Masykuroh, Guru Tidak Tetap yang Punya Banyak Anak Asuh

46

MADIUN – Tidak banyak yang peduli dengan anak kurang beruntung dari segi ekonomi. Dari yang sedikit itu, ada nama Masykuroh. Meski gajinya pas-pasan, dia membesarkan enam anak. Empat di antaranya anak asuh.

RIUH celoteh anak-anak dari Masjid Abdul Hadi Yusuf terdengar meski berjarak hingga 15 meter dari rumah Masykuroh. Mereka sedang riang bermain di teras. Ada yang bersenda gurau dan berlarian. Pemandangan tersebut menghibur sekaligus bikin cemas warga Desa Tulung, Saradan, itu. ‘’Kerap bolak-balik masjid-rumah untuk menengok situasi di tengah aktivitas menjalankan kewajiban rumah tangga,’’ katanya.

Imas –sapaan Masykuroh– tidak hanya sekadar mengajarkan santri itu membaca Alquran. Perempuan 38 tahun ini juga mengasuhnya meski statusnya bukan anak kandung. Selain yang tinggal di masjid, ada empat anak asuh lain yang tinggal satu atap. Mereka adalah Leo Priyo Pratama, Zainun Anwar dan Panji Wahyu Iskandar yang masing-masing sudah madrasah aliyah. Juga ada yang sudah kuliah bernama Ahmad Syaifudin. Tanpa sekat, mereka berbaur bersama dua anak kandungnya. ‘’Mereka ikut menemani bermain anak dan membuat ramai rumah,’’ ujarnya. 

Imas memberikan pengertian ke dua anak kandungnya bahwa kakaknya tersebut bukan saudara asli. Kendati demikian, harus tetap dihormati dan disayangi. Hingga kini wejangan itu diklaim diterapkan dengan baik. Dibuktikan dengan kekompakan dan saling membantu. Urusan dapur, misalnya. Mereka sering memasak bersama. ‘’Karena juga lulusan santri, mereka (anak asuh, Red) biasa membantu saya mengajarkan ngaji anak-anak lingkungan rumah,’’ ungkapnya.

Keempat anak asuhnya itu bukan yang pertama dibesarkan Imas. Sebelumnya, ada lima anak asuh yang tinggal di rumah. Mereka yang dulu dibesarkan kini sudah hidup mandiri. Berkeluarga dan memiliki pekerjaan layak. Perempuan yang bekerja sebagai guru tidak tetap (GTT) di SMPN 1 Mejayan itu pun merasa bangga. Bekal ilmu yang diberikannya dulu tidak sia-sia. ‘’Tidak mengharap imbalan apa pun. Mendengar kabar mereka baik-baik saja sudah senang,’’ ucap guru matematika tersebut.

Imas mulai mengasuh anak yatim-piatu dan tidak mampu sejak 13 tahun silam. Keputusan bersama dengan sang suami setelah menikah. Bagi keduanya, anak-anak itu berhak memperoleh hidup yang layak. Dia meyakini ada balasan lebih besar dengan berbagi. Bukan melulu materi, melainkan kesehatan dan umur panjang. ‘’Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,’’ tuturnya seraya menyebut mayoritas anak asuh asal daerah pegunungan di Saradan, Gemarang, hingga Bojonegoro..

Penghasilan Imas dan suaminya sejatinya tidak terlalu besar. Juga tidak ada usaha sampingan yang membuatanya bergelimang uang. Namun, hanya dengan bermodal keyakinan penghasilan sudah mencukupi, tanpa disadari rezeki itu datang sendiri. ‘’Saya menganggap itu rezekinya anak-anak,’’ katanya.

Imas masih membuka pintu lebar-lebar bagi anak yatim atau dari keluarga tidak mampu untuk diasuh. Mereka yang memiliki semangat belajar tinggi. Sebab semangat itu yang membuat Imas yakin menyekolahkan hingga tingkat perguruan tinggi. Namun, tetap dalam arahan. Misalnya, ada yang ingin menjadi teknisi komputer. Maka, Imas memasukkannya kuliah agar bisa mencari kerja sendiri. ‘’Tergantung minat dan bakatnya anak,’’ ujarnya. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here