Pacitan

Marzuki dan Suluri Dua Jam Terombang-ambing Gelombang

Laki-laki 54 tahun ini benar-benar pelaut tangguh. Maut di tengah laut beberapa kali mengancamnya. Namun dia tak pernah menyerah untuk tetap bertahan hidup. Pun tidak pernah jera menjadi nelayan.

————–

SUGENG DWI, Pacitan

LENTARA kecil menuntun Marjuki ke arah pulang dari melaut Rabu (19/6) lalu. Matahari telah tenggelam. Tangkapan ikan lumayan banyak usai berlayar empat jam membuatnya semringah. Namun, sekitar 25 mil dari pantai, tiba-tiba gelombang yang semulai landai berubah ganas. Beberapa kali perahu jukung yang dinaiki bersama rekannya Suluri terhempas. Dari arah selatan dan timur gelombang setinggi lebih dari tiga meter berbarengan menerjang hingga perahunya terbalik. ‘’Kami langsung tenggelam,’’ ujar nelayan ini.

Marjuki panik. Apalagi temannya yang tak bisa berenang hilang entah ke mana. Namun pengalaman 44 tahun melaut membuat warga Dusun Bubakan, Kembang, Pacitan, fasih dengan apa yang harus dilakukan. Di bawah redup sinar rembulan dia menyelam mencari Suluri yang tenggelam. ‘’Setelah ketemu saya suruh pegangan ke perahu yang terbalik,’’ terang pria kelahiran 1965 itu.

Meski berhasil meraih rekannya. Bukan berarti masalah Marjuki berakhir. Terbaliknya kapal di tengah samudera tanpa pertolongan dan gulungan ombak yang tak henti membuat perahunya rusak dan tenggelam. Tak ingin mati konyol, bermodal nekat dan sisa tenaga usai menarik jaring seharian, Marjuki memandu temannya ke daratan terdekat. ‘’Belum terlihat pulau atau tebing. Hanya naluri dan pengalaman saya yang akhirnya ketemu tebing terdekat,’’ ungkapnya sembari menyebut perahunya tenggelam sekitar pukul 19.00.

Tanpa mengenakan pelampung, Marjuki berenang hampir dua jam menuju daratan terdekat. Sialnya, yang dijumpai tebing terjal dengan kemiringan 90 derajat dengan semak berduri. Untuk bertahan hidup, mau tak mau keduanya harus memanjat tebing dengan tangan dan badan telanjang. ‘’Sampai badan dan tangan lecet semua. Untungnya berhasil ke puncak dan jalan setengah jam sampai pantai Pancer Door,’’ jelasnya.

Meski selamat, Marjuki merugi lumayan besar. Ikan hasil tangkapan, perahu, mesin kapal hingga jaring lenyap. Jika dinominalkan sekitar Rp 65 juta. ‘’Tadi pagi saya dan nelayan lain sempat ke lokasi tenggelam tapi gak menemukan mesin kapalnya. Tapi ada menemukan pecahan kapal saya yang hancur,’’ ungkapnya.

Bukan kali pertama aktivitas Marjuki bersinggungan dengan maut. Beberapa tahun silam, dia sempat terombang-ambing di laut dan terseret hingga ke pulau tanpa penghuni. Saat itu, perahu tanpa mesin miliknya terbawa angin kencang hingga tak dapat pulang. Dia terdampar di pulau itu tujuh hari tanpa persediaan air dan makanan. Hanya mengandalkan ikan hasil tangkapan dan binatang di sekitarnya untuk dimakan. ‘’Saya minum air kencing sendiri untuk bertahan, sampai ditemukan nelayan lain,’’ kenang Marjuki.*** (sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close