Mereka Korban atau Pejuang Demokrasi?

50

RadarMadiun.co.id – Ketika sejumlah kalangan bersuka cita, sebagian petugas penyelenggara pemilu celaka dan jatuh sakit karena kelelahan. Bahkan, lima orang di antaranya kehilangan nyawa. Ada pula ibu yang keguguran. Itulah sisi muram Pemilu 2019. Ada yang menganggap pemilu sebagai pesta. Tapi tidak bagi para petugas serta keluarganya. Mereka harus mengucap salam perpisahan kepada orang-orang tersayang.

Belum genap 40 hari, Supin Indarwati, 37, menyusul kepergian sang suami. Warga Desa Pilangrejo, Wungu, Kabupaten Madiun, itu meninggal setelah lima hari tergolek lemas di bangsal RSUD dr Soedono Madiun. Dokter menduga akibat kelelahan, usai bertugas maraton sebagai anggota KPPS di desa setempat.

Kepergian Supin membuat Alfi, 13, anak semata wayangnya menjadi yatim piatu. ‘’Anaknya (Alfi) menangis dan hampir pingsan saat tahu kondisi ibunya memburuk,’’ ujar Mawardi, tetangga yang juga Ketua KPPS di TPS 06, tempat Supin bertugas.

Sejak pemungutan suara 17 April lalu, Supin bekerja hampir 23 jam. Sejak satu jam sebelum pencoblosan hingga rampung penghitungan suara dan pemberkasan formulir C1. Perempuan itu baru kali ini jadi petugas KPPS. ‘’Izin pulang lebih awal. Mungkin karena tidak kuat menahan lelah. Paling melelahkan menyalin plano, start habis magrib dan selesainya hampir subuh,’’ imbuh Mawardi.

Kisah tak kalah tragis terjadi di Pacitan. Eka Setyowati, 26, petugas KPPS di TPS 01, Ketro, Tulakan, sejatinya tengah mengandung anak pertamanya. Sayangnya, akibat kelelahan sebagai petugas KPPS, janinnya yang baru berusia tiga bulan keguguran. ‘’Capek karena seharian di TPS. Ini kenyataan pahit yang harus saya terima,’’ ujar ibu muda tersebut.

Eka tak sendiri. Dua perempuan lainnya di Kabupaten Madiun dan Ngawi juga kehilangan janin di kandungannya tersebab yang sama. Ya, di tengah suka cita pasca-pemungutan suara, banyak pula yang harus bernasib buruk. Jawa Pos Radar Madiun merangkum data pejuang demokrasi yang ‘’tumbang’’ se-Madiun Raya. Total 89 orang tumbang. Lima di antaranya meninggal dunia.

Ketua KPU Pacitan Damhudi menyebut total 38 petugas tumbang di daerahnya. Pun, ada petugas bawaslu setempat yang kecelakaan. ‘’Kami sudah data seluruh petugas yang sakit akibat pemilu. Kami usulkan untuk mendapat santunan bagi yang sakit, cacat, dan meninggal dunia,’’ kata dia.

Biang berbagai kisah muram tersebut adalah kelelahan akibat beban kerja yang berat. Koordinator Public Safety Center (PSC) Pemkab Pacitan Aris Setiawan menyebut separo dari total petugas pemilu kelelahan. ‘’50 persen kelelahan,’’ sebutnya.

Pernyataan Aris senada dengan komentar Syamsul Wathoni, ketua KPU Ngawi, terkait kondisi serupa di wilayahnya. ‘’Kebanyakan sakit setelah hari H. Karena kelelahan dan kurang istirahat,’’ ujarnya.

Apakah kejadian tersebut hal sepele dan dibiarkan begitu saja? Syamsul tak menampik butuh respons untuk mencegah hal serupa terjadi di kemudian hari. Namun, itu jadi kewenangan pemangku kebijakan pemilu di tingkat pusat. ‘’Harapannya ada santunan terhadap para pejuang demokrasi ini. Terlebih, ini juga bukan kejadian pertama. Pemilu 2014 lalu juga seperti ini, sekarang sudah cukup kami antisipasi,’’ pungkasnya. (cor/odi/tif/naz/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here