Ngawi

Mereka yang Berjaya di Jamus 100 Km 2019 (2)

Nama Sri Suyamti kembali bersinar di kebun teh Jamus. Perempuan asal Surakarta itu berhasil menyabet ratu tanjakan usai melibas Jamus 100 Km 2019. Gelar itu bukan kali pertama baginya. Sebelumnya, dia pernah menjadi Queen of Mountain (QoM) pada 2017 lalu.

========================

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

SIANG itu (19/10) di Borobudur Hills, Jamus, Sri Suyamti berselonjor tampak letih. Sepeda road bike hitamnya dia biarkan tersandar di tebing. Keringat Suyamti yang bercucuran membuat tubuhnya mengkilap. Sambil duduk, buru-buru dia mengambil botol berisi air, membuka mulut, lalu meneguknya.

Setelah dahaganya terpenuhi, sesekali dia berbasa-basi dengan cyclist perempuan lainnya. Menceritakan segelintir perjuangannya ketika menanjak ke Borobudur Hills dengan suhu udara 39 derajat Celsius. ‘’Panas sekali tadi, sampai keluar garam semua badan saya,’’ celetuk Suyamti selepas finis.

Awalnya, saat start QoM, Suyamti menanjak bersama para cyclist perempuan lainnya. Namun, bersepeda sejajar itu hanya bertahan hingga 5 kilometer terakhir sebelum finis. Tanpa diduga, pesaingnya mengalami kram. Akibatnya, tidak mampu mengayuh secepat sebelumnya.

Suyamti terus bertahan dan mengayuh dengan kecepatan konstan. Meski napasnya tersengal-sengal, Suyamti pantang menyerah. Warga di pinggir lintasan yang menyaksikan lantas meneriaki Suyamti dan menyemangatinya. Saat itu tinggal 100 meter lagi tersisa dari garis finis. Air muka Suyamti terlihat bahagia saat berhasil menjadi finisher perempuan pertama.

Di garis finis, dia sudah disambut cyclist pria yang sudah lebih dulu tiba. Satu per satu memberi selamat kepada Suyamti. Dalam keikutsertaannya yang ketiga ini, Suyamti bisa lebih paham tentang karakter rute dan tanjakannya. ‘’Alhamdulillah tahun ini dapat emas, event 2017 lalu juga sama,’’ ujar cyclist perempuan kelahiran 20 April 1988 itu.

Suyamti mengaku tidak ada persiapan khusus untuk mengikuti Jamus 100 Km tahun ini. Dia hanya latihan rutin gowes 60–80 km tiga kali seminggu. Serta setiap Senin keliling wilayah Solo dan sekitarnya dengan jarak minimal 100 km. ‘’Seperti namanya Happy Monday, jadi tiap Senin harus keluar keringat lebih banyak, paling capek, rekoso, dan sengsara, plus makannya paling banyak,’’ jelas cyclist Happy Monday itu.

Selain road bike, sebenarnya Suyamti juga gemar mengayuh MTB. Bahkan, pada 2008 lalu, dirinya sempat naik podium kedua dalam ajang PON Kalimantan Timur. Baginya, road bike maupun MTB saat ini sama saja. ‘’Kalau disuruh milih, enak pakai road bike sekarang, karena banyak temannya. Kalau MTB di gunung-gunung ketemunya cuma binatang sama hutan,’’ selorohnya. ****(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close