Menulis Bekerja untuk Keabadian

34

DALAM beberapa kali petemuan saya sering menanyakan kepada peserta, siapa nama dari nenek dan kakeknya. Biasanya masih bisa menjawab dengan tepat. Tetapi begitu saya tanyakan nama saudara kakek dan neneknya. Sebaliknya hampir sembilan puluh persen tidak bisa menjawab. Di daerah perkotaan lebih parah. Sama sekali tidak bisa menjawab, siapa saudara kakek dan neneknya tersebut.

Pertanyaan, mengapa bisa demikian. Salah satu sebabnya, karena kakek-nenek kita tidak biasa menulis. Sebenarnya kalau bisa menulis bisa dibaca oleh anak dan cucunya. Wajar kemudian dilupakan jika tidak ada catatan selembar pun. Dan kita semua pembaca harian ini harus siap-siap nantinya akan dilupakan oleh cucu-cucu kelak. Karena kita tidak biasa menulis atau mencatat.

Nenek moyang kita sebenarnya sudah mengajarkan kepada kita semua. Ketika teknologi alat mencatat belum berkembang seperti sekarang ini, nenek moyang kita menulis di batu. Kemudian dikenal dengan prasasti. Demikian ketika kemudian ditemukan teknologi yang lebih maju. Menulis di daun lontar. Bayangkan kalau nenek moyang kita tidak menulis di batu dan lontar. Maka sejarah Mulawarwan, Tarumanegara, Syailendra, Singosari, Majapahit, Mataram tidak akan kita ketahui.

Adanya prasasti Kutai maka kemudian diketahui bahwa di Kalimantan Timur dulu ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman. Adanya prasasti Ciaruteun dan lainnya bukti kejayaan kerajaan Tarumanegara. Demikian juga prasasti dan catatan lontar yang lainnya. Di bidang agama, tentu kita dari berbagai agama tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada tulisan kitab suci masing-masing yang kemudian kita semua dapat membaca, mempejari dan mengamalkannya.

Dua kali saya mengunjungi negara Uzbekistan. Sebuah negara di Asia Tengah. Di negara tersebut lahir ahli hadis yang termasyur Imam Bukhari yang lahir di kota Bukhara dan wafat dan dimakamkan di kota Samarkand. Karena saya tamu negara untuk memantau pemilihan presiden dan kunjungan bilateral waktu itu, difasilitasi untuk ziarah di makam Imam Bukhari. Di dalam pusara tersebut kemudian saya merenung karena Imam Bukhari kita bisa membaca hadis-hadis riwayat beliau.

Walupun saya sudah lama senang menulis, karena ziarah ke makam Imakam Bukhari tersebut semakin membulatkan tekad saya untuk terus menulis sesibuk apapun. Pada masa itu alat tulis terbatas. Alat komunikasi juga terbatas bisa menghasilkan karya demikian hebat. Mengapa di era sekarang ini, semua alat dan media sangat mudah dan canggih orang tidak bisa menghasilkan karya yang lebih hebat.

Kemudian ketika saya mulai tertarik dan intens menulis, karena kagum kepada tulisan Anton Tabah yang sering menghiasi artikel opini di harian bergengsi ibu kota. Tulisan Anton Tabah selalu mengambil tema tentang kepolisian. Karena memang Anton Tabah adalah seorang polisi. Yang menarik, bahwa tulisan Anton Tabah selalu membela polisi, namun dalam pembelaan tersebut terasa enak dibaca dan sangat rasional pembelaannya.

Anton Tabah sebenarnya bukan perwira polisi dari didikan akademi kepolisian. Yang bersangkutan adalah polisi dari wajib sarjana. Namun berkat tulisan tersebut gagasannya, tentunya pasti dibaca oleh petinggi kepolisian. Menurut hemat saya, Anton Tabah adalah salah satu sedikit perwira polisi yang bisa menjadi kapolres di sebuah kota di Jateng yang bukan dari akademi kepolisian di era Orde Baru. Dan saya yakin Anton Tabah menjadi kapolres bukan dari akademi kepolisian karena pengaruh tulisannya yang demikian mencerahkan.

Kemudian contoh di atas mungkin bisa mengingatkan kita. Apalagi yang profesinya mengharuskan untuk menulis. Seperti kepala sekolah. Namun mengapa kepala sekolah tidak mencontoh pengalaman tersebut. Apalagi adalah sebuah keharusan seorang kepala sekolah menulis. Kepala sekolah itu sebenarnya adalah guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah.

Seorang guru diharuskan menulis dalam memenuhi angka kredit untuk naik pangkat dan pemenuhan kewajiban lainnya. Menulis adalah unsur utama dalam pemenuhan angka kredit. Itu kalau dalam rangka pemenuhan kewajiban.

Menulis juga dapat mempengaruhi pengambil kebijakan. Bayangkan kalau seorang kepala sekolah (kepsek) berniat menuangkan ide perubahan dalam pendidikan, pasti akan menghadapi tembok penghalang. Bisa dari teman sejawat juga birokrasi. Namun gagasan yang disampaikan dalam bentuk tulisan, apalagi dimuat di media massa mainstream seperti koran harian pasti akan dibaca kaum intelektual yang seringkali akan mempengaruhi pembuat kebijakan.

Demikian juga profesi yang lain walaupun tidak mengharuskan menulis. Seperti profesi kepala desa (kades). Sebenarnya banyak mempunyai kesempatan menyampaikan gagasannya dalam tulisan. Tulisan tidak harus berat. Bisa bermacam bentuk tulisan. Atau malah bisa saja potensi desanya. Atau menyoroti kebijakan pemerintah yang menyangkut desa. Karena apa? Yang merasakan dan melakukan eksekusi sebuah kebijakan yang menyangkut desa adalah kepala desa. Demikian juga pejabat. Sangat terbuka luas untuk menuliskan gagasannya.

Apalagi di tengah perkembangan media sosial yang demikian marak ini, media mainstream seperti koran yang cara penulisannya demikian ketat. Seperti standar penulisan diatur dalam kode etik dan aturan lainnya. Tentu saat ini, suka tidak suka masih dijadikan rujukan kebenaran. Mengapa kesempatan ini tidak digunakan oleh guru, kepala desa, pejabat untuk menyampaikan  gagasannya. Sehingga dapat dibaca oleh masyarakat luas dan juga pembuat kebijakan.

Kita tahu semua bahwa begitu pentingnya menulis. Namun sangat sedikit sekali yang kemudian melakukannya. Ada beberapa alasan mengapa sebagaian besar orang enggan melakukannya. Alasan pertama menulis itu sulit. Apa betul menulis itu sulit. Malahan menurut Arswendo Atmowiloto seorang pengarang menyatakan “menulis itu gampang”. Begitu judul buku yang ditulisnya yang pernah saya baca. Ketika saya mencoba belajar menulis.

Kemudian Pak Dahlan Iskan dalam sebuah diskusi yang pernah saya ikuti menyatakan, bahwa menulis itu seperti belajar naik sepeda. Pertama belajar naik sepeda itu ya akan terlihat kaku. Sering terjatuh dan masuk parit. Itu sudah biasa. Orang yang melihat akan tertawa. Namun ketika kita sudah biasa karena belajar itu tadi kemudian menjadi lancar. Bahkan ketika sudah lancar berani “cul stang” dalam bahasa Jawa.

Demikian juga dalam dunia tulis menulis. Tidak akan ada artinya kita belajar menulis dengan terus membaca buku dan terus berteori. Tidak akan bisa. Kecuali kita harus belajar praktik menulis. Pokoknya ya tulis saja apa yang ada di pikiran kita. Tentu seperti belajar sepeda tadi. Tulisan kita awalnya akan terasa kaku. Lama-lama akan terbiasa.

Ibu Kartini (1879-1904) itu hebat karena tulisan. Oleh sebab itu kemudian dikenang sepanjang sejarah, karena gagasan yang dibukukan. Demikian juga William Shakespeare yang menulis roman antara 1591-1595 Romeo and Juliet sampai dengan sekarang namanya tetap dikenang karena tulisannya. Tidak salah kemudian ada sebuah kalimat bijak dari sastrawan kondang Pramoedya Ananta Toer,” Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah,  Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”  Oleh sebab itu, sekarang mari kita menulis. (*/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here