Menjadi Kota Sepeda, Mungkinkah!!!

45

DULU ketika saya masih sekolah, kalau berangkat ke Magetan dari Maospati naik sepeda. Suatu hal biasa. Demikian juga teman-teman saya yang sekolah ke Madiun dilaju dari Maospati dan sekitarnya dengan naik sepeda setiap hari. Demikian juga anak sekolah SMP sudah umum naik sepeda kalau ke sekolah.

Di dalam kepentingan rumah tangga juga sepeda memegang peranan penting untuk mobilitas. Demikian juga menjadi sebuah hal biasa kalau bepergian. Kalau ke Madiun, Ngawi, Ponorogo dari Maospati biasanya naik sepeda. Tidak pernah ada pertanyaan naik apa pergi ke kota tersebut. Semua sudah tahu, pasti naik sepeda. Malahan di desa saya, sudah biasa orang-orang jualan sampai pasar Dolopo naik sepeda. Dengan bawaan setiap hari yang demikian berat di bocengannya.

Kemarin hari Jumat di halaman harian ini Mas Ockta Prana (Pemred Radar Madiun) menulis Filosofi Bersepeda. Ada peristiwa yang tidak biasa. Kepindahan anggota DPRD Kota Madiun dari kantor lama ke kantor baru, dimeriahkan dengan bersepeda. Para cyclist dari berbegai komunitas kompak mengenakan jersey. Dalam tulisan tersebut bersepeda secara filosofi mengajarkan kejujuran, pantang menyerah.

Ada perbedaan mendasar antara bersepeda zaman saya masih remaja dengan bersepeda di era sekarang ini. Kalau dulu bersepeda itu fungsional sebagai sebuah kebutuhan alat transportasi. Karena sepeda diciptakan waktu itu tentu sebagai pemecahan alat transportasi yang murah dan sesuai teknologi waktu itu.

Namun dalam perkembangannya sepeda di Indonesia saat ini nampaknya sudah bukan alat transportasi fungsional lagi. Akan tetapi lebih pada hobi, gaya hidup. Anak sekolah walaupun di desa, saat ini banyak diantar oleh bapak ibunya naik sepeda motor. Demikian juga anak SMP tidak banyak yang naik sepeda. Tempat sepeda saja seperti jaman sekolah dulu, sudah tidak ada lagi. Walupun anak seusia SMP belum boleh naik sepeda. Namun kenyataan banyak yang ke sekolah tidak ada yang naik sepeda. Apalagi anak SMA hampir tidak pernah melihat kalau ke sekolah naik sepeda.

Dulu waktu saya kuliah di fakultas sospol UGM Yogyakarta, sekitar tahun 1977-1982 juga naik sepeda. Sampai dengan lulus. Satu angkatan saya di jurusan, yang naik sepeda motor hanya dua orang. Semua hampir naik sepeda. Di belakang fakultas ada tempat khusus sepeda. Hanya satu dua yang sepeda motor yang parkir di tempat parkir. Hampir semua naik sepeda. Mobil saja yang parkir di depan fakultas juga hanya beberapa saja. Dosen yang punya mobil tidak lebih dari tiga orang. Mobil yang lain adalah mobil fakultas. Demikian juga perguruan tinggi yang lain,  kondisinya hampir sama. Semua mahasiswa banyak naik sepeda.

Di Jogjakarta, yang kerja, pedagang dan lainnya juga naik sepeda. Kalau pagi hari jalan masuk kota maupun dalam kota penuh dengan sepeda. Tidak heran, Jogjakarta saat itu selain dikenal sebagai kota pelajar juga kota sepeda. Namun semua bergeser. Ketika mobil Jepang mulai masuk dan marak di Indonesia semua seperti berbalik. Pada menjelang saya lulus tahun 1982 mahasiswa sudah mulai banyak yang naik kendaraan kampus. Yang pada waktu itu dikenal dengan colt kampus. Colt campus rutenya mengelilingi kota Jogjakarta dan masuk kampus. Mulai saat itu sepeda mulai terpinggirkan.

Jogjakarta tidak lagi menjadi kota sepeda. Tergantikan dengan kendaraan bermotor. Malahan sekarang sudah menjadi macet dimana-mana. Mulai dari Solo ke Jogjakarta utamanya di hari libur atau weekend pasti jalan minimal tersendat. Mengapa dulu, sebelum kendaraan bermotor marak tidak membangun budaya bersepeda dan membangun transpotasi publik yang andal.

Dulu selain sepeda, transportasi publik menjadi andalan. Sehingga masyarakat magetan, Ngawi, Ponorogo kalau ke Madiun atau sebaliknya yang punya naik trasnportasi publik . Dengan relatif lebih murahnya kendaraan bermotor buatan Jepang, juga murahnya harga BBM karena disubsidi menjadikan masyarakat meninggalkan transportasi publik yang sifatnya masal. Kita masih ingat, dulu kereta api Madiun-Ponorogo-Slaung saja ada. Yang jalannya membelah kota Madiun. Sekarang tinggal cerita.

Adanya subsidi BBM ini kok jadi ingat John Perkins dalam bukunya Confessions of An Economic Hit Man kemudian diterjemahkan dengan judul Pengakuan Bandit Ekonomi.

Dalam bukunya tersebut bagaimana pengakuan John Perkins mempengaruhi kebijakan ekonomi utamanya di berbagai negara khususnya Indonesia. Pada era Orde Baru dikupas, bagaimana rezim waktu itu dalam pembuatan kebijakan sangat dipengaruhi dengan suap, wanita dll. Jangan-jangan kebijakan subsidi BBM juga termasuk pengaruh John Perkins.

Yang kemudian kalau boleh diistilahkan membakar BBM sia-sia dan akibatnya menghilangkan transportasi publik. Uang rakyat digunakan untuk subsidi BBM dan sebagian besar menikmati orang mampu. Kereta yang menghubungkan kota-kota kabupaten di Jawa beberapa malahan mati. Bis kota dan tarnsportasi publik berangsur redup. Tergantikan kendaraan bermotor. Apalagi budaya bersepeda. Seperti hilang begitu saja.

Kebetulan anak saya yang pertama dokter, setelah lulus dari FKUI langsung dapat bea siswa mengambil master kesehatan di Twente University Belanda di kota Enschende. Sebuah kota relatif kecil di Belanda yang berbatasan dengan Jerman. Dan anak saya ke dua, setelah lulus dari fakultas ekonomi bisnis jurusan akuntansi Unair kemudian dapat beasiswa mengambil master accounting di VU Amsterdam University. Boleh dikatakan, kemudian saya sering ke Belanda. Belum kalau kegiatan dinas. Di situlah saya melihat, bagaimana badaya bersepeda masyarakat Belanda demikian luar biasa.

Sudah biasa. Di manapun, baik kota sampai perdesaan budaya bersepada sudah mendarah daging. Tua, muda, kaya, miskin, pejabat maupun masyarakat kemana-mana bersepeda. Di stasiun, kampus, kota pasti banyak tempat sepeda. Apalagi di stasiun yang namanya sepeda di tempat parkir sepeda jumlah puluhan ribu. Tidak heran kalau penduduk Belanda sekitar 17 juta masih kalah banyak dengan sepeda. Jumlah sepeda di Belanda lebih dari 22 juta.

Dan yang membedakan orang kaya dan biasa di Belanda bukan kendaraannya. Tapi jumlah uang di rekeningnya. Kebalikan di Indonesia. Apa tongkrongannya.

Saya mencoba ke kampus anak saya naik sepeda sambal keliling kota. Baik yang di Enschede maupun Amsterdam. Sangat nyaman. Karena diberikan jalan khusus. Kalau mau menyeberang, pejalan kaki mendapat prioritas utama. Dan kemudian orang yang bersepeda mendapat prioritas selanjutnya. Mobil dan motor akan mengalah. Itu tidak terjadi di Indonesia. Di Jakarta saja ketika saya berjalan di trotoar yang mestinya untuk pejalan kaki harus kalah dengan sepeda motor.

Oleh sebab itu pejalan kaki, sepeda harus mengalah dengan kendaraan bermotor. Malahan jalan khusus sepeda saja tidak ada. Apakah kita bisa menjadikan kota dan kota kabupaten eks Karesidenan Madiun menjadi kota sepeda. Jawaban tentu akan berbeda. Bagi yang optimistis pasti bisa. Asal aturan, fasilitas, gerakan akan kesadaran dikampanyekan. Bagi yang pesimistis pasti akan mengatakan tidak mungkin. Dengan berbagai alasannya. Sebuah pilihan. Bukankah keberhasilan itu dimulai dari optimistis!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here