Meski Satu Warna, Harga Lukisan Ampas Kopi Tembus Puluhan Juta

121

PONOROGO – Joglo di belakang rumah Imam Subandi di Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan Siman, itu layak disebut galeri. Di dalamnya penuh dengan lukisan beragam ukuran. Mulai 60×40 sentimeter hingga 1×1,5 meter. Lukisan itu terlihat begitu hidup dengan goresan yang menceritakan berbagai kisah pewayangan. Dari sekian lukisan berbagai ukuran itu, ada yang menarik perhatian. Lukisan 1×1,5 meter yang digeletakkan di lantai tengah. Warnanya hanya cokelat. Goresannya bercerita tentang Baru Klinthing yang menjadi legenda Telaga Ngebel. Suatu ketika, lukisan yang goresannya hanya dengan ampas kopi itu pernah ditawar Rp 30 juta. Tapi, tak dilepas. ‘’Saya sudah melukis sejak lama. Tapi ide membuat lukisan dari ampas kopi ini baru tebersit dua tahun lalu,’’ kata Imam.

Ampas, sejatinya endapan yang biasanya terbuang setelah kopi tandas. Tangan Imam Subandi berhasil membuktikan sisa endapan minuman itu bernilai seni dan berdaya jual tinggi. Sederhana saja, ide itu tercipta dari kebiasaannya ngopi di warung. Semula, ampas kopi di lepek dibuatnya menggambar ala kadarnya sebagai pengisi waktu saat ngopi. Dari situlah dia mulai berpikir menggunakan media kanvas. Di awal, dia pun harus menelateni kesulitan memilah ampas kopi yang halus dan kasar. ‘’Harus mengenali karakter ampas kopi,’’ ujarnya.

Dari hasil percobaan pertamanya, Imam mendapatkan pelajaran penting. Selain harus memilih karakter ampas kopi, Imam juga bisa mengenali gelap-terang dari ampas kopi. Itu sangat memengaruhi hasil lukisan yang digarapnya. Ketika Imam salah menempatkan karakter pekat ampas kopi, lukisan gagal. Otomatis dia harus mengulangi kembali dari awal. Ketidakpastian sifat warna ampas kopi itu menjadi tantangan tersendiri. Menjadi pembeda ketika melukis dengan cat seperti yang biasa dia kerjakan. Sejak itu, dia menjadi pelukis ampas kopi satu-satunya di Bumi Reyog. ‘’Satu lukisan ukuran 60×40 sentimeter butuh dua-tiga hari. Tergantung tingkat kerumitan. Kalau sketsa wajah bisa hitungan jam,’’ terang pria kelahiran 1975 itu.

Lukisan yang dia buat biasanya berkaitan dengan cerita pewayangan. Dia kerap menggoreskan legenda suatu daerah. Agar masyarakat semakin menghargai sejarah yang merupakan warisan leluhur. Lukisan Baru Klinthing tembus puluhan juta karena ampas kopi tidak bakal luntur dari kanvas. ‘’Dicampur dahulu dengan racikan, jadi tidak bakal luntur,’’ sambungnya.

Karya fenomenalnya mengantarkan Imam mengikuti pameran lukisan di berbagai kota besar. Mulai Surabaya, Semarang, Madiun, hingga Jogjakarta. Mengukuhkan hobi melukis yang sejatinya mulai tumbuh sejak TK kendati baru menekuni 2002 lalu. Selain melukis yang terlahir dari ide dan imajinasi, Imam juga menerima pesanan. Dia juga aktif membina pemuda dan warga setempat membatik. ‘’Kenapa pengerjaan bisa lama, karena memang mencari idenya itu yang cukup lama. Sesuai dengan mood,’’ ucap suami Eka Santiani itu. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here