Menristekdikti: Bersama Sambut Era Disrupsi Inovasi

63

MADIUN – Era revolusi industri 4.0 menjadi tantangan sekaligus peluang. Khususnya bagi dunia pendidikan vokasi. Sebagai perguruan tinggi negeri satu-satunya di Kota Karismatik, Politeknik Negeri Madiun (PNM) berfokus  menyambut era disrupsi inovasi. ’’Perguruan tinggi harus melakukan perubahan sistem pembelajaran dan perubahan kualitas, sehingga interaksi dosen dengan mahasiswa tidak one way traffic saja,”  kata Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir usai mengisi kuliah umum di PNM kemarin.

Sebagai penyedia pendidikan vokasi, tantangan kerja sama dengan industri sudah dijawab dengan baik oleh PNM. Ini dibuktikan dengan ditekennya memorandum of understanding (MoU) dengan PT INKA (Persero) pada 8 Juni 2018 lalu. Langkah itu selaras dengan diresmikannya prodi Diploma IV Perkeretaapian. Nasir menjaskan, hal ini bisa menjadi embrio tercetusnya kerja sama yang lain. Bahkan, politeknik menjadi pilihan pertama untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM). ’’PNM menjadi salah satu perguruan tinggi yang punya performa bagus dalam kerja sama industri. Tidak perlu menunggu lama untuk bisa menjadi perguruan tinggi yang baik,’’ ujar Nasir.

Kata dia, PNM bisa berkolaborasi dengan industri itu adalah hal bagus. Kebetulan kereta api ini terpusat di Madiun mulai industrinya sampai pendidikan. ’’Lulusan PNM bisa jadi cikal bakal SDM perkeretaapian di Indonesia,” tuturnya.

Nasir menyebut, politeknik harus menjadi program nasional percepatan kebutuhan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. Para lulusan bakal dibekali sertifikat kompetensi. Juga progam magang industri akan dilakukan selama satu semester. Ini dilakukan sesuai prioritas saran pengusaha industri kepada perguruan tinggi. ’’Seperti PNM ini, semua lulusannya memiliki sertifikasi kompetensi,’’ ungkap Nasir.

’’Jumlah dosen 50 persen dari kalangan industri. Ini sudah mutlak sesuai kebutuhan riil. PNM sudah melakukannya di program D-4 Perkeretaapian dengan melibatkan tenaga pendidik dari PT INKA,’’ imbuhnya.

Menghadapi revolusi industri 4.0, Nasir mengatakan perlu paradigma baru dalam pendidikan. Mahasiswa harus dididik dengan mengikuti apa yang dilakukan industri. Pendidikan vokasi berbasis  kompetensi yang link and match dengan industri inilah yang dianggap mampu menjawab tantangan tersebut. Sehingga para dosen harus meningkatkan pemahaman dalam literasi dan informasi yang diberikan. ’’Dengan era transformasi digital ini, mengakibatkan perubahan struktur pasar kerja. Tenaga kerja yang kurang terampil bisa terancam, jadi butuh lulusan perguruan tinggi siap kerja pada posisi pekerjaan baru, dilengkapi berbagai sertifikat kompetensi,” terangnya.

Dalam kuliah umum yang diikuti 144 audiensi kemarin, Nasir berharap PNM memiliki strategi menghadapi era industri 4.0 dengan reorientasi kurikulum. Seperti, pengembangan literasi baru, ekstrakurikuler, kompetensi entrepreneurial, serta mendorong student mobility dan magang. ’’Penting juga mendukung reskilling dan upskilling dalam proses pembelajaran. Jadi, lulusan PNM mampu fleksibel dan adaptif terhadap perubahan pasar kerja,” ucapnya.

Direktur PNM M. Fajar Subkhan menuturkan, perkembangan kampus yang dipimpinnya cukuplah pesat. Terbukti dari meningkatnya jumlah pendaftar dari tahun ke tahun. Pada 2018 misalnya, ada sebanyak 3.314 pendaftar seleksi. Padahal, PNM hanya memiliki daya tampung 670 mahasiswa. Pun, peminat dari luar kota semakin banyak. Setidaknya 24 mahasiswa dari 44 mahasiswa prodi D-4 Perkeretaapian berasal dari luar. Fajar menyebut, PNM memiliki target 5.000 mahasiswa ke depannya. Berbagai penandatanganan MoU juga sudah dilakukan untuk meningkatkan kualitas lulusannya. ’’Tahun ini kami akan riset mengenai kereta api. Kalau mengenai pembangunan, tahun ini kami juga sudah diverifikasi terkait pembangunan kampus 2 di Winongo,’’ ujar Fajar. (dya/c1/ota/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here