Madiun

Menahun Titik Ariani Jual Beli Mesin Jahit Bekas

Puluhan tahun sudah Titik Ariani melakoni pekerjaan jual beli mesin jahit bekas. Meski penghasilan yang diperoleh tidak banyak, perempuan asal Kelurahan Kejuron, Taman, itu belum berpikir banting setir ke usaha lain.

—————-

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

BUNYI berisik mendengung terdengar jelas dari ruang tamu rumah Titik Ariani di Gang Puntuk, Kota Madiun. Pagi itu Titik sedang mengecek mesin jahit manual yang hendak dijual seseorang kepadanya. Dilihatnya dengan teliti setiap bagian mesin jahit merek Singer tersebut.

Titik lantas menyuruh si penjual menghentikan mesin jahit yang terus berputar. Matanya tertuju pada batang jarum. Kemudian, disentuhnya bagian itu dengan tangan kanannya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia lalu beralih ke bagian sekrup pengatur tekanan pada bahan jahitan.

Sebagai pedagang barang bekas, insting Titik sudah sangat terasah untuk mengetahui kondisi mesin jahit.  Baik jenis manual maupun elektrik. ‘’Tapi, tetap harus diteliti sampai detail. Ada kerusakan atau masih normal,’’ kata perempuan 62 tahun itu.

Pekerjaan jual beli mesin jahit dilakoni Titik sejak 1990-an silam. Berawal saat dia diminta memperbaiki mesin jahit milik temannya yang rusak. ‘’Setelah saya lihat, ternyata permasalahannya bunyi mesin jahitnya berisik. Itu sebenarnya tidak rusak, tapi di bagian batang jarum tidak ada pelumas,’’ ungkapnya.

Sejak itu Titik sering diminta mengecek kondisi mesin jahit milik teman-temannya yang lain. Dari situ pula dia semakin memahami bagian-bagian mesin jahit. ‘’Sebelumnya sempat dua tahun jualan buku bekas,’’ ujar perempuan yang hobi menjahit sejak kecil ini.

Dari berdagang buku bekas, akhirnya Titik beralih jual beli mesin jahit bekas. Dia mematok harga bervariasi untuk barang yang ditawarkan kepadanya, sesuai kualitas dan mereknya. Mulai Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah jika mesinnya masih dalam kondisi normal. Namun, mayoritas membutuhkan perbaikan sebelum dijual kembali.

Meskipun penghasilan dari jual beli mesin jahit tak menentu, Titik tetap melakoni pekerjaan itu hingga sekarang. Belum terpikir di benaknya banting setir ke usaha lain. ‘’Kadang sebulan hanya laku dua, kadang ada yang cari tapi barang sedang kosong,’’ tuturnya.

Langganan Titik kebanyakan para penjahit. Mereka memilih membeli mesin jahit bekas lantaran selisih harganya bisa terpaut hingga Rp 400 ribu dengan barang baru di toko. Dari satu mesin jahit yang terjual, Titik mengambil untung paling banter 20 persen.

Hingga kini, Titik tetap melakoni pekerjaannya jual beli mesin jahit berdampingan dengan para penjual buku bekas di Gang Puntuk. ‘’Untuk mengisi waktu daripada tidak ada kerjaan,’’ ucapnya. ***(isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close