Ponorogo

Memeras Korbannya atas Nama Kejaksaan, Pendamping LMDH Kena OTT

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Pendamping lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) di Mlarak berinisial LF kena operasi tangkap tangan (OTT) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ponorogo Selasa (4/8). Laki-laki 55 tahun itu diduga memeras SJ, ketua LMDH Wonoharjo. ‘’Kami tidak menoleransi oknum yang meminta uang mengatasnamakan Kejari Ponorogo,’’ kata Kajari Ponorogo Khunaifi Alhumami.

LF disergap di salah satu kedai kopi di Nologaten, Ponorogo, sekitar pukul 10.30. Saat menerima uang tunai Rp 6 juta dari perantara korban. Khunaifi menjelaskan, LF mengaku kepada SJ sebagai pihak yang bisa menyelesaikan perkara di kejaksaan. Dia mengancam SJ menggunakan surat panggilan palsu dari kejaksaan. Berisi panggilan kepada SJ sebagai saksi salah satu perkara. ‘’Seolah korban tersangkut perkara di kejaksaan. Padahal tidak,’’ bebernya.

Surat palsu itu dibuat tertanggal 14 Juli 2020. SJ diminta datang pada 16 Juli. Lantas, korban datang ke kejari pada hari pemanggilan. Di luar kantor kejari, LF mencegat SJ. Dia mengklaim kasus yang tengah diperiksa kejari sudah beres. ‘’Katanya, perkara sudah selesai dengan membayar Rp 24 juta. Dia juga membuat kuitansi palsu, ada stempel staf kejaksaan,’’ ungkapnya.

Lantas, LF minta SJ mengganti uang tersebut. SJ curiga meski menyanggupi. Kemarin, melalui perantara, SJ memberi LF uang Rp 6 juta. Berbekal laporan dari masyarakat, tim kejaksaan mencium pertemuan tersebut dan melakukan OTT terhadap LF.

Usai OTT, LF digelandang ke Kejari Ponorogo. Setelah memeriksa sejumlah saksi, LF ditetapkan sebagai tersangka. Jaksa menyangkakan pasal 12 E UU 31/1999 tentang Tipikor terhadap LF. Lantaran statusnya sebagai pendamping LMDH yang dibayar negara melalui Perhutani. Aksi LF memenuhi unsur tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan permintaan paksa atau pemerasan jabatan (knevelarij). ‘’Hari ini (kemarin, Red) langsung diantar ke Rutan Klas II-B Ponorogo. Ancaman hukuman pidana penjara minimal empat tahun dan maksimal delapan tahun,’’ paparnya.

Siswanto, penasihat hukum yang ditunjuk mendampingi LF, mengatakan akan berbicara dengan pihak LF dan keluarga untuk membahas langkah selanjutnya. ‘’Karena tersangka dijerat UU Tipikor, jadi wajib didampingi. Kami menunggu keputusan dari keluarga, perlu pendampingan atau tidak,’’ ujarnya. (naz/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close