Opini

Masih Bisa Bersyukur

Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono (Pimpinan Ladima Tour & Travel)

ALHAMDULILLAH, kita masih bisa bertemu dengan bulan suci Ramadan. Bulan penuh berkah, bulan penuh rahmat, dan bulan penuh _maghfirah_. Bulan diampuninya segala salah dan dosa kita serta dilipatgandakan amal ibadah kita. Dijanjikan-Nya kita kembali ke jati diri suci di Hari Raya Idul Fitri, jikalau kita mampu menunaikan dengan sempurna dan penuh keikhlasan. Memakmurkan bulan Ramadan dengan meningkatkan amalan ibadah _mahdhah_ dan ibadah _muamalah_. Karenanya, kita wajib bersyukur bisa bertemu dengan Ramadan 1441 H ini. Alhamdulillah.

Lebih dari sekadar itu, kita masih diberi panjang umur dan sehat. Masih diberi kesempatan hidup. Berarti kita masih bisa melihat elok dan indahnya dunia ini. Pun masih bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan badani. Di antaranya masih bisa berkumpul dengan keluarga tercinta, isteri dan anak-anak. Padahal, saat ini sedang terjadi wabah Covid-19. Wabah ini sudah merenggut jutaan jiwa di belahan dunia. Di Indonesia sekarang ada sekitar 11 ribu orang lebih yang terpapar dan hampir sekitar 1000 orang meninggal dunia. Dan, kita tidak termasuk menjadi korban virus asal Wuhan, China, itu. Alhamdulillah.

Tapi, kenikmatan-kenikmatan itu selama ini kita anggap lumrah. Biasa-biasa saja. Tidak sesuatu yang istimewa dalam hidup ini. Di antara kita malah ada yang menyepelekannya. Padahal, kenikmatan-kenikmatan itu dan kenikmatan lainnya dalam hidup ini sungguh sangat luar biasa bagi kita. Itu karunia dan rahmat-Nya. Sebagai muslim kita wajib mensyukurinya. Tapi, sekadar ucapan syukur saja, itu kadang kita sulit melakukannya. Perlu dibiasakan dan dibudayakan untuk mengucapkannya. Termasuk ucapan “terima kasih” kepada sesama.

Nah, agar kita bisa bersyukur dengan sungguh-sungguh bersyukur, mari sejenak kita bertafakur. Berdiam diri, berpikir, dan merenung. Merenungkan diri yang masih diberi umur panjang dan sehat ini, masih bisa berkumpul dengan keluarga tercinta ini, dan masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadan 1441 H ini. Tafakurnya, bisa dilakukan sendiri-sendiri di rumah masing-masing, mumpung sekarang masih _stay at home_  dan _social distancing_ dalam rangka memutus matarantai pandemi Covid-19.

Dalam bertafakur sebaiknya kita lakukan setelah berzikir, berdoa, atau seusai salat. Biar punya greget dalam pendakian spiritual memaknai rasa syukur. Lakukan tafakur itu dengan rileks. Santai. Tapi, tetap serius untuk menangkap makna bertafakur. Sekarang mulai dengan tenang, tarik nafas dalam-dalam, dan hembuskan pelan-pelan. Lalu, pejamkan mata dan bayangkan;

Kita tiba-tiba sakit terserang Covid-19. Dada kita mendadak sesak. Sesak sekali. Sulit untuk bernafas. Dada kita terasa sangat sempit. Seperti terhimpit beban yang sangat berat. Kita tersengal-sengal tambah susah untuk bernafas. Kita cuma bisa mengaduh, mengeluh, mengerang atau cuma diam menahan dada yang sangat sakit. Dan, rasa sakit dari dada itu kemudian menjalar ke seluruh sel-sel tubuh kita akibat kekurangan oksigen. Sakitnya kian menyiksa. Hingga tubuh kita _kejet-kejet_ atau berkelojotan seperti ayam disembelih. Coba, bayangkan ini!

Sementara keluarga kita cuma bisa bingung dan takut. Bingung dan takut karena tidak bisa dan tidak berani menolong kita. Mereka juga takut terserang Covid-19 jika menolong kita. Akhirnya, keluarga kita cuma bisa menangis dan menangis. Berkelindan dalam kesedihan yang mendalam. Kita sendiri, mungkin, sudah tidak sadarkan diri. Akibat tidak kuat menahan rasa sakit yang sangat itu.

Tubuh kita terkapar. Terjatuh dan tergeletak. Lalu badan kita digeledek atau dinaikkan mobil ambulans untuk dilarikan ke rumah sakit. Atau tidak terasa kita sudah tergolek tak berdaya di bangsal perawatan, dengan tangan sudah dipasang infus atau dipasang tabung oksigen. Sulit untuk bergerak bebas. Ketika siuman pun kita tak bisa makan enak dan tidak bisa tidur nyenyak. Semuanya jadi tidak enak. Susah. Ini masih soal sakit yang menyiksa.

Sekarang, coba bayangkan diri kita ini tiba-tiba meninggal dunia akibat terpapar Covid-19. Atau penyebab yang lain. Maut pintunya sangat banyak. Bisa mendadak serangan jantung dan semacamnya. Bukan hanya akibat Covid-19 saja. Tapi, diakui untuk saat ini, penyebab utama kematian adalah Covid-19. Maut bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Tidak peduli kita tua atau muda, sakit atau sehat. Jika maut datang nyawa kita pasti dicabut. Tak bisa ditunda atau diundur.

Banyak cerita ada seseorang baru saja bercandaria dengan anak-anaknya atau menikmati kebahagian hidup bersama keluarganya, tiba-tiba meninggal dunia. Padahal, mereka sebelumnya sehat. Segar bugar atau orang tanpa gejala (OTG). Tapi, hari itu dia mendadak meninggal dunia. Hari itu dia dipaksa berpisah dengan keluarganya tercinta, harta bendanya, pangkat dan jabatannya serta semua yang dicintai dan yang dibanggakan di dunia ini. Istri kita jadi janda dan anak-anak kita jadi yatim.

Dan, hari itu jazad kita harus disemayamkan di liang lahat. Dikubur. Kita jadi sendirian di dalam kubur tanpa siapa-siapa. Semua yang kita cintai, isteri dan anak-anak, meninggalkan kita. Mereka cuma bisa mengantar dalam pemakaman jazad kita. Setelah itu mereka semua meninggalkan kita. Ini belum siksa kubur. Menurut ibrah agama, siksa kubur itu lebih menyakitkan dan mengerikan. Itu bagi mereka yang tidak memiliki amal kebaikan dan kebajikan di dunia.

Sampai di sini, dengan sekelumit tafakur ini,

sudah bisakah kita menebalkan rasa syukur atas segala nikmat-Nya? Nikmat diberi panjang umur dan sehat ini, nikmat masih bisa berkumpul dengan keluarga tercinta ini, dan nikmat masih dipertemukan dengan Ramadan 1441 H ini. Jika nikmat-nikmat itu masih terasa biasa saja, tidak menjadikan kita pandai bersyukur kepada Allah, jangan-jangan kita ini sudah tergolong orang kufur. Ingkar akan nikmat-Nya. Mengutip firmanNya; _Lain syakartum laazidannakum wala inkafartum inna adzabi lasyadid_ (sesungguhnya jika kamu bersyukur, Aku akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya, sungguh  azab-Ku sangat pedih). Dengan ini, semoga kita tergolong orang yang pandai bersyukur atau masih bisa bersyukur. Alhamdulillah.(*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close