Ngawi

Mantan Kadindik Edarkan Uang Palsu

Terjerat Utang Rp 1 Miliar untuk Macung Bupati

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Pengungkapan kasus uang palsu (upal) oleh Satreskrim Polres Ngawi menyisakan fakta mengejutkan. Satu dari tiga tersangka yang berhasil diringkus polisi merupakan mantan pejabat Pemkab Madiun dan pernah macung bupati.

Sumardi, 63, mantan kepala Dinas Pendidikan (kadindik) Kabupaten Madiun, ditangkap bersama dua tersangka lainnya yakni Sumarji dan Sarkam. ‘’Karena kepepet, untuk bayar utang,’’ kata Sumardi Senin (28/9).

Pria yang pada 2013 silam mencalonkan diri sebagai bupati Madiun itu menyebut, dari uang palsu Rp 100 juta yang diedarkan dijanjikan keuntungan 70 persen atau Rp 70 juta. ‘’Kalau berhasil (mengedarkan upal), yang disetorkan ke sana (tersangka utama, Red) hanya 30 persen, makanya saya tertarik,’’ ungkapnya.

Sumardi mengaku memiliki utang mencapai Rp 1 miliar setelah gagal terpilih sebagai kepala daerah tujuh tahun lalu. Sementara, dirinya kini hanya mengandalkan penghasilan dari uang pensiun pegawai negeri sipil (PNS) yang nominalnya disebut tidak banyak.

Sayang, belum sempat menikmati hasilnya, Sumardi keburu diciduk polisi dan kini meringkuk di tahanan Polres Ngawi. ‘’Terus terang, saya menyesal sudah melakukan pekerjaan seperti ini (mengedarkan upal, Red),’’ ujarnya. (tif/c1/isd)

Rp 50 Juta Telanjur Beredar?

POLISI masih memburu AT, otak kasus peredaran uang palsu (upal) yang kini tengah menyita perhatian publik. Sementara, tiga tersangka lainnya telah berhasil diamankan terlebih dahulu. Yakni, Sumarji, Sarkam, dan Sumardi. Nama yang disebut terakhir merupakan mantan kadindik Kabupaten Madiun.

Kasatreskrim Polres Ngawi AKP I Gusti Agung Ananta Pratama mengungkapkan, ketiga tersangka diamankan setelah pihaknya menerima laporan dari seorang korban. ‘’Kami juga mengamankan barang bukti sepeda motor, mobil, dan upal Rp 546,1 juta,’’ ujarnya Senin (28/9).

Ananta mengatakan, tersangka AT yang kini masih buron diduga menyerahkan upal senilai Rp 1 miliar kepada Sumarji. Dari jumlah itu, Rp 100 juta diserahkan kepada Sumardi dan Rp 400 juta untuk Suwandi, tersangka lainnya yang berhasil dibekuk petugas Satreskrim Polrestabes Surabaya. ‘’Setelah diedarkan, masing-masing wajib menyetorkan hasilnya 30 persen ke tersangka AT,’’ paparnya.

Ananta juga menjelaskan peran Sarkam. Pria itu diduga membantu Sumardi mengedarkan upal di wilayah Ngawi. Modusnya dengan mentransfer uang melalui salah satu agen BRILink kepada istri Sumardi. ‘’Tersangka Sarkam terbukti melakukan empat kali transfer dengan nilai Rp 44,5 juta,’’ bebernya.

Dari tangan tersangka Suwandi, polisi berhasil mengamankan barang bukti upal senilai Rp 350 juta. Kemungkinan besar, sisanya yang sejumlah Rp 50 juta sudah telanjur beredar di masyarakat. ‘’Saat ini kami terus koordinasi dengan Polrestabes Surabaya maupun Polda Jatim untuk mengungkap kasus ini,’’ ujarnya.

Ananta menyebut, upal yang diedarkan komplotan AT 80 persen mirip aslinya. Secara kasatmata, uang palsu tersebut juga memunculkan gambar pahlawan ketika diterawang. Pun, saat diraba terasa kasar. Namun, saat diperiksa menggunakan sinar UV tidak muncul garis putus-putusnya. ‘’Kalau ada yang menemukan upal segera lapor ke polisi,’’ pintanya. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close