Maskapai Lion Air Belum Beri Santunan

785

MADIUN – Jenazah Alfiani Hidayatul Solikah telah dimakamkan kemarin (14/11). Namun, penguburan pramugari korban pesawat Lion Air JT 610 itu masih menyisakan tanggung jawab bagi maskapainya. Perusahaan penerbangan itu urung memberikan uang santunan untuk orang tua gadis asal Desa Mojosari, Kebonsari, tersebut. Kehadiran perwakilan Lion Air ke rumah duka sebatas mengantarkan pemulangan jenazah serta berbela sungkawa. ’’Kami mewakili manajemen pusat,’’ kata Station Manager Lion Air Solo Aditya Yuda usai pemakaman.

Aditya tidak bisa panjang lebar bercerita ihwal santunan yang bakal diberikan untuk Slamet dan Kartini selaku ahli waris. Baik berapa jumlah terperinci kompensasi yang diberikan maupun sejauh mana proses realisasinya. Alasannya tidak punya wewenang menyampaikan hal tersebut. Namun, dia menegaskan maskapainya menjamin pemberian ganti rugi sesuai ketentuan. Pemberiannya dilakukan mengikuti tahapan. ’’Yang jelas diproses (pemberian santunan, Red) sambil berjalan,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Merujuk Undang-Undang (UU) 1/2009 tentang Penerbangan, maskapai memiliki tanggung jawab secara penuh terhadap ahli waris korban kecelakaan udara. Sedangkan untuk jenis tanggung jawab bagi pengangkut dan besaran ganti kerugian atas hal itu diatur dalam Permenhub PM 77/2011. Regulasi tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara itu menyebutkan ganti rugi penumpang yang meninggal dunia sebesar Rp 1,25 miliar per penumpang. ’’Semua data kompensasi berada di bagian HRD (human resources development, Red),’’ tutur Aditya.

Jenazah Alfi -sapaan Alfiani Hidayatul Solikah- yang berada dalam peti kayu itu diterbangkan dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta sekitar pukul 07.30. Menempuh perjalanan selama satu setengah jam dan landing di Bandara Adi Soemarmo Solo. Dilanjutkan perjalanan darat menuju rumah duka via Tawangmangu, Karanganyar, selama tiga jam dikawal mobil patwal Polresta Surakarta. ’’Manajemen kantor pusat yang akan intens berkomunikasi dengan pihak ahli waris terkait penyaluran santunan,’’ terangnya.

Jenazah Alfi yang dibawa menggunakan mobil ambulans tiba di rumah duka pukul 12.00. Petugas lantas membawa peti yang dihiasi rangkaian bunga itu masuk ke dalam rumah. Rombongan perwakilan Lion Air berada di belakangnya. Satu dari empat pramugari membawa potret Alfi yang mengenakan seragam khas maskapai. Seorang lainnya membawa setangkai bunga melati. Isak tangis dari keluarga dan kerabat yang telah lama menanti sejak pagi seketika pecah. Mereka yang tak kuasa menahan kesedihan pun saling berpelukan.

Di dalam ruangan rumah bertembok warna biru itu, Kartini, ibu Alfi, tak hentinya menangis. Berulang kali nama anak semata wayangnya diucapkan sembari merangkul erat peti mati. Kartini berusaha ditenangkan sejumlah orang yang ada di dekatnya. Perempuan yang mengenakan pakaian warna merah muda dengan jilbab hitam itu dirangkul dan diminta beristigfar. Namun, upaya tersebut gagal. ’’Alfi, kenapa kamu tinggalkan Ibu? Ya Allah Alfi, ini ibumu, Nak…,’’ jerit Kartini histeris yang terdengar sampai halaman.

Kondisi serupa dialami Slamet. Meski tak sehisteris istrinya, dia pun tak kuasa membendung air matanya kala duduk bersila di depan peti Alfi. Mengetahui momen haru tersebut, salah seorang pramugari juga larut dengan kesedihan dan meneteskan air mata. Warga lain berupaya memundurkan Kartini dan Slamet agar suasana haru itu tidak berlarut-larut. Wajar bila pasangan suami istri (pasutri) itu tidak bisa mengontrol emosinya.

Sebab, peti tidak diperbolehkan dibuka hingga dikuburkan. Keduanya tidak bisa melihat wajah anaknya untuk kali terakhir. ‘’Bukan kewenangan kami menyampaikan detail yang diserahterimakan ke keluarga,’’ kata Aditya ketika ditanya kelengkapan tubuh Alfi di dalam peti.

Jenazah Alfi diberangkatkan ke tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat setelah disalatkan. Peti dimasukkan kembali ke dalam ambulans lantaran jarak TPU sejauh dua kilometer dari rumah duka. Kepala Desa Mojorejo Mustakim meminta warga memaafkan kesalahan yang pernah dibuat Alfi semasa hidup. Serta mendoakannya meninggal dunia secara husnul khotimah dan syuhada. Menurutnya, pramugari merupakan profesi mulia. Alfi meninggal saat menjalankan tugas melayani penumpang dalam perjalanan. ‘’Semoga amal perbuatannya diterima Allah SWT,’’ ucap kades.

Proses pemakaman Alfi berjalan lancar. Kartini dan Slamet terlihat tegar kala menyaksikan setiap detik peti anaknya itu dimasukkan liang kubur dan diuruk tanah. Namun, karena terlalu lemas, pasutri itu harus dibantu berjalan. ’’Lokasi makamnya tepat di samping makam Mbah Marto, kakek Alfi,’’ ungkap Sugiarto, ketua RT 14 RW 07 desa itu.

PT Jasa Raharja Cabang Madiun telah menyerahkan santunan sebesar Rp 50 juta untuk ahli waris. Perusahaan bidang asuransi sosial itu tiba pukul 10.00. Keluar dari mobil, empat orang perusahaan bergegas masuk dalam rumah. Selang 15 menit keluar dan menunggu jenazah Alfi tiba di ruang tunggu halaman rumah. Pimpinan Jasa Raharja Cabang Madiun Hendra Yudistira mengatakan, kewajiban membayar santunan merupakan tanggung jawab dari lembaganya. Karenanya, setelah ada kepastian jasad ditemukan dari tim disaster victim identification (DVI) Polri, pihaknya langsung melakukan eksekusi. Santunan tidak secara tunai, melainkan transfer rekening. ‘’Kedatangan kami juga ingin mengucapkan belasungkawa,’’ katanya. (cor/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here