Ngawi

Melihat Gropyokan Tikus Berhadiah di Desa Mangunharjo

Berbagai cara dilakukan untuk memberantas hama tikus yang merajalela di sebagian lahan padi Ngawi. Di Desa Mangunharjo, misalnya, digelar gropyokan berhadiah. Seekor tikus dihargai Rp 1.000.

————-

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

BELASAN warga berlarian di pematang sawah Desa Mangunharjo pagi itu. Sesekali mereka memukuli tanah di tepi lahan padi menggunakan batang kayu. Seakan mendapat durian runtuh, wajah mereka semringah saat berhasil menangkap buruannya.

Dengan ujung ekor dipegang sebelah tangan, tikus yang tertangkap ditenteng menuju salah seorang petugas untuk dicatat. ‘’Satu ekor tikus dihargai Rp 1.000,’’ kata Kepala Desa Mangunharjo Purnomo.

Sejak empat hari lalu Purnomo sengaja menggelar sayembara berburu tikus. Itu dilakukan untuk menekan populasi hewan pengerat yang kerap merusak padi para petani tersebut. ‘’Jebakan listrik dilarang karena berbahaya. Jadi, petani kami ajak gropyokan berhadiah,’’ jelasnya.

Cara tersebut terbukti efektif. Setidaknya, dari empat hari perburuan bersama itu, lebih dari 500 tikus berhasil ditangkap. Pun, puluhan warga sengaja membawa berbagai peralatan mulai sabit, cangkul, hingga tabung elpiji untuk berburu hama tersebut. ‘’Kami adakan bergiliran di tiap dusun. Satu hari satu dusun,’’ paparnya.

Meski begitu, perburuan tidak semudah yang dibayangkan. Tingginya padi di sebagian lahan membuat tikus yang kabur sulit terlacak. Pun, tak sedikit yang ngumpet dalam retakan tanah. ‘’Carinya pagi hari, mulai jam 07.00 sampai 11.00,’’ ujarnya.

Selain menggelar gropyokan, beberapa burung hantu disebar di area persawahan petani. Hewan nokturnal itu diharapkan mampu mengurangi populasi tikus. ‘’Setidaknya kita ada actio­n lah, masalah hasil itu nomor dua,’’ pungkas Purnomo. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close