Menambang Pasir di Sungai, Slamet Temukan Fosil Gajah Purba

46
JUMBO: Slamet menunjukkan potongan fosil tulang gajah purba yang ditemukannya saat menambang pasir di sungai.

Sosok Slamet sempat menjadi perbincangan warga Desa Tempuran, Paron. Itu terjadi setelag penambang pasir tradisional tersebut menemukan benda yang diduga fosil binatang purba.

—————

DENI KURNIAWAN, Ngawi

SLAMET merupakan pencari pasir tradisional di Dusun Jegolan, Desa Tempuran, Kecamatan Paron. Menyelam ke dalam sungai, lalu mentas setelah mengeruk pasir menjadi kesehariannya.

Senin lalu (17/6) menjadi hari yang berbeda baginya. Tak hanya pasir yang didapat, dia keluar dari air dengan membawa tulang sepanjang kurang lebih satu meter yang diduga fosil binatang purba. Besarnya setangkupan dua telapak tangan orang dewasa. ‘’Sekitar pukul 11.00, waktu cari pasir sendirian. Teman pulang jemput anak,’’ kata Slamet.

Slamet tidak tahu apa yang mesti diperbuat dengan temuannya. Fosil yang diduga bagian tulang kaki gajah purba alias Stegodon itu kini dititipkan di rumah salah seorang perangkat desa setempat. Bahkan, dia sempat ingin melempar kembali fosil tersebut ke sungai. ‘’Banyak yang datang melihat ke tempat mencari pasir. Ramai begitu, malah tidak jadi mergawe,’’ ujarnya.

Sebelumnya Slamet sama sekali tidak menyangka bakal menemukan fosil binatang purba. Semula, seperti biasa dia mentas-menyelam mencari pasir di sungai desa setempat bersenjatakan peranti alakadarnya. Alurnya adalah menyelam, mencangkul dasar sungai, mengeruk pasir, mentas dan menumpuk pasir ke permukaan. ‘’Pas saya cangkul kok keras, saya kira padas seperti biasanya,’’ ujarnya.

Slamet lantas meraih linggis untuk mencongkel benda keras di dasar sungai yang sempat dipaculnya itu. Beberapa kali diayunkan, bongkahan pertama berhasil didapatnya. Tanpa membuka mata lantaran air keruh, dia membopong mentas benda tersebut. ‘’Saya kaget, ternyata tulang,’’ kata Slamet. ‘’Ada lubang di tengah seperti lubang sumsum,’’ imbuhnya.

Bongkahan fosil pertama menyulut rasa penasaran Slamet. Dia kembali menjatuhkan diri ke sungai sedalam kurang lebih tiga meter. Sambil menyelam dengan mata terpejam, lengan Slamet tak henti mengayunkan linggis untuk mencongkel sisa bongkahan fosil.

Sembari meraba-raba, mata linggis dijatuhkannya berulang kali ke sekitar fosil. Setelah sekitar 30 menit mencongkel, bongkahan kedua berhasil didapatkannya. ‘’Beberapa kali muncul ke permukaan air untuk mengambil napas,’’ kata pria 34 tahun ini.

Di bantaran sungai Slamet menggabungkan dua bongkahan tulang yang susah payah diambilnya itu. Matanya terbelalak saat mendapati wujud menyerupai tulang kaki dengan ukuran kelewat besar. Meski demikian, dia tak mau ambil pusing dengan apa fosil temuannya. Yang ada di kepalanya waktu itu adalah bagaimana caranya mendapatkan banyak pasir. ‘’Saya taruh di timbunan padas pinggir sungai,’’ kenangnya.

Slamet slama ini tinggal bersama ibunya yang menjanda plus tuna netra. Selain itu, ada bibinya yang juga seorang janda satu anak. Ayah Slamet sudah lama meninggal. ‘’Cari pasir buat makan, malah dapat tulang segede itu,’’ ujar pria yang tidak tamat SD ini.

Fosil temuan Slamet akhirnya tersebar dari mulut ke mulut. Alhasil, warga berbondong-bondong ke lokasi tambang pasir untuk sekadar melihat tulang berukuran ekstra besar tersebut. Kondisi seperti itu membuat Slamet kurang nyaman saat mencari pasir.

‘’Sempat mau saya buang lagi itu, tapi dilarang sama orang-orang, katanya bukan tulang sembarangan,’’ ungkapnya.  ‘’Kalau ada yang mau beli tulang ini, uangnya akan saya belikan beras,’’ imbuh Slamet. ***(isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here