Massa Geruduk PN Lagi, Minta Proses Hukum Dihentikan

474

PACITAN – Massa salah satu perguruan pencak silat kembali menggeruduk Pengadilan Negeri (PN) Pacitan kemarin (10/1). Mengenakan atribut khas serbahitam, mereka menyimak orasi perwakilan mereka. Para pesilat minta PN Pacitan menghentikan proses hukum yang melibatkan dua rekannya. ‘’Kami berharap rekan kami dibebaskan,’’ kata Sunyoto Ali Murti, wakil koordinator aksi solidaritas tersebut.

Sunyoto menyebut, kedatangan mereka tak jauh beda dengan aksi sebelumnya. Hanya, massa yang datang kemarin jauh lebih banyak. Para pesilat itu datang dari berbagai wilayah Pacitan. Mereka minta perkara dugaan penganiayaan hingga mengakibatkan kematian yang menimpa rekan mereka dihentikan.

Mereka menduga perkara tersebut sarat ketidakadilan. Bahkan, dinilai ada fakta yang terkesan ditutup-tutupi. ‘’Kami minta kejelasan, dan transparan, karena tak ada hasil otopsi. Jadi, penyebab kematiannya tak jelas,’’ ujarnya sembari mengancam bakal membawa massa yang lebih banyak ke PN Pacitan di lain waktu.

Sementara R. Eko Suprianto, penasihat hukum terdakwa, mengungkapkan proses persidangan kliennya kemarin telah memasuki agenda putusan sela. Namun, majelis hakim belum dapat memutus perkara dengan terdakwa anak di bawah umur tersebut. Rencananya, sidang bakal dilanjutkan Rabu mendatang (16/1). ‘’Kami ikuti proses hukum, tapi kami menyayangkan ada prosedur hukum yang dilanggar oknum penyidik,’’ katanya.

Prosedur yang dimaksud adalah tidak ada panggilan secara patut pihak orang tua dan penasihat hukum dari penyidik. Pun tak ada otopsi atau bedah mayat forensik. Itu dinilai jadi keganjilan. Sehingga, pihaknya berencana melaporkan oknum penyidik tersebut ke divisi profesi dan keamanan (propam). ‘’Kami juga akan lakukan upaya hukum, karena itu hak kami sebagai warga negara,’’ sergahnya.

Kapolres Pacitan AKBP Sugandi menyatakan, bila tak puas dengan proses penyidikan, pihak kuasa hukum maupun masyarakat dipersilakan mengambil langkah hukum. Pun laporan persepsi dan dugaan proses penyidikan di luar hukum hak setiap masyarakat. Bahkan, lanjut dia, itu lebih baik ketimbang melakukan cara-cara anarkistis. ‘’Silakan, bisa melakukan upaya hukum ke propam bila menduga ada proses penyidikan di luar hukum,’’ ujarnya.

Diketahui, PN Pacitan kini tengah menyidangkan perkara dugaan kekerasan dengan terdakwa VB, 17, dan GCP, 17. Korbannya, AG, 16. Dugaan kekerasan itu terjadi ketika kedua terdakwa melatih silat AG di Pringkuku beberapa waktu lalu. Akibat aksi kekerasan tersebut, diduga AG meninggal dunia setelah mendapat perawatan di rumah sakit. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here