Litera

Melukis Air

Cerpen: Hendro Tri Teguh Susilo

BASKOM-baskom berisi larutan air garam itu berderet di depan rumah penduduk dengan variasi bentuk, warna, dan ukuran. Tak semua baskom itu baru, ada pula beberapa baskom bekas, kusam, berkarat, dan penyok. Pemandangan tak lazim seperti itu mulai terlihat sekitar sepuluh harian yang lalu. Penyebabnya tatkala seorang warga membaca pesan berantai WhatsApp (WA) yang lagi viral:

“Sediakan baskom air yang dicampur garam dan letakkan di luar rumah, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11.00 s.d 13.00. Dengan makin banyak uap air di udara semakin mempercepat kondensasi menjadi butir air pada suhu yang semakin dingin di udara. Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan makin cepat turun. Mohon diteruskan terima kasih.

            Pesan siaran WA itu dengan cepat menyebar dari mulut ke telinga. Tak butuh waktu lama, sebagian warga sudah mendengar dan mempraktikkan di rumah mereka masing-masing.  Fenomena itu akhirnya terdengar juga ke telinga Pak Mulyadi, lurah yang baru dilantik setengah tahun lalu, lewat laporan seorang kamituwo kepercayaannya.

            “Sumber air tanah di kampung ini semakin menipis Pak Lurah, sumur di rumah penduduk sudah kehabisan air.”

            “Iya betul Pak Wo, tidak hanya desa kita saja yang mengalami kekeringan, desa-desa lain yang berdekatan dengan kita juga mengalami hal sama. Menurut prediksi BMKG, tahun ini musim kemaraunya sampai pertengahan November,” jelas lurah begitu ilmiah.

            “Kasihan sekali warga kita Pak Lurah, kekeringan ini membawa kesengsaraan bagi mereka. Saat siang hari mereka ramai-ramai pasang baskom diisi dengan air garam dan ditaruh di halaman rumahnya, katanya itu sebuah ritual agar hujan segera turun ke bumi.”

            “Siapa yang nyuruh mereka? Maksud dan tujuannya apa? ” tanya lurah setengah terkejut.

            “Saya kurang tahu Pak Lurah, mungkin Bapak bisa ngecek langsung ke lapangan.”

***

            Kekeringan tahun ini memang betul-betul parah. Penyebab utamanya kemarau yang terlalu panjang, hujan macet dari April sampai akhir Oktober, pun tidak ada hujan kiriman sekalipun hanya gerimis. Dampaknya  langsung dirasakan warga. Mereka kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air untuk rumah tangga, mandi, mencuci, dan keperluan lainnya. Beberapa jenis tanaman daunnya mulai layu, mengering, rontok, yang pada akhirnya mati. Beberapa hewan piaraan susah mencari minum, sehingga mengganggu kesehatannya dan akhirnya mati juga.

            Tahun lalu tingkat kekeringannya tidaklah sedemikian parah. Ketersediaan air tanah masih tersisa. Memang ada beberapa sumur warga yang mengering, tapi masih banyak yang mengeluarkan air. Sumur yang kering penyebabnya sederhana. Karena letak pompa isapnya yang masih standar sehingga tidak bisa menjangkau kedalaman air. Namun, warga masih bisa berbagi air dengan yang lain sehingga kebutuhan untuk tanaman dan hewan masih tercukupi. Tidak seperti sekarang yang menimbulkan keresahan dan gejolak di masyarakat.

            “Baskom-baskom ini harus kita tambah agar hujan cepat turun. Harus kita ajak warga yang halaman rumahnya belum dipasangi baskom untuk memasanginya,” kata Bu Minah yang sudah sebulan tak menikmati air sumur rumahnya.

            “Benar katamu Yu, kita paksa hujan agar segera turun. Kalau perlu kita patungan untuk beli baskom baru, semuanya demi air untuk menyambung hidup,” timpal Minem, adik Minah.

            “Tapi kenapa hujan tidak segera turun? Padahal ritual ini sudah kita lakukan lebih dari sepuluh hari yang lalu. Jangan-jangan ada yang salah dengan ritual kita,” heran Pardi.

            “Iya ya, kenapa ya?” warga lain bergumam.

            “Mungkin takaran garam kita salah, jadinya air baskom masih hambar sehingga nggak ngefek ke langit. Apalagi sekarang di pasaran banyak dijual garam impor, garam mitasi atau palsu,” kata Minah menduga-duga.

            “betul itu, tapi masa sih garam palsu. Di kampung kita ini pemasok garam ke toko-toko kelontong hanya seorang, Pak Joko dari kampung sebelah itu. Orangnya alim, rajin beribadah, jadi nggak mungkin kalau dia jual garam palsu, apa nggak takut dosa,” ujar Pardi.

            “Kesalahan kita bisa jadi dari baskom yang kita pakai untuk menaruh air. Bentuk dan ukuran yang berbeda-beda menyebabkan penguapannya tidak bisa maksimal. Baskomnya kecil, volumenya kecil, tentu saja penguapannya sedikit. Mestinya kita butuh yang besar dan seragam, jadi uap airnya yang terbang nggak sia-sia.”

            “Iya betul itu, mestinya kita samakan baskomnya. Ada yang sudah karatan, keropos, warnanya mirip tanah, bahkan ada yang sudah jebol. Jadinya air merembes keluar. Ada lagi yang pakai ember bukan baskom. Percuma saja kerja kita selama ini kalau baskom yang kita pakai asal-asalan,” sambung Paiman.

            Warga hampir putus asa mendapati usahanya yang gagal itu. Ada yang sedih dan kecewa. Dari raut muka mereka ada pula yang setengah emosi.

            “Hujan tidak lekas turun bukan karena garam dan baskom. Tolong segera hentikan pekerjaan tak masuk akal ini!” Kata lurah yang tiba tiba datang menghampiri kerumunan warga. ”Bapak ibu semua sudah menjadi korban hoaks atau berita bohong. Suatu saat nanti hujan pasti turun, musim kemarau pasti berganti musim penghujan. Kita harus sabar menunggunya. Jangan melakukan hal yang neko-neko!”

            “Warga di sini mencari cara agar hujan turun, Pak. Apa pun bentuknya kami lakukan, karena sudah bingung mau cari air ke mana.”

“kita sudah sangat bersabar, Pak, dan kesabaran kita ada batasnya. Ini masalah air yang sudah gawat. Bisa-bisa kita mati seperti tanaman dan hewan ternak kita,”  kata Paiman.

“iya iya, saya paham Bapak Ibu,” jawab lurah manggut-manggut.

            “Coba Bapak bayangkan kalau menjadi orang kecil seperti saya ini, janda, hidup sendiri dan sudah tua. Untuk dapat air harus menggendong jeriken. Saya menderita, Pak,” ucap Bu Minah setengah emosi.

            “Betul sekali itu, ini masalah kemanusiaan. Kenapa Bapak baru sekarang kemari. Kita berharap Bapak sebagai lurah punya hati nurani,” kata warga dengan setengah berteriak.

            “Sebentar lagi bulan November, hujan pasti segera turun, kita semua harus bersabar. Dan mohon maaf saya telat menemui Bapak Ibu karena pekerjaan di kantor yang menumpuk,” ujar lurah.

Mendengar jawaban yang kurang memuaskan tanpa kepastian itu, warga merasa kecewa. Tidak bisa berharap pada pemimpin yang seharusnya mengayomi warganya itu. Pertanyaan bertubi-tubi menghunjam dari mulut warga.

            “Bapak dipilih jadi lurah bukan hanya untuk mengurusi kertas-kertas di kantor, tapi juga memperhatikan kehidupan warganya,” ucap warga dengan nada tinggi.

            “Bapak mesti peduli dengan kami, yang kami butuhkan saat ini adalah air.”

            “Apa program pemerintah desa untuk mengatasi krisis air ini?“ tanya seorang warga.

            “Sekali lagi saya mohon maaf, saya prihatin dan harap bersabar.”

            “Permasalahan Bapak dan Ibu akan saya tampung, tapi solusi teknisnya saya belum punya. Saya juga bingung mengatasi keadaan seperti ini. Tapi tenang, saya masih punya atasan, semua masalah Bapak Ibu tentang kekeringan ini akan saya sampaikan ke pak camat,” jelas lurah.

            “Untuk sementara waktu, saran saya Bapak Ibu bisa sekadar berbagi air dari sumber air yang masih ada, dan jangan sampai di desa kita ada ribut-ribut masalah air. Tenang, semuanya harus tenang.”

            “Huuuuu….,“ teriak warga.

***

            Dialog antara lurah dan warga masih terus berlanjut. Kata-kata lurah tidak lantas membuat warga menjadi tenang tapi malah bertambah kesal. Permasalahannya sudah bergeser ke ranah pribadi. Beberapa warga yang tidak suka dengan lurah baru itu bahkan beranggapan nyeleneh: krisis air ini akibat azab karena salah pilih lurah dalam pilkades enam bulan yang lalu.

            Sementara itu, pak camat membuat maklumat ke warga untuk melakukan doa bersama di lapangan meminta hujan. Mengimbau agar surau-surau melantunkan pujian minta hujan. Di kampung itu, sisa air dalam tanah semakin hari semakin habis. Tidak ada truk tangki air yang datang memberi bantuan. Udara masih panas, angin bertiup kencang, dan awan pun tak tampak bergelayut di langit. Warga hanya bisa berharap hujan segera turun. Mungkin saja, Tuhan masih menguji hambanya untuk lebih bersabar.

Hendro Tri Teguh Susilo, staf perpustakaan STMJ

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close