Mengenal Dalang Cilik Satriana Rendra Panduwijaya

31

PONOROGO – Satriana Rendra Panduwijaya mewarisi ilmu dalang kakeknya Ki Dalang Sentho Yitno Caritno. Pelajar kelas IX SMP itu telah melalangbuana mementaskan pagelaran wayang kulit.

Jika ingin melihat anak-anak melestarikan wayang, datanglah ke Sanggar Pasopati di sudut selatan Ponorogo. Jauh dari ingar-bingar. Tepatnya di Desa Duri, Kecamatan Slahung. Di sanggar itulah geliat kesenian yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia dipelajari anak-anak.

Salah satunya Satriana Rendra Panduwijaya. Dari kejauhan, tembang yang dia bawakan mengalun merdu dan luwes. Bersama 20-an anak, dia tengah belajar mementaskan wayang kulit. Kebanyakan dari pinggiran. Sebagian berasal dari desa-desa kabupaten tetangga. Seperti Madiun, Wonogiri, Trenggalek hingga Lampung. ‘’Suka wayang sejak TK,’’ kata cucu Ki Dalang Sentho Yitno Carito itu.

Tiap minggu sekali, Pandu bersama teman-teman mempelajari wayang di sanggar yang didirikan kakeknya tersebut. Baginya, wayang merupakan kesenian luhur. Banyak hal yang didapatkan. Meskipun butuh proses dan waktu panjang. Dia pun berkesempatan mementaskan wayang sebagai pembuka festival wayang kulit saat ulang tahun Ki Dalang Manteb. ‘’Suluk atau tembang yang paling sulit dipelajari menurut saya,’’ lanjutnya.

Ilmu tentang wayang terhitung detail. Butuh kecerdasan dan rasa untuk mempelajarinya. Mulai suluk, odo-odo, gerakan dalam setiap babak, hingga udo negoro yang mengatur bagaimana meletakan wayang menyesuaikan dengan peran dan babak. Semua itu telah dipelajari lebih dari sepuluh tahun lalu. Dia juga harus menguasai kitab wayang. Dalang tak ubahnya seorang kiai. Segala ucapannya menjadi panutan. Meskipun pergeseran nilai itu semakin tampak, namun bagi Pandu seorang dalang harus mementingkan etika di atas segalanya. ‘’Itu yang selalu diajarkan kakek,’’ ungkapnya.

Dengan mempelajari wayang, dia mendapatkan banyak pelajaran tentang hidup. Terutama saat menghafal kitab yang diberikan gurunya yang tak lain adalah kakeknya sendiri. Biasanya, satu kitab harus dihafalkan untuk membawakan satu lakon. Sulit? Tentu. Tapi itu merupakan pelajaran penting yang harus dapat dia lalui agar menjadi dalang. ‘’Saya lebih fasih bahasa jawa halus daripada bahasa nasional,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here