Meroket lewat Jersey Basket, Bisnis Konveksi Ikrar Semakin Berkibar

22
ULET: Ikrar Fauzia Syarief menunjukkan salah satu jersey buatannya.

MADIUNPassion Muhammad Ikrar Fauzia Syarief pada bola basket tidak pernah luntur. Buktinya, setelah pensiun sebagai atlet, kesehariannya tak jauh-jauh dari olahraga yang melambungkan nama Michael Jordan itu. Sejak 2013 silam, Ikrar berbisnis jersey olahraga, mayoritas basket. ‘’Ini (berbisnis jersey, Red) mimpi saya sejak dulu,’’ ujar Ikrar.

Ikrar merintis usaha jersey sejak masih aktif di Pacific Caesar, salah satu klub basket profesional di Surabaya. Bermula dari kondisi ekonomi keluarga yang mengalami keterpurukan kala itu. ‘’Semula cuma jadi reseller,’’ ungkapnya.

Awalnya, bisnis sampingan itu berjalan lancar. Nah, suatu ketika dia mengalami ‘’insiden’’ keterlambatan kiriman barang hingga dikomplain customer. Sejak itu terbesit di benak Ikrar memproduksi jersey sendiri.

Dia sengaja menyisihkan sebagian tabungannya untuk membeli beberapa mesin jahit. ‘’Awalnya saya kira hanya butuh satu, ternyata minimal harus tiga mesin untuk bisa memproduksi jersey,’’ ungkap mantan atlet basket yang pernah memperkuat Jawa Timur pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2008 di Samarinda ini.

Dia membeli bahan yang masih berupa kain di Kota Pahlawan, kemudian dijahit di Kota Madiun. ‘’Tiap Sabtu mudik sambil bawa sekarung kain, Minggu balik lagi ke Surabaya,’’ kenang pria yang tinggal di Perumahan Manisrejo, Taman, itu.

Ikrar semakin fokus menekuni bisnisnya sejak pensiun sebagai atlet pada 2014 lalu. Sejak itu pula dia melakukan diversifikasi produk. Dari awalnya hanya jersey olahraga, belakangan Ikrar juga memproduksi kaus, celana training, jaket, dan pakaian kerja.

Mengandalkan sistem pemasaran online –via media sosial dan marketplace– produknya kini telah merambah berbagai daerah di tanah air. Mulai eks Karesidenan Madiun, Surabaya, hingga luar pulau seperti Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. ‘’Rata-rata dalam sebulan menerima seratusan pesanan, kebanyakan dari pemain basket,’’ papar pria 31 tahun ini.

Ikrar masih ingat betul saat pekan-pekan pertama membuka usaha konveksi. Kala itu dia mendapat order jaket dengan model rumit. ‘’Awalnya ragu, akhirnya nekat saya terima. Padahal, waktu itu punya punya penjahit,’’ kenangnya.

Baru beberapa hari sebelum deadline, Ikrar mendapatkan penjahit. ‘’Alhamdulilah, pas banget, dapat penjahit yang bisa mengerjakan pesanan jaket tambal-tambal lima macam warna itu dengan cepat,’’ imbuhnya. (mgd/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here