpi Ngawi Memiliki Stadion yang Layak

259

KEGAGALAN Persinga Ngawi menggelar laga leg 1 babak 32 besar Piala Indonesia  melawan Persebaya Surabaya sungguh memprihatinkan. Pecinta sepak bola di Ngawi, khususnya Pastimania, suporter Persinga, tentu sangat kecewa karena tidak bisa menyaksikan Slamet ”Larso” Hariyadi dkk bertanding melawan Irfan Jaya dkk. ironisnya, Plt ketua umum PSSI adalah orang Ngawi asli. Kecewa, malu, dan gemas, campur aduk menjadi satu.

Alasan kegagalan yang diungkap selama ini adalah karena faktor keamanan. Kehadiran bonek sungguh menakutkan bagi Kapolres Ngawi AKBP Pranatal Hutajulu. Tapi subtansi permasalahannya adalah karena Stadion Ketonggo, markas Persinga, tidak layak menjadi tempat pertandingan sekelas Piala Indonesia. Apalagi sekelas Liga 1. Seandainya Stasion Ketonggo layak pakai, tentu pihak keamanan bisa mempertimbangkan untuk memberi izin atas pertandingan bergengsi tersebut.

Mau direnovasi seperti apa pun, Stadion Ketonggo memang sudah tidak mungkin disulap menjadi stadion yang layak. Memperluas stadion tersebut sudah tidak mungkin dilakukan. Tidak ada ruang yang cukup untuk menampung setidaknya 15 ribu – 20 ribu penonton. Tidak memungkinkan lagi membangun lahan parkir yang cukup representatif.

Sampai kapan pun, Persinga tidak akan bisa menjamu tim-tim besar di kotanya sendiri selama masih mengandalkan Stadion Ketonggo. Pilihan menggunakan stadion di kota lain seperti Bojonegoro atau Jember juga bukan pilihan yang mengenakkan. Apa artinya punya klub sepak bola bila suporternya tidak bisa mendukung tim kesayangan di kotanya sendiri. Apa enaknya menyaksikan laga home tapi serasa away.

Jadi, sudah saatnya Ngawi punya stadion baru. Yang memenuhi syarat menjadi tempat pertandingan Liga 1. Harus diproyeksikan untuk liga I agar Persinga punya ambisi lolos ke kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia. Sejajar dengan Persebaya, Persija Jakarta, Persib Bandung, PSM Makassar, dan sebagainya. Bukan merenovasi stadion Ketonggo. Tidak ada gunanya dan buang-buang uang saja.

PT LIB memiliki syarat bagi stadion untuk menjadi markas tim Liga 1. Setidaknya stadion memiliki dua ruang ganti yang dilengkapi kamar mandi minimal empat shower, toilet duduk, dan dua urinoir. Ruang ganti juga minimal dilengkapi 25 tempat duduk beserta loker, Ditambah dengan AC dan papan tulis. Ada ruang pengawas pertandingan yang dilengkapi dengan koneksi internet, komputer, printer, dan mesin fotocopy. Lampu stadion minimal memiliki lumen 800 lux dan meratas agar bisa digunakan untuk menggelar pertandingan malam. Kemudian, stadion juga emiliki cadangan listrik yang cukup. Dan yang terakhir, tribun VIP memiliki minimal 30 kursi, tempat parkir untuk bus tim, tamu VIP, sponsor, dua unit ambulans, dan mobil stasiun televisi.

Saya rasa, semua stakeholder Ngawi sepakat bahwa Ngawi butuh stadion baru. Wacana pembangunan stadion baru sering menghangat lalu menguap. Wacananya sudah ada sejak sawal 1990-an. Intinya hanya wacana. Pemkab juga hanya mengandalkan uluran tangan pemerintah pusat. Tidak ada upaya untuk mewujudkannya. Bahkan lahan saja tidak mampu disediakan. Meski hanya enam hektare.

Perlu komitmen kuat dari bupati dan DPRD untuk mewujudkan impian ini. Banyak jalan untuk merealisasikannya. Kota-kota lain di Indonesia saja bisa, masa Ngawi yang sudah berusia 660 tahun, termasuk salah satu kota tertua di Indonesia.

Membangun stadion memang tidak murah. Setidaknya butuh anggaran Rp 80 miliar. Informasi dari Aris Dwi Nugroho, warga Jururejo,  Ngawi, yang bekerja di Phillipis dan berpengalaman menangani lampu stadion, biaya memasang lampu stadion yang layak untuk pertandingan malam yang standar siaran langsung televisi, sekitar Rp 22 miliar. Itu untuk lumen 1.500 lux.

Pembangunan stadion tidak bisa selesai dalam setahun atau dua tahun. Tapi kalau tidak dimulai, sampai kapan Ngawi akan punya stadion yang berkelas. Tahun ini minimal sudah ada lahan yang tersedia. Setiap tahun harus ada progress-nya. Setidaknya, saat Bupati Ngawi Ir H. Budi Sulistiono lengser, kegiatan pembangunan stadion baru sudah terlihat. Ayo, Pak Kanang, Mas Ony (wabup Ngawi), Mas Antok (Ketua DPRD), Anda bisa! (Penulis adalah wartawan Jawa Pos, cah Ngawi Asli)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here