Mengenang Kanjeng Jimat, Salah Seorang Tokoh Penting di Pacitan

65

PACITAN – Makam Kanjeng Jimat di Baleharjo, Pacitan, acap jadi jujukan peziarah. Maklum, ketokohan Kanjeng Jimat yang sangat dikenal luas hingga mancanegara. Dia juga dikenal sebagai seorang ulama berpengaruh di Pacitan.

Berdiri di atas bukit. Bangunan makam berukuran 5×5 meter itu mencolok mata. Udara segar kental terasa di sekitarnya. Maklum, selain di ketinggian juga rimbun pepohonan. Makam tersebut kerap dikunjungi para peziarah. Harus mendaki 180 anak tangga untuk mencapai komplek makam Kanjeng Jimat itu. Ada surau kecil di lokasi makam itu.

Kanjeng Jimat diyakini sebagai pemimpin dan salah seorang penyebar agama Islam di Pacitan. Sejatinya, nama itu hanya julukan. Aslinya adalah Joyoniman. Nama Kanjeng Jimat disematkan lantaran Joyoniman bertugas menjaga barang-barang yang dikeramatkan.

Joyoniman juga diklaim pernah jadi bupati Pacitan. Namun dalam sejarah resmi Pemkab Pacitan, nama Joyoniman tidak tertera sebagai bupati. ‘’Sebenarnya dari catatan sejarah, beliau dikenal sempat memimpin Pacitan sebagai bupati,’’ terang Agus Jatmiko, juru kunci Makam Kanjeng Jimat.

Makam Kanjeng Jimat dikunjungi para peziarah saban hari. Jumlahnya tidak pasti. Jika dirata-rata per bulan mencapai puluhan peziarah. Mereka tidak hanya datang dari Pacitan. Melainkan dari berbagai daerah di Jawa hingga Kalimantan dan Sumatera. Bahkan luar negeri, seperti Malasya, Tiongkok, hingga sejumlah negara Eropa. ‘’Beliau dikenal luas. Dihormati banyak orang. Banyak juga yang ingin tahu sejarahnya,’’ kata pria kelahiran 1969 ini.

Sebagai salah seorang penyiar agama Islam, konon Kanjeng jimat dikenal arif dalam menyampaikan ajaran. Bahkan sempat jadi guru ngaji salah seorang bupati pada masanya. Pun kerap berdakwah di lingkungan tempat tinggalnya. ‘’Secara pasti beliau tinggal di mana dan kapan lahirnya tak ada yang tau persis,’’ tambah pria yang juga memiliki hubungan darah dengan Kanjeng Jimat itu.

Tidak ada peraturan khusus untuk berziarah ke makam Kanjeng Jimat. Terpenting menjaga kebersihan. Tidak buang sampah sembarangan, apalagi merusak fasilitas yang ada. Jam ziarah juga tidak dibatasi. Bebas, kapan pun dan berapa lama. Bahkan, ada yang menginap hingga berhari-hari. Para peziarah juga tidak dipungut biaya masuk. ‘’Kalau bulan Ramadan cukup sepi. Nanti mendekati Lebaran dan setelahnya ramai lagi. Tak sedikit datang berrombongan dengan bus,’’ pungkas Agus.*** (sugeng dwi/sat)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here