Menelusuri Memoar Tambang Gamping Ujung Barat Ponorogo

219

Kawasan barat Ponorogo banyak ditemukan batu kapur. Terutama Desa/Kecamatan Sampung. Di situ terdapat Gunung Gamping yang telah menghidupi ribuan warga. Konon, aktivitas penambangan sudah berjalan sejak zaman Belanda.

————-

MATAHARI belum beranjak dari ufuk timur saat Parman berangkat menuju tempat mengais rezeki. Sebelum pukul 06.00 Parman telah tiba di gunung gamping dari tempat tinggalnya sekitar tiga kilometer. Setiap hari ditempuh dengan jalan kaki. Pun harus memanggul alat pertambangan tradisionalnya. Sampai di tujuan dia tidak langsung memulai aktivitasnya. Harus melihat dulu medan yang akan ditambang.

Biasanya ketika diguyur hujan rawan terjadi longsor. Bisa saja batu kapur seukuran rumah berjatuhan pada malam hari. Sehingga, pada pagi hari harus mencari lokasi aman agak jauh dari bekas longsoran. Pun saat menambang, Parman dan warga lainnya harus berhadapan dengan longsor yang mengintai. ‘’Harus hati-hati, terutama saat musim penghujan seperti ini,’’ kata laki-laki yang sudah menjadi penambang sejak 17 tahun lalu itu.

Bagi Parman dan warga lain, gunung gamping telah memberikan nafkah. Bahkan, banyak warga luar daerah berdatangan turut mengais rezeki di gunung tersebut. Konon, aktivitas pertambangan batu kapur ini sudah berlangsung sejak zaman Belanda. Di bawah gunung tersebut, masih terdapat sisa bangunan peninggalan kolonial.

Ada sedikitnya lima sumur yang dulu dipakai membakar batu kapur. Di depannya terdapat bangunan yang diperkirakan untuk menyimpan batu kapur siap olah. ‘’Banyak yang ke sini untuk bergabung menjadi penambang. Terutama dari daerah sekitar Ponorogo,’’ ujarnya.

Batu kapur di daerah setempat seolah tidak ada habisnya. Lahan tambang seluas 25 hektare itu mampu menafkahi ribuan warga. Bahkan hingga generasi mendatang. Tidak heran jika pabrik semen terbesar di Indonesia pernah mengincar lahan tersebut. Warga sekitar masih ingat 1982 lalu.

Perusahaan tersebut pernah ingin menggarap lahan tambang. Namun, warga menolak. Sebab, jika dikuasai pabrik besar bakal menghilangkan mata pencarian warga setempat. Pun saat ditawari pengolahan tambang secara modern, tidak membuat warga luluh. ‘’Sehingga sampai sekarang kami masih bisa mencari makan di gunung ini,’’ ucap pria kelahiran 1952 itu.

Aktivitas penambangan warga masih tradisional. Parman dan penambang lainnya tiap hari harus mencongkel bongkahan kapur dengan linggis. Mereka sadar bahaya selalu mengintai. Sebab, bongkahan batu di atas bukit bisa tiba-tiba longsor. Meski berisiko kehilangan nyawa, para penambang tetap beraktivitas.

Berbekal niteni, mereka paham karakter medan tambang yang akan longsor. Tidak heran jika hingga kini tidak pernah terdengar penambang tewas akibat tertimpa reruntuhan batu kapur. ‘’Seringnya longsor saat malam hari,’’ sambungnya.

Parman dan penambang lain biasanya bekerja mulai pukul 06.00 hingga 17.00. Tenaga dan waktu yang mereka keluarkan impas dengan penghasilan. Terlebih dengan tingginya risiko. Dalam sehari, Parman mampu mengumpulkan  satu rit (bak truk) batu kapur siap olah. Sebenarnya, Rp 230 ribu per rit. Namun, harus dipotong dengan kantor pengelola tambang Rp 120 ribu. Pun untuk pemilik lahan Rp 50 ribu. Sehingga, bersih Parman hanya Rp 60 ribu. Belum lagi jika musim penghujan, biasanya Parman dan para penambang mencari pekerjaan lain. ‘’Jadi manol (kuli angkut, Red) grajen (serbuk kayu sisa penggergajian, Red)  untuk membakar batu kapur ke truk,’’ ungkapnya.*** (nur wachid/sat/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here