Menapaki Jejak Purba di Gua Lowo Sampung

170

Jejak purba di Gua Lowo masih terasa sampai kini. Namun, tak mudah menjangkau gua yang di tengah hutan jati Desa/Kecamatan Sampung itu. Ada jalan bercabang yang membingungkan awam.

——————–

JALAN tanah itu becek sehabis hujan. Semakin ditapaki, semakin membawa perjalanan menuju hutan yang semakin lebat. Di musim penghujan seperti ini, rumput gajah tumbuh subur dan hampir menutup jalan. Melewatinya pun harus sedikit waspada. Sebab, nyamuk suka tempat selembap itu. Di tengah perjalanan juga terdapat jalan bercabang. Tidak ada petunjuk jalan yang mengarahkan menuju gua yang hendak dituju. Jika tidak mengajak orang setempat, pasti kebingungan. ‘’Disebut Gua Lowo karena dulu banyak kelelawarnya. Sekarang kayaknya sudah tidak ada lagi,’’ kata Abdul Wasiat, warga setempat.

Jejak purba di gua itu pernah masuk dalam kajian Dr Van Stein Callenfels sekitar 1928-1931. Dari hasil penelitian itu, ditemukan tulang dan tanduk rusa di dalam gua. Arkeolog Belanda itu menyebutnya Sampung Bone Culture (kebudayaan tulang dari Sampung). Menegaskan gua ini pernah menjadi tempat perlindungan manusia purba dari ancaman cuaca dan binatang buas. Penemuan serupa di Besuki, Bojonegoro, dan Lomoncong, Sulawesi Selatan. Beberapa tahun belakangan, di gua ini ditemukan fosil manusia purba. Fosil yang bentuknya mirip dengan penemuan di Wajak, Tulungagung, dan Trinil, Ngawi. ‘’Sejak itulah, orang semakin mengenal gua ini,’’ ujarnya.

Dahulu, Gua Lowo ini memiliki kedalaman hingga puluhan meter. Saking dalamnya, warga setempat tidak ada yang berani masuk hingga ke dasar gua. Kini, gua tersebut hanya memiliki kedalaman sepuluh meter. ‘’Ada beberapa bagian ruang di dalam gua tersebut,’’ terangnya.

Gua Lowo memiliki ketinggian langit-langit sekitar 11 meter dan lebar 27 meter. Terdiri dari empat ruangan yaitu ruang Raja Rahman Senduk, ruang semedi, ruang batu candi, dan ruang kursi batu. Menurut penuturan warga setempat, masing-masing ruang memiliki fungsi tersendiri. Ruang itu berada di bawah setelah melalui bibir gua dengan medan yang turun. Harus berhati-hati, air yang menetes dari bibir gua membuat licin. ‘’Banyak orang dari luar kota melakukan semedi di sana,’’ ungkapnya.

Selama ini, gua tersebut dirawat dan dikembangkan oleh warga setempat. Pun warga berinisiatif menjadikan gua tersebut sebagai destinasi wisata. Tiap beberapa waktu sekali warga melakukan kerja bakti untuk membersihkan. Tentang banyaknya kelelawar yang kini telah pergi, warga tidak mengetahui pasti penyebabnya. ‘’Bisa jadi mencari tempat lain, karena orang sudah semakin mengenal gua ini,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here