Menara Pandang yang Terabaikan

271

MADIUN – Rencana pembangunan ikon baru Kota Madiun di perempatan tugu sampai di telinga sejarawan Madiun. Hasil perbincangan dengan mereka disampaikan jika pembangunan ikon baru baiknya juga memperhatikan unsur cagar budaya di sekitarnya.

Tidak jauh dari perempatan tugu tersebut terdapat menara pandang. Keberadaannya  di sebuah toko sepatu yang berada di persimpangan jalan. ’’Menara pandangnya itu nggak  kelihatan karena tertutup baliho,’’ kata Andrik Suprianto, sejawarawan lokal saat ditemui Radar Madiun.

Dia menjelaskan, menara pandang adalah salah satu menara tertinggi warisan kolonial Belanda. Selain menara pandang tesebut ada menara di Gereja Santo Cornelius, menara Balai Kota Madiun dan menara di sebuah toko roti Jalan Bogowonto sekarang menara ini sudah tidak ada. Diharapkan, tidak hanya sekadar pembangunan ikonik Kota Madiun di perempatan tugu tersebut tanpa diimbangi dengan upaya revitalisasi bangunan cagar budaya yang ada di sekitarnya. ’’Karena kehadiran menara-menara ini juga bagian dari landmark-nya Kota Madiun,’’ terangnya.

Mengulas sejarah singkat penamaan perempatan tugu tersebut ada beberapa versi. Pertama, penyebutan kata tugu mengarah pada benda maupun bangunan yang menyerupai tugu. ’’Ada yang menyebut nama tugu berasal dari sebuah bangunan gardu listrik Aniem (Perusahaan Listrik Jaman Belanda sekarang sudah dibongkar jadi Pos Polisi). Ada juga penyebutan menara tugu (menara pandang),’’ jelasnya.

Lanjutnya, versi lainnya, nama tugu merujuk pada keberadaan tugu (paal) titik nol kilometer Kota Madiun yang berada tidak jauh dari perempatan tugu tersebut. Kemudian, dikuatkan dengan gambar peta tahun 1917 kata tugu dipakai sebagai nama jalan yakni Toegoelaan (Jalan ini berubah nama menjadi Madoerastraat atau Jalan Madura dan kemudian Jalan Panglima Sudirman). ’’Dalam De indisch Courant, 20 Juli 1925 juga ada kutipan kalimat yang berhubungan dengan nama tugu,’’ ungkapnya.

’’Tapi sampai sekarang asal-usul penamaan tugu itu sampai sekarang masih jadi misteri,’’ bebernya.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud) Kota Madiun berencana membangun sebuah ikon baru Kota Madiun di perempatan tugu. Ikon baru tersebtu rencananya bakal menjadi landmark Kota Karismatik. Sebab, selama ini orang menyebut kata perempatan tugu tapi tidak ada bangunan tugu. ‘’Orang bilang perempatan tugu tapi nggak ada tugunya, sejarahnya ada (tugunya),’’ kata Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata (Disparbud) kota Madiun Agus Poerwowidagdo.

Katanya, sejumah tanaman yang ada di kawasan perempatan tugu tersebut dibongkar. Lalu mengantinya dengan bangunan tugu. Sementara ini yang sudah terlaksana, taman vertikal di kawasan itu telah dipugar. Rencananya, desain dari bangunan tugu tersebut adalah potongan dari menara balai kota. Untuk mendesain bangunan tugu tersebu, menggandneg budayawan Kota Madiun maupun Universitas Gadjah Mada. (dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here