Menikmati Alam Ponorogo yang Memesona dari Atas Sadel Sepeda (2)

50
MTB JUGA OKE: Kawasan Desa Binade, Kecamatan Ngrayun lebat oleh hutan pinus. Kawasan ini juga menjadi daya tarik goweser untuk ber-mountine bike (MTB) ria. Sudah banyak komunitas MTB yang memanfaatkan keganasan tanjakan Desa Binade.

Lambaian daun pinus desa Binade seolah mengucap selamat datang. Suasana itu yang tidak ditemui di kota. Anda tidak percaya? Cobalah pelesir ke Kampung Damai ini. Anda akan benar-benar merasakan kedamaian alamnya.

—————————-

TIDAK TERASA, saya dan tiga cyclist lainnya sudah berada di ketinggian 1.200 mdpl. Koleksi elevasi ini saya kantongi sejak jalan menanjak. Yakni mulai jalan sepanjang Pasar Slahung sampai Pasar Gemaharjo. Dan bonusnya, perjalanan sampai rumah pengusaha donat, Pujiono, di Dusun Krajan, Desa Binade, Ngrayun. Meski jalan mulai depan Pasar Gemaharjo hingga Desa Binade hanya 9,7 kilometer (bukan 7 kilometer, Red), elevasinya cukup menonjok. Yakni 700 mdpl.

’’Jaraknya tidak ada 10 kilometer, tapi nanjaknya nekek gulu (mencekik leher, Red),’’ kata Sugiono, cyclist asal Radar Madiun Cycling Club (RMCC).

Selama perjalanan menuju Desa Binade, kami dikawal ketat oleh Pujiono. Disaat kelelahan mulai melanda, kami menengok ke arah motor Pujiono yang membutut dari belakang. Bapak dua anak ini hanya menjawab dengan senyum dan kalimat pendek. ’’Sampun celak (sudah dekat, Red) mas,’’ kata bapak dua anak ini.

Memang, setiap lepas tanjakan menyiksa, rombongan beberapa kali menoleh ke belakang. Gerakan ini bukan gerakan aneh bagi cyclist yang melakukan perjalanan panjang. Disaat kelelahan amat sangat, support motivasi sangat diperlukan. Termasuk gerakan kepala menoleh ke belakang. Untungnya, Pujiono sendiri seorang cyclist. Jadi dia tahu apa maksud tolehan tersebut. Tanpa dikomando, dia otomatis menjawab dengan membesarkan hati cyclist yang kelelahan. ‘’Padahal pas njenengan tangklet (Anda tanya, Red), jaraknya nembe sepalih (baru separo, Red),’’ kata Pujiono terkekeh.

Dari mulut Desa Binade, sekitar 3 kilometer untuk sampai rumah Pujiono di dusun Krajan. Kalau sebelumnya motor Pujiono membuntut, kali ini dia menjadi road capten. Sekitar 15 menit, rombongan dipandu dan sampai juga di kediaman Pujiono. Rumahnya sangat gampang dikenali. Pilar-pilar rumahnya berwarna mencolok. Pink. Memang, dari sederet di kawasan itu, rumah pengusaha donat ini paling gampang dititeni. ‘’Ini rumah saya. Gampang to tengerane (mengenalinya, Red),’’ kata Pujiono sambil memarkir motornya.

Begitu tahu bapaknya datang, dari dalam rumah seorang gadis berlari kecil. Usianya tak lebih dari 5 tahun. Berkaos biru. Gadis imut itu langsung ngelendot ke paha kanan bapaknya. ’’Ayah datang, ayah datang. Itu to teman-teman ayah,’’ kata gadis kecil itu yang belakangan memperkenalkan diri bernama lengkap Vanisa Aqia Kailani.

Gadis bertubuh subur itu langsung cair saat rombongan ”reyog” Saturday Ride Fever (SRF) datang. Dia tidak canggung. Bahkan dengan tenang duduk menemani kami saat ayahnya masuk ke ruang belakang. Tanpa ditanya pun, Vanisa menjelaskan kalau rumahnya selalu ramai. Bukan karena ada acara. Tapi sering dikrumpyung (didatangi, Red) teman-teman ayahnya dari komunitas sepeda. ‘’Teman-teman ayahku banyak. Senang aja kalau mereka ke sini. Rumah jadi ramai. Tidak sepi,’’ kata Vanisa dengan manja.

Tak berapa lama, dari dalam muncul si empunya rumah. Dengan baki penuh makanan, Pujiono menuju teras, tempat kami berkumpul. Karena pengusaha donat, sajian pokoknya memang donat. Cuma, saat melihat donatnya, saya merasa agak aneh. Donat sebesar itu dijual berapa rupiah per bijinya? ‘’Karena tamunya istimewa, kami membuat donat yang ukurannya istimewa pula. Donat raksasa,’’ kata Pujiono sambil mempersilakan agar kami segera menyantapnya.

Belum sempat saya menyantap donat raksasa, dari dalam muncul istri Pujiono. Namanya sangat metropolis banget. Marlina. Persis nama bintang film era 70-an Lenny Marlina. Dengan senyum mengembang, ibu dua putra ini menyodorkan jajanan. Menurutnya, jajanan itu tidak kalah istimewa. Jajan apa itu? ‘’Ini namanya otok-otok. Rasakan dulu. Bertanya kemudian ya,’’ kata Mbak Lina yang langsung meninggalkan kami untuk balik ke dalam rumah lagi.

Karena perut sudah lapar, kalap pun dimulai. Sasaran utama saya adalah roti aneh berjuluk otok-otok tadi. Kenapa pilih jajanan ini? Kalau donat kan bisa dibeli di gerai mal-mal yang ada di Madiun. Maka, saya langsung menghajar roti yang belum pernah saya rasakan ini. Begitu gigitan pertama, rasanya langsung menggoda. Hanya dalam hitungan menit, 3 biji roti goreng berisi kacang hijau ini saya ludeskan. Begitu otok-otok mendarat manis di dalam perut, rasa lapar yang hebat itu langsung hilang. ‘’Pak Aris kalap. Sudah habis berapa pak,’’ ledek Hari Nanung yang diam-diam memperhatikan kelaparan saya.

Ketika hendak mencomot otok-otok yang keempat, dari dalam rumah tiba-tiba ada panggilan darurat. ‘’Hayo makan sekarang. Sudah disiapkan sejak tadi. Jajanannya berhenti dulu,’’ kata ibu tuan rumah.

Mendengar ajakan tersebut, kami saling udur-uduran. Sebab apa? Kami berempat sudah kalap di muka. Sajian jajanan dan buah-buahan, sudah kami selesaikan dengan damai. Sedamai slogan desa Binade sebagai Kampung Damai. Awalnya ogah-ogahan. Tapi begitu tahu makanan yang disajikan menarik selera, kami pun berebut posisi. Ada nasi jagung, ada mie goreng, dan nasi putih. Itu di barisan pertama. Berikutnya ada tempe goreng, ada telor goreng, dan ayam goreng. Itu di barisan kedua. ‘’Sayurnya, maaf sayur desa. Sayur lodeh tempe pedes. Monggo sak wontene (Silakan seadanya, Red),’’ kata ibu tuan rumah dengan ramah.

Suwadi Haliman alias Pak Bo — yang sejak tadi sudah mengincar nasi jagung — langsung tancap gas. Sepiring munjung nasi jagung, dihiasi ayam goreng dan guyuran sayur lodeh tempe, terpapar di atas piringnya. Tanpa dikomando, tukang tarik satu ini langsung telap-telep makannya. Hanya dalam hitungan menit, nasi munjungnya amblas. Sementara Sugiono, Hari Nanung dan saya memilih untuk makan tipis-tipis saja. Maklum, tenaga makannya sudah dihabiskan di awal. Begitu semua nasi di piring masing-masing tandas, kami berempat memilih buang body di teras rumah Pujiono. Persis seperti ular kekenyangan. Susah obah (bergerak, Red).

Tidak terasa, semilir angin Binade makin melengkapi kesejukan perut kami. Pelan-pelan, mata susah diajak kompromi. Kesadaran langsung amblas. Kami tertidur pulas. Sepulas sajian yang disediakan. Wakakakakak…. Padahal perjalanan pulang harus segera dituntaskan. Jaraknya masih 75 kilometer untuk sampai Madiun lagi. Sementara tanjakannya tidak bisa kami perkirakan. Sebab, rute pulangnya tidak lewat seperti rute awal. Tapi lewat Slahung. Rute ini gelap buat kami. Meski gelap, semoga saja rute pulangnya tetep damai. Sedamai slogan desa Binade. Tunggu lanjutan ceritanya di edisi besok ya? (*/bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here