Mbah Surat Tak Lelah Menjaga Kepak Burung Merak

41

MADIUN – Jangan ditanya besarnya cinta Surat Wiyoto terhadap burung merak hijau. Semangat menangkar burung latin pavo muticus itu tak pernah kendur. Setia menjadi satu-satunya penangkar di Jawa Timur selama dua dekade terakhir.

DI RT 19, RW 6, Dusun Soko, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Mbah Surat tinggal di dekat hutan. Tiga bangunan di belakang rumahnya dikhususkan menjadi kandang merak hijau.

Saban hari, tangan rentanya telaten menenteng setengah karung berisikan pakan. Burung dengan kemegahan warna bulunya itu biasa menyantap buah dan sayur. Terkadang juga dipakani nasi. ‘’Seadanya saja,’’ katanya.

Kemampuan yang terbatas membuat burung-burung merak tangkaran Mbah Surat tak selalu menyantap asupan berimbang. Pemberian pakan berupa pelet tak bisa dipenuhi setiap hari. Paling seminggu sekali. ‘’Merak itu makannya banyak, melebihi ayam,’’ tegasnya.

Rasa cintanya terhadap burung merak datang dengan sendirinya. Mulai tumbuh sejak dirinya menemukan telur di hutan belakang rumahnya. Semula, dia tak tahu telur apa yang ditemuinya saat mencari rumput tersebut. Telur itu lantas dipungut dan dikumpulkan bersama telur lain yang tengah dierami ayam. Ketika menetas dan beranjak dewasa, dia baru tahu kalau ternyata itu anak merak. ‘’Dulu nemunya empat butir,’’ kenangnya.

Begitu tahu hasil tetasan telur itu bukan ayam, Mbah Surat spontan memutuskan untuk memeliharanya. Mengingat merak tergolong burung langka dengan bulu-bulu istimewa. Dia tak kesulitan menjalankan niatnya lantaran asupan pakan merak serupa ayam. Hanya, porsinya lebih banyak. Hingga 2010 silam, dia mendapat bimbingan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Wilayah Madiun. Mulai penangkaran hingga penjualan yang ijinnya sempat mengalami perubahan tiga tahun setelahnya. ‘’Sepasang sempat laku hingga Rp 27 juta.’’

Namun, jauh lebih besar pengorbanan dari keuntungan yang didapat. Demi menutup operasional sehari-hari, mengandalkan sumbangan dari pengunjung. ‘’Dapat uangnya ya dari itu. Dari bertani juga tidak banyak,’’ katanya.

Tak kurang dari 28 ekor yang dipelihara sejauh ini. Ketika, ada yang sakit, Mbah Surat telaten menyuntikkan vaksin. Atau, memeriksakannya ke dokter hewan di Kecamatan Mejayan. Dia memang harus bertanggungjawab atas satwa yang dipelihara. ‘’Bulan lalu, satu ekor mati. Padahal, malam harinya sehat-sehat saja,’’ tukasnya.

Kegigihan Mbah Surat menangkarkan merak hijau patut diapresiasi. Sebab, perjuangan itu dilakoni sendiri. Tanpa bantuan dana dari pemerintah. Termasuk edukasi hingga promosi, semuanya dilakukan secara mandiri. ‘’Semuanya saya sendiri,’’ pungkasnya. (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here