Mendikbud Minta GTT-PTT Bersabar

126

MAGETAN – Kabar gembira dibawa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muhadjir Effendy dari ibu kota untuk para tenaga honorer. Giliran guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) itu yang mendapat perhatian pemerintah pusat. Pascaseleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2018 ini, segera dilaksanakan seleksi calon pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). ’’Mohon sabar,’’ kata Muhadjir.

Saat ini, dikatakan menteri asal Wonoasri, Kabupaten Madiun, itu, peraturan pemerintah (PP) penyelenggaraan seleksi PPPK tengah digodok di tingkat pusat. Sehingga, setelah diterbitkan bisa menjadi dasar pelaksanaan seleksinya. Para tenaga honorer yang tidak terakomodasi dalam seleksi CPNS 2018 bisa mengikuti seleksi PPPK tersebut. ’’Mudah–mudahan (PP) bisa segera keluar dan digunakan untuk penyelenggaraan seleksi PPPK,’’ ujarnya.

Berbeda dengan seleksi CPNS yang dibatasi usia maksimal 35 tahun, PPPK memiliki rentang usia pengangkatan yang lebih panjang. Dua tahun sebelum memasuki masa pension bisa diangkat menjadi PPPK. Yakni, maksimal usia 56 tahun. Mendasar pada PP 11/2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, batas usia pensiun pejabat fungsional yakni 5 tahun. Sehingga, para tenaga honorer yang usianya sudah lanjut bisa merasakan perubahan nasib menjelang masa tua mereka. ’’Usia (pengangkatan PPPK) relatif longgar,’’ sebut Muhadjir.

Namanya saja pegawai dengan perjanjian kerja, maka ada batasan masa kerja sesuai dengan kontrak. Namun, kontrak tersebut dapat diperpanjang hingga memasuki masa pensiun. Asal, kinerja pegawai yang bersangkutan dinilai bagus. Pun, keberadaannya masih dibutuhkan. Tidak tetap dan tidak diperpanjang masa kontrak akan membayangi para tenaga honorer tersebut. ’’Karena berdasarkan kontrak,’’ ungkapnya.

Kendati demikian, setidaknya bisa memberikan jalan terang bagi para tenaga honorer yang nasibnya sudah terkatung–katung selama belasan tahun. Apalagi mereka tidak bisa mengikuti seleksi CPNS 2018 karena terkendala usia. Dalam UU 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), maksimal usia pengangkatannya yakni 35 tahun. Sehingga wajar jika banyak tenaga honorer yang terpaska gigit jari. ‘’Dulu, sebelum ada UU itu, tidak apa-apa. setelah ada UU, jadi tidak bisa,’’ papar Muhadjir.

Namun, ada celah untuk meningkatkan kesejahteraan para tenaga honorer mendasar UU tersebut. Karena terdapat dua jenis pegawai, yakni PNS dan PPPK. Jika tak bisa diakomodasi menjadi PNS, PPPK menjadi jalan keluarnya. Sehingga 424 tenaga honorer K-2 Magetan berkesempatan untuk menjadi PPPK. Karena hanya sebanyak 11 guru yang lolos administrasi seleksi CPNS dari formasi tenaga honorer. ’’Semoga bisa mengakomodasi guru–guru honorer,’’ ucapnya. (bel/c1/ota)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here