Menelusuri Padepokan Gunung Pengging Desa Watu Bonang

345

HIJRAHNYA warga Watu Bonang memiliki benang merah dengan Padepokan Gunung Pengging di desa tersebut. Tiga tahun terakhir menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah (Musa As). Kegiatan keagamaan yang dijalankan sejatinya jauh dari ajaran menyimpang.

——————

PADEPOKAN itu berupa rumah panggung berukuran 2×3 meter. Berbahan papan dan bambu. Di ruang pertama terdapat tulisan Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah. Banner besar itu menempel di dinding papan kayu sebelah barat dan selatan. Ruang di sebelah utara berisi alat-alat rebana. Di dalamnya terdapat poster lambang sayap bertuliskan MUSA AS. Bangunan itu berdiri di halaman rumah yang sudah berarsitektur modern. Pintu rumah modern yang menghadap selatan itu terbuka. Foto KH Sholeh Syaifuddin dan KH M. Romli terpajang di dinding teras.

Padepokan Gunung Pengging berdiri sejak tiga tahun terakhir. Pendirinya adalah Katimun, warga setempat yang pernah nyantri 18 tahun di Malang. Sekembalinya ke desa kelahiran, Katimun menyebarkan ilmu agama yang telah didapatkan. Termasuk membawa ajaran Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah (Musa As). Perkembangannya cukup pesat. ‘’Sistemnya ngaji biasa. Kegiatan keagamaan di sini jadi aktif, beda dari sebelum-sebelumnya,’’ kata Saeran, warga setempat.

Biasanya, pengajian rutin diadakan pada Rabu dan Sabtu malam. Jamaah dari luar desa juga berdatangan. Selain membangun padepokan berbahan papan kayu, Katimun juga mewakafkan rumahnya untuk berbagai kegiatan keagamaan. Meski viral setelah isu kiamat yang dihubungkan dengan hijrahnya jamaah ke Malang, harus diakui keberadaan padepokan dan thoriqoh tersebut membawa dampak positif. ‘’Tidak ada kegiatan yang negatif, semua berjalan wajar. Jamaah juga ikut tahlilan, yasinan, kerja bakti, dan kegiatan sosial lain,’’ ujar Sogi, kasun Krajan, Desa Watu Bonang, Badegan.

Dalam kehidupan bersosial, jamaahnya pun berinteraksi sewajarnya. Bahkan, sejak berdirinya padepokan itu, kegiatan keagamaan seperti tahlilan semakin aktif. Warga yang ikut jamaah semakin bertambah banyak. Namun, aktivitas keagamaan di padepokan itu seolah menghilang begitu saja. Usai 16 KK atau 52 warga setempat yang ikut jamaah hijrah ke Malang. Sejak itulah isu meninggalkan desa tersebut beredar luas; yang di medsos dihubungkan dengan doktrin kiamat. ‘’Lha itu yang kami malah belum mendengar. Tapi, kalau lihat di medsos kok seperti itu ya,’’ tuturnya.

Hingga kini belum diketahui secara pasti apakah doktrin yang sedang beredar itu memang betul ditujukan kepada jamaah atau tidak. Jika isu itu memang benar, hal itu jelas bertolak belakang. Karena selama ini tidak ada ajaran menyimpang. Pun, warga setempat kini diliputi keresahan dan kekhawatiran. Mereka masih menunggu aparat mengusut tuntas tentang kabar tersebut. ‘’Warga sini mengharap kerja sama dari seluruh pihak. Agar lingkungan dan desa kami tidak dicap menyimpang atau melanggar ideologi negara,’’ pintanya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here