Mengenal Tri Nugroho, Pengusaha Keripik Tempe asal Ngawi

48
WIRAUSAHAWAN: Tri Nugroho menata tempe sebagai bahan baku pembuatan keripik tempe usahanya.

Tri Nugroho tidak menyesali keputusannya resign dari pekerjaan lama. Gaji besar yang ditawarkan salah satu pabrik emas di Surabaya tak menggoyahkan tekad menjadi pengusaha. Bisnis keripik yang digelutinya selama dua tahun kini berkembang pesat.

——————– 

DENI KURNIAWAN, Ngawi

SEBUAH wadah besar bertumpuk keripik tempe di salah satu ruangan. Tiga perempuan dengan cekatan mengemas makanan renyah itu ke dalam kantong plastik. Di ruangan lainnya, seorang pemuda menata rapi beberapa batang tempe berbungkus plastik ke atas rak bertingkat berbahan bambu.

Pemandangan itu berlangsung hampir setiap hari di rumah Tri Nugroho di Dusun  Pilangbangu, Kedungprahu, Padas, Ngawi. Pemuda 26 tahun itu memang pengusaha keripik tempe. Bisnisnya cukup maju dengan produksi lebih dari 20 kilogram per hari. Pangsa pasarnya merambah luar daerah. ‘’Minta bantuan tetangga kalau pesanan sangat banyak,’’ kata Tri.

Tri merintis bisnisnya dua tahun lalu. Langkahnya itu terbilang nekat. Dia meninggalkan statusnya sebagai pekerja tetap salah satu pabrik emas di Surabaya. Gaji lumayan per bulan yang ditawarkan sudah tidak diminatinya. ‘’Saya pulang kampung. Lebih enak usaha sendiri daripada jadi karyawan,’’ ujar pasangan almarhum Nugroho dan Kinem tersebut.

Tri menekuni bisnis keripik dibantu Kinem, ibunya. Lambat laun, dia mengetahui jenis tempe yang bagus untuk diolah menjadi keripik. Tri pun mencoba membuat tempe sendiri karena merasa keuntungan tidak bisa maksimal. Kebiasaan membeli tempe olahan orang lain dihentikan. Keputusan itu membuatnya leluasa dalam mengontrol seluruh tahapan pembuatan keripik. Mulai memilih jenis kedelai hingga keripik siap jual. ‘’Tempe yang bagus untuk keripik kuncinya pada saat proses peragian,’’ ungkapnya.

Muluskah perjalanan Tri dalam berwirausaha? Bungsu tiga bersaudara ini sempat beberapa kali gagal. Terutama di awal percobaan membuat tempe secara otodidak. Misalnya, kelewat keras akibat terlalu banyak menaruh ragi. Begitu pula sebaliknya. Tidak sedikit kedelai jadi pakan ternak karena gagalnya percobaan. ‘’Hasil belajar dari pengalaman  dan menambah referensi dari video tutorial, racikan yang pas akhirnya ketemu,’’ tuturnya.

Rumus penting mengubah butiran kedelai menjadi batangan tempe tidak hanya pas takaran raginya. Tapi juga pandai memperkirakan cuaca. Panas dan dingin suhu memengaruhi tahapan fermentasi kedelai. ‘’Ketika panas, ragi dikurangi. Diperbanyak saat dingin. Takarannya main feeling,’’ ucapnya. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here