Menahun Suroso Menambang Pasir di Bengawan Madiun

98

Bengawan Madiun seolah sudah menjadi rumah kedua bagi Suroso. Sudah sedari kecil pria 56 tahun itu menambang pasir di sungai tersebut dengan cara tradisional. Risiko hanyut terbawa arus pun mesti dihadapi demi asap dapur tetap mengepul.

————————

BELASAN pria siang itu tampak sedang duduk-duduk di sebuah gubuk sederhana di tepi Bengawan Madiun tak jauh dari Taman Bantaran. Tak lama berselang mereka mengambil ember aluminium dengan lubang kecil-kecil, lalu beranjak menuju tepian sungai.

Tanpa dikomando, mereka lantas nyebur ke tengah aliran sungai. Setelah menarik napas panjang sembari menutupi hidung, sejumlah pria itu pun menyelam ke dasar kali. Beberapa menit kemudian satu per satu muncul ke permukaan dengan seember berisi pasir. Setelah itu, menepi menuju tumpukan pasir tak jauh dari tenda. ‘’Hari ini  hanya dapat sedikit (pasir, Red),’’ kata Suroso.

Pria 56 tahun tersebut menjadi penambang pasir sejak masih duduk di bangku SD. Satu tomblok pasir kala itu hanya dihargai Rp 2. ‘’Kalau sekarang Rp 2.000,’’ ujar warga Jalan Hayam Wuruk ini.

Menahun menjadi penambang pasir tradisional, Suroso tahu betul risiko yang dihadapi saat beraktivitas di sungai. Pasalnya,  harus menyelam sedalam 2-3 meter tanpa perlengkapan diving. ‘’Risikonya hanyut terbawa arus. Tapi mau bagaimana lagi, demi anak bojo,’’  ucapnya.

Ketika menyelam, penambang dituntut punya kekuatan napas ekstra. Juga mampu berjalan dengan cepat di kedalaman air untuk berburu pasir. ‘’Kami merasakan pasirnya dari telapak kaki. Mata harus merem. Jika tidak, bisa kemasukan kotoran atau pasir,’’ bebernya.

Pasir hasil perburuan Suroso dkk dititipkan ke salah satu rumah warga tak jauh  dari lokasi penambangan. Selanjutnya, dibeli pemborong material bangunan. ‘’Sehari paling banyak dapat 30 tomblok, kalau diuangkan ya Rp 60 ribu,’’ tuturnya.

Awalnya Suroso dkk menambang pasir di depan Taman Bantaran. Namun, saat taman itu dibangun, oleh pemkot diminta pindah agak ke utara. ‘’Dulu di tempat itu pasirnya lebih banyak, sehari bisa dapat 60 tomblok. Kalau di sini paling banter 30,’’ sebutnya.

Sejatinya, kala itu pemkot menawarkan solusi menjadi pekerja proyek pembangunan Taman Bantaran. ‘’Tapi nggak ada yang mau karena  terikat waktu. Sedangkan teman-teman ada yang harus ke sawah dan ngopeni ternak,’’ ucapnya sembari menyebut saat itu juga ada opsi berdagang.

Tidak hanya harus bergeser titik penambangan, Suroso dkk kini juga dihadapkan pada arus kali yang kian deras. Kondisi itu membuat pasir di kedalaman sungai mudah terbawa arus. ‘’Makanya, kalau di tempat ini nggak ada pasirnya kadang kami pindah ke Sogaten,’’ ungkapnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here