Memodifikasi Wajib Meski Berbiaya Tinggi

29

Kita ini memang beda, tapi tetap saudara

Satu nusa satu bangsa

Numpak, numpak, numpak RX King

reng teng teng teng teng… reng teng teng teng teng…

PENGGALAN lagu dangdut yang dipopulerkan Sodiq Monata itu cukup untuk mendeskripsikan eksistensi Yamaha RX-King. Kuda besi yang tak lekang oleh zaman. Pun para pencinta motor dua tak ini terus bermunculan. Baik yang sebatas hobi maupun mereka yang solid dengan komunitasnya. ‘’Suka RX-King karena punya ciri khas. Geberannya itu yang bikin kesengsem,’’ kata Sutrisno.

Sutrisno keranjingan RX-King sejak 2011. Warga Kelurahan Ketanggi, Ngawi, ini kali pertama membeli RX-King 1997 sekitar Rp 7 juta. Namun, kepuasan para pencinta RX-King tidak sebatas membeli untuk ditunggangi. Modifikasi wajib hukumnya agar mendapat kepuasan lebih. Kalau sudah hobi, merogoh kantong dalam-dalam bukan masalah. ‘’Modif tergantung pemiliknya. Tapi, ada bagian yang pasti diutak-atik kebanyakan pecinta RX-King,’’ ucap Sutrisno.

Pria 36 tahun pemilik dua unit RX-King ini merupakan salah seorang member Komunitas King Ngawi (KKN). Di kalangannya, memiliki kecenderungan memodifikasi. Pertama, knalpot yang jadi ciri khas. Skok, roda, supit, dan wadah oli samping jadi bagian yang kerap dimodifikasi. ‘’Biar kelihatan lebih garang. Sempat ada tren, mungkin sampai sekarang, penggunaan botol akrilik sebagai tempat oli samping,’’ tuturnya.

Modifikasi satu unit RX-King biasanya butuh dana sekitar Rp 15 juta. Bahkan, bisa lebih sesuai kepuasan pemiliknya. Ada yang dilakukan bertahap, ada juga yang sekali waktu. ‘’Kebanyakan memang suka memodif sendiri daripada membeli yang sudah dimodif. Menikmati proses,’’ ujar ayah dua anak ini.

Kepuasan para pencinta RX-King tidak berhenti sampai pada mengelus-elus saban pagi. Berkumpul dengan rekan komunitas dan touring ke berbagai daerah jadi kepuasan lain. Beramai-ramai menggeber tunggangan di jalanan disebut sebagai momen paling istimewa. Rupa-rupa kejadian dialami yang menambah kesolidan antaranggota komunitas. Seperti, mendadak mogok di malam hari dan seluruh rombongan mesti menunggu sampai bengkel buka esok hari. ‘’Sebentar lagi jamda (jambore daerah) ke Malang,’’ ungkap Sutrisno. (den/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here