Menikmati Alam Ponorogo yang Memesona dari Atas Sadel Sepeda (3-Habis)

39
NEGERI ATAS LANGIT: Suwadi Haliman, Sugiono, dan Hari Nanung saat berfoto di salah satu bukit Baosanlor, Ngrayun. Dari bukit ini, kita bisa menikmati indahnya lembah, ngarai, dan lambaian pohon pinus.

Dua jam lamanya kami merasakan kedamaian Desa Binade. Ya alamnya, ya makanannya. Sampai ketiduran segala. Komplit pokoknya. Sekarang waktunya pulang. Pulang ke Madiun lewat rute yang ternyata bikin kepala makin klemun-klemun.

—————————–

TIDAK terasa, hampir seperempat jam kami memejamkan mata. Perut kenyang dan semilir angin turut membius kesadaran kami. Yang jelas, ini akibat kelelahan amat sangat. Maklum, tanjakan sepanjang rute – yang kami lalui – cukup menguras tenaga. ’’Ayo bangun-bangun. Masih ada tanggungan perjalanan pulang,’’ kata Suwadi Haliman.

Meski mata masih berat, tidak ada pilihan selain bangun. Molet dulu ahhh…. Dari samping teras, Pujiono hanya mesam-mesem. Melihat kami yang aras-arasen bangun. Maklum, penat belum juga terusir. Pegal-pegal di kedua paha masih terasa. Pujiono menghampiri kami. Dia mempersilakan kami untuk melaksanakan salat Duhur. ’’Silakan dijamak saja. Sekalian. Biar nanti tenang saat bersepeda balik ke Madiunnya,’’ katanya.

Matahari sudah mulai menggelincir beberapa derajat ke Barat. Saya perhatikan jam di handphone menunjuk pukul 14.00. Tanpa babibu kami bergantian mengambil air wudlu. Sarung yang disediakan tuan rumah lumayan bisa dibuat gantian untuk melaksanakan salat. Disaat menunggu gantian salat, mata kami kembali tertuju  ke arah sajian jajanan di atas tikar. Kali ini, saya memilih donat raksasa. Makan satu saja langsung nendang ke perut. Wareg.

Sementara teman-teman lainnya milih menjarah buah naga. Suwadi Haliman – yang paling care dengan perjalanan ini – dengan sigap menyambar buah berwarna ungu tersebut. Iris tengah buahnya, kelupas kulitnya, buahnya bisa langsung dimakan. Mak glender. Sederhana sekali cara makan buah satu ini. Setelah habis dua buah, Suwadi baru menyerah. ’’Manis sekali buahnya. Ini yang langsung bikin saya kenyang, pak,’’ kata cyclist yang sudah belasan tahun menggeluti dunia gowes-menggowes.

Selepas salat, Pujiono kembali memandu kami. Kalau ingin cepat sampai Madiun, dia menyarankan untuk mengambil rute lewat Slahung. Belum selesai pengusaha donat ini menjelaskan, Hari Nanung menyela. ‘’Tanjakannya bagaimana mas?,’’ tanyanya.

Mendengar pertanyaan itu, Pujiono lagi-lagi mesem. Dia terlihat berusaha membesarnya nyali kami yang sudah mulai tipis. ‘’Tanjakannya tidak setinggi saat masuk Binade, pak. Saya yakin bapak-bapak mampu melewati. Agar tidak kesasar-sasar, nanti saya pandu,’’ kata Pujiono yang langsung menuju motor yang terparkir di samping rumah.

Sebelum meninggalkan rumah Pujiono, saya perhatikan sekelilingnya. Saya hanya membatin, ternyata berpunya juga pengusaha donat ini. Selain memiliki dua motor, di garasi terparkir sebuah mobil “sejuta umat” Toyota Avansa warna abu-abu. Saat melihat ruang tamunya tadi, sebuah televisi ukuran home theater dan satu set mebel ukuran mewah menghiasi ruang kumpul keluarganya. Saat saya perhatikan lebih detail lagi, ternyata rumah tersebut dua lantai. Alamak, meski rumah di atas gunung, asal kerjanya sepenuh hati, ternyata bisa sejahtera.

Disaat saya asyik klewas-klewes, Pujiono mengagetkan saya lewat deruman motornya. Kali ini dia mengajak anak-istrinya saat memandu kami pulang. Kami betul-betul diperlakukan tidak seperti jelangkung. Buktinya, kami datang karena diundang. Kami pulang pun, diantar. Setelah melewati jalan kampung berbeton, sampailah kami di pusat desa. Jalan ganti beraspal saat masuk dusun Krajan, Binade. Matahari menyambut kami. Pelan tapi pasti, panasnya mulai menyengat.

Kami berusaha hepi. Tapi baru gowes 2 kilometer, welcome drink alias tanjakan ”nekek gulu” sudah harus kami tenggak. Lumayan, panjang juga tanjakannya. Menggos-menggos lagi. Padahal, harapan kami saatnya tinggal menurun jalan menuju pulang. Sebab, selama ini yang kami lalui, berangkatnya naik pulangnya pasti turun. Ini malah makin menyiksa jalan pulang. Di sepanjang jalan raya Mrayan, Ngrayun, tanjakannya tiada habis-habis. Untuk mengusir panas dan tinggina tanjakan, lambaian pohon pinus menjadi hiburan sementara.

Disaat kami bersusah payah menapaki setiap tanjakan, Pujiono malah memilih ngibrit duluan. Menurutnya, kalau belum ketemu dia, artinya kami disuruh berjalan lurus saja. Dan perintah itu harus kami laksanakan. Semakin kami mengeluh, semakin lama pula kami sampai tiba ditujuan. Memasuki kilometer 8, persisnya saat masuk desa Mrayan, hati kami berbunga-bunga. Sebab, sebuah gapura besar batas desa Binade terlihat di depan. ‘’Lha gapura batas desa sudah kelihatan. Artinya jalan raya sudah dekat ya mas Pujiono,’’ tanya saya.

Mendengar pertanyaan ini, untuk kali kesekian pengusaha donat ini kembali tersenyum. Untuk menghibur, akhirnya Pujiono mengabadikan kami berfoto di depan gapura batas desa Binade dengan desa Mrayan, Ngrayun. Di sepanjang desa Mrayan, jalan lebih didominasi flat. Dalam batin, lumayan lah untuk menghimpun tenaga. Hanya dalam waktu singkat, kami sudah masuk desa Baosanlor. Begitu ada lokasi yang cocok untuk spot foto, saya lantas mengabadikan tiga cyclist teman sejalan. Berlatar bukit yang cantik, rasanya saya berada di atas awan. Setelah sekali-dua kali jepretan, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Begitu sampai di pertigaan Baosanlor, persisnya di depan warung pertigaan Bonkandang, Pujiono melepas kami. ’’Pokoknya lurus ikuti jalan ini saja. Kalau sampai Pasar Slahung, berarti bapak-bapak tidak keliru jalannya,’’ kata Pujiono sambil mengulurkan tangannya sebagai tanda terima kasih sudah didolani.

Usai berpamitan, kami langsung tancap gas. Begitu masuk kawasan desa Tengger, Slahung jalan terus menurun. Puncaknya sesampai di dusun Gembes, kami benar-benar gembes. Ban sepedanya kah yang gembes? Wow bukan. Saking curam turunannya. ‘’Baru kali ini turunan dituntun. Biasanya itu kalau gak kuat nanjak, saya baru nuntun,’’ kata Sugiyono ngakak. Hampir 200 meteran, kami nuntun berjamaah. Setelah dirasa aman, akhirnya kami kembali menggowes. Sekitar 20 menit kemudian, sampailah di Pasar Slahung. Begitu sampai pasar ini, kayuhan kami tambahi kecepatannya. Targetnya agar sampai Madiun tidak gelap. Akhirnya tepat pukul 16.30, roda depan sepada kami sampai di depan halaman kantor Radar Madiun di kawasan Jalan D.I Panjaitan. Terima kasih Ngrayun, terima kasih Slahung. Tanjakanmu yang aduhai akan selalu kami rindukan. (*)

*) Aris Sudanang

    Direktur Radar Madiun

    Beralamat di arissudanang@yahoo.co.id 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here