Opini

Matahari Wilayah Barat

KASUS Covid-19 masih terus terjadi. Kota kita juga bertambah satu kasus Minggu kemarin (27/9). Hingga kemarin tercatat 123 kasus dengan 96 di antaranya telah sembuh. Ini sinyal bahwa perang melawan Covid-19 belum usai. Bahkan, saat ini bisa dibilang tengah genting-gentingnya. Di sisi lain, ekonomi juga harus terus berjalan. Bahkan, kita harus mempersiapkan strategi peningkatan ekonomi usai pandemi nanti.

Pertanyaan ini yang sering kali muncul. Kapan pandemi ini akan berakhir? Tentu kita semua berharap sesegera mungkin. Secepat-cepatnya. Sudah banyak korban berjatuhan. Sudah banyak warga yang terdampak. Harapan agar pandemi segera berakhir ini tidak boleh putus. Setiap Kamis, Pemerintah Kota Madiun menggelar doa bersama. Kita berdoa agar pandemi ini segera berlalu. Masyarakat juga harus menyempatkan untuk berdoa terkait itu.

Setidaknya jawaban atas doa-doa kita mulai mengemuka. Informasi yang saya baca dari media, vaksin Covid-19 diperkirakan siap pada Desember atau Januari tahun depan. Ya, semoga saja prediksi ini benar. Kalau perlu segera saja. Artinya, kita segera kembali pada tatanan kehidupan normal. Tatanan seperti sebelum Covid-19 ini datang menyerang. Kita bisa tancap gas lagi dalam berbagai bidang. Perekonomian kembali ke jalur yang benar.

Kita tidak bisa berdiam menunggu Covid-19 ini pergi baru bergerak. Kita akan ketinggalan. Upaya lompatan perekonomian itu harus disiapkan dari sekarang. Kota kita bisa dibilang sedang dan terus berbenah. Biarpun tengah pandemi, sejumlah pembangunan tetap berjalan. Ini bukan tanpa alasan. Ini untuk mempersiapkan lompatan ekonomi setelah pandemi nanti.

Arah pembangunan kota kita sudah tepat. Kita punya titik-titik ekonomi baru yang siap unjuk gigi saat Covid-19 pergi. Upaya ini bahkan menarik perhatian daerah lain. Bukan hanya daerah sesama tingkat II. Unsur pemerintahan di tingkat I juga tertarik datang. Rombongan Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah datang melihat Pahlawan Street Centre dan Taman Sumber Wangi beberapa waktu lalu. Tentu penasaran. Saat ada kesempatan langsung saya tanyakan.

Ternyata bukan hanya terkait konsepnya. Melainkan juga terkait pendanaannya. Di saat banyak realokasi anggaran untuk penanganan Covid-19, pembangunan tetap bisa berjalan. Kalau di sini, saya gerakkan CSR perusahaan untuk turut membantu pembangunan. Mereka terheran. Karena menurut mereka menggerakkan CSR cukup sulit. Sulit bukan berarti tidak mungkin. Tentu butuh ketegasan dan komitmen bersama. Wakil rakyat tersebut berencana mendorong kota-kota di Jawa Tengah untuk meniru kota kita.

Menurut mereka ada banyak daerah berbentuk kota di Jawa Tengah yang memiliki geografis seperti di Kota Madiun. Pemerintahan tingkat II berbentuk kota yang dikelilingi beberapa kabupaten. Kota itu juga menjadi sentralnya. Persis di kota kita. Kota Madiun menjadi kotanya bagi kabupaten sekitar. Tak salah kalau kota kita disebut windows display Jawa Timur wilayah barat. Menjadi gerbang bagi kabupaten-kabupaten di wilayah barat Jawa Timur.

Tak salah kalau kita harus terus berbenah. Sudah saatnya ada sesuatu dari wilayah barat Jawa Timur yang menarik perhatian. Kota kita harus jadi yang terdepan. Kota Madiun memang kecil secara wilayah. Namun, ibarat matahari yang terlihat kecil dari bumi, matahari mampu menyinari seluruh alam semesta. Kota Madiun juga seperti ini. Kecil namun bersinar terang dan bermanfaat bagi daerah-daerah sekitar. Paling tidak untuk wilayah barat Jawa Timur tadi. Jadi mataharinya wilayah barat.

Namun, itu tentu tidak mudah. Upaya pemerintah tidak akan maksimal tanpa didukung masyarakat. Seperti kejadian beberapa waktu lalu. Ada oknum yang berulah. Biarpun anggota perguruan pencak silat, mereka ini adalah oknum. Karenanya, saya percaya perguruan pencak silat tidak mengajarkan untuk berbuat keonaran. Jadi, kalau ada anggota yang berbuat di luar ajaran perguruan, mereka itu oknum. Dan tidak ada toleransi bagi oknum.

Jujur saya malu. Masalah seperti itu masih ada di Kota Madiun. Seperti yang saya katakan, kota kita sedang berbenah. Kota kita akan seperti matahari yang menyinari alam semesta. Ulah oknum seperti itu hanya akan menjadi mendung. Ini tidak boleh dibiarkan. Mendung bisa meredupkan sinar. Kemarin muncul ide baik dari salah satu perguruan. Oknum yang berulah itu untuk dimasukkan ke asrama 501. Mereka akan mengikuti pendadaran tambahan sampai benar-benar berjiwa kesatria. Sifat pendekar sejati. Karenanya, semua langsung setuju.

Kemajuan kota ini memang butuh peran serta semua. Saya berharap masyarakat turut mendukung upaya yang tengah dilakukan pemerintah. Masyarakat juga harus menjadi sinar yang menerangi itu. Bukan menjadi mendung. Tak akan ada yang mau datang jika kota kita mendung. Padahal terdapat tujuh juta penduduk dari kabupaten-kabupaten sekitar. Kota kita harus lebih menarik agar tujuh juta penduduk ini mau datang ke Kota Madiun. Tidak boleh ada mendung. Kota kita harus bersinar seperti matahari. Paling tidak untuk wilayah barat Jawa Timur.

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close