Bupati Menulis

Merawat Cita-Cita

KETIKA kelas empat SDN Maospati, oleh guru saya setiap anak diminta maju ke depan untuk menceritakan apa yang menjadi cita-citanya. Tentu sebagai anak yang ketika itu sangat terbatas pengetahuannya, cita-cita yang diutarakan apa yang diketahui. Dan yang diutarakan pada dasarnya adalah apa yang dilihat sehari-hari. Karena kalau saya perhatikan apa yang menjadi cita-cita teman-teman saya seputar profesi yang dilihat di sekitarnya.

Saya sendiri ketika maju ke depan, saya masih ingat betul yang saya ceritakan di depan kelas bahwa saya mempunyai cita-cita sebagai masinis kereta api. Mengapa saya bercita-cita menjadi masinis? Karena seringkali naik kereta api dari stasiun Magetan (dulu stasiun Barat) ke stasiun Paron (sekarang Ngawi) diajak menengok budhe saya yang tinggal di Paron.

Ketika itu saya melihat betapa kerennya masinis kereta api yang bisa menjalankan kereta api uap berwarna hitam kelam dan kelihatan rumit sekali ketika menjalankannya. Tentu diperlukan keahlian khusus. Selain itu, pekerjaannya bepergian kemana-mana. Betapa indahnya bisa melihat berbagai kota tidak perlu membayar. Malahan dibayar oleh perusahaan kereta api yang menaunginya.

Demikian juga teman-teman saya yang lain ketika maju ke depan ada yang ingin jadi tentara. Dan cita-cita menjadi tentara ini yang paling banyak. Wajar karena di Maospati ada Lanud Iswahjudi yang ketika saya masih kecil banyak tinggal di kompleks. Dan kompleks militer ketika itu jauh lebih bagus dibandingkan rumah penduduk yang lantainya rata-rata masih dari tanah. Tentu juga ada yang kelak ingin menjadi guru, ASN, dan lain-lain.

Sayangnya setelah semua menyampaikan cita-citanya, tidak ada tindak lanjut dari guru saya maupun sekolah untuk mengarahkannya. Cita-cita yang telah disampaikan oleh semua teman-teman saya waktu itu sekadar menyampaikannya. Kemudian hilang tiada berbekas begitu saja. Sebenarnya tidak demikian yang menyampaikan. Sampai sekarang saja saya masih ingat apa yang saya katakan waktu itu. Juga malahan ada yang mendapat alok-olok dari teman-teman saya ketika beberapa teman-teman menyampaikan cita-citanya. Karena dianggap apa yang disampaikan seperti sesuatu yang tidak mungkin dicapai.

Ketika saya lulus sekolah dasar, mau meneruskan kemana juga tidak tahu. Kemudian wajar kalau kemudian hanya ikut teman-teman saya. Kebetulan teman-teman saya ketika itu banyak yang mau meneruskan ke sekolah teknik (ST). Saya kemudian juga berminat untuk ikut saja mau mendaftar ke sekolah teknik tersebut.

Kebetulan sebelum mendaftar, saya bertemu dengan saudara saya yang sekolah di SMA kelas tiga. Dari beliau saya mendapat pencerahan. Ke depan mau jadi apa. Apa cita-cita saya. Setelah saya mendapat penjelasan dari saudara tersebut, menjadi lebih terbuka cara berpikir saya. Supaya masuk SMP dulu saja. Kalau nanti lulus SMP bisa masuk ke STM atau ke SMA. Setelah lulus SLTA ketika meneruskan kuliah di perguruan tinggi bisa memilih jurusan apa saja yang sesuai dengan cita-citanya.

Akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan ke SMPN Maospati. Ketika saya memutuskan untuk masuk ke SMP tersebut, tanpa campur tangan kedua orang tua saya. Karena orang tua saya lulusan sekolah rakyat dan mungkin pandangannya kurang luas, sehingga tidak mengarahkan putranya. Mau masuk sekolah dimana diserahkan saya sepenuhnya.

Orang tua saya masih bersedia menunggui saya belajar setiap malam ketika saya sampai di kelas dua SD. Ketika saya sudah kelas tiga dan pelajaran mulai rumit, orang tua saya sudah tidak lagi bisa mendampingi saya ketika belajar. Sehingga ketika saya menemui kesulitan dalam pelajaran yang tidak saya ketahui harus bertanya kepada saudara saya yang sekolahnya lebih tinggi tadi. Apalagi ketika saya sudah SMP dan pelajaran lebih banyak dan kompleks, sekolah saya betul-betul diserahkan pada kesadaran saya sendiri.

Demikian juga ketika saya kemudian lulus SMA, orang tua sama sekali tidak mengarahkan saya harus kuliah kemana dan jurusan apa. Semua lagi-lagi diserahkan kepada saya sendiri. Untungnya saya bertemu lagi dengan orang-orang baik yang kemudian membuka wawasan dan cakrawala berpikir saya. Bagimana saya harus menentukan pilihan, disesuaikan dengan kemampuan dan minat saya apa. Semua diajari bagaimana cara menghitung kemungkinan-kemungkinannya.

Pengalaman hidup saya tersebut paling tidak jangan sampai menimpa anak-anak maupun keluarga saya. Karena itu, waktu anak-anak saya masih SD, saya sudah langganan berbagai media cetak. Seperti koran. Juga majalah yang mencerdaskan. Sengaja saya pilih agar anak-anak saya minimal mau membacanya. Karena waktu itu belum ada internet.

Semua anak saya ketika lulus SD dan SMP saya tanya akan menjadi apa. Anak saya yang pertama, sejak SD saya tanya mau jadi apa cita-citanya, jawabannya tetap konsisten ingin menjadi dokter anak. Demikian juga waktu lulus SMP dan juga SMA tetap konsisten. Oleh sebab itu saya marawatnya dengan cara menjaga konsistensi pelajaran dan juga pelajaran tambahan sebagai penunjangnya.

Berbeda dengan adiknya nomor dua. Waktu lulus SD dan SMP ingin mengikuti jejak kakaknya menjadi dokter. Namun, setelah lulus SMA dan berdiskusi dengan kakaknya, cita-citanya berubah ingin menjadi ahli keuangan. Tentu kamudian saya ikut mengarahkan dan diskusi dengannya, perguruan tinggi mana yang harus dipilih. Kemudian setelah lulus S-1 perguruan tinggi luar negeri mana yang harus dituju untuk meneruskan masternya bahkan kemungkinan S-3-nya. Serta bagaimana cara mencari beasiswa. Karena tidak mungkin orang tua bisa membiayai pendidikan di luar negeri yang cukup mahal tersebut.

Demikian juga ketika anak saya yang ketiga laki-laki. Ketika lulus SMP dan kemudian kelas satu SMA sudah menyampaikan kepada saya ingin menjadi pilot komersial. Saya kemudian memberi wawasan kepada anak saya apa yang mesti dilakukan mulai sekarang. Pelajaran apa yang mesti lebih dikusai, selain tentu fisik yang harus tetap dijaga.

Apa yang saya alami tersebut, kemudian dipatik oleh teman saya (adik kelas waktu SMA)  yang kebetulan ahli bidang pendidikan. Kebetulan teman saya yang ahli pendidikan tersebut mengajukan gagasan program bagaimana merawat cita-cita anak-anak. Tentu program yang baik dan telah saya alami sendiri tersebut langsung saya tangkap. Dan saya coba implementasikan dalam pendidikan nantinya di Magetan. Karena saya juga yakin tidak semua orang tua paham akan dunia pendidikan sesuai dengan cita-cita anak-anaknya.

Tanggal 5 September 2020 kemarin kebetulan HUT ke-74 SMPN 1 Magetan. Sekolah menengah negeri tertua setelah RI berdiri ini, tentu sudah sangat banyak makan asam garam pengalaman. Oleh sebab itu, di hadapan semua yang hadir maupun yang mengikuti secara virtual, gagasan itu saya sampaikan. Agar setiap sekolah SMPN Magetan mempunyai program “merawat cita-cta.” Sejak awal anak-anak diminta menyampaikan apa cita-citanya kelak. Kemudian sekolah (dalam hal ini guru BP) dapat melakukan kompilasi, siapa yang mau jadi insinyur, ahli pertanian, guru/dosen, tenaga kesehatan/dokter, TNI, dan sebagainya. Sejak dini diikuti dan diarahkan. Saya yakin akan baik bagi anak kelak. Pendidikan baik intra maupun ekstra diselaraskan.

Karena pendidikan lanjutan nanti baik SMA/SMK bukan lagi kewenangan kabupaten. Tentu pembinaan kelanjutan merawat cita-cita tersebut dapat disampaikan kepada sekolah yang lebih tinggi untuk dilanjutkan. Perlu kesinambungan program ini. Mudah-mudahan program ini nantinya bisa berjalan. Hasilnya memang tidak bisa instan. Memerlukan waktu, itu sudah tentu. Bahkan puluhan tahun baru terlihat hasilnya, ketika anak-anak yang kita rawat cita-citanya berhasil kelak. Namun, menurut hemat saya harus dimulai. Walaupun itu akan lama hasilnya. Namun, kalau kita tidak mulai, kapan lagi. Kalau tidak kita, siapa lagi. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close