MadiunSport

Mantan Atlet Tinju Nasional Rachman Priyono Kini Jadi Pelatih

MADIUN – Kota Karimastik punya pelatih tinju andalan. Dari rekam jejaknya, namanya pernah berkibar sampai tingkat nasional. Beragam piala dan medali dikoleksi. Sekarang disibukkan jadi salah satu pelatih di Pertina Kota Madiun.

Satu persatu piala dibawanya ke meja ruang tamu. Dengan telaten tangan Rachman Priyono menggunapkan lap basah membersihkan setiap bagian piala itu dari debu. Piala kembali terlihat mengkilat dengan beraneka macam warna dari emas sampai perak. Di antara piala itu, dia juga membersihkan sebuah medali emas. Setelah debu itu dibersihkan huruf timbul dari medali tersebut baru bisa dibaca. Kejuaraan nasional tinju amatir juara satu kelas bulu.

Dari sekian banyak piala yang berjajar itu ada sebuah majalah Tindu Indonesia yang terbit untuk edisi Februari 1985. Di sampul majalah itu terdapat foto wajah enam orang petinju nasional. Salah satunya terpampang foto Rachman sewaktu masih muda. Dari majalah, juga tersimpan beberapa album foto. Ketika dibuka, setiap lembaran album foto itu tersimpan artikel berita dengan kertas yang sudah berwarna kekuningan.

Seolah membawa setiap artikel itu menjadi rekam jejak perjalanan Rachman sebagai atlet tinju kebanggan Bangsa Indonesia. ’’Itu semua (artikel) dari Jawa Pos, ada wartawan Jawa Pos namanya Pak Priyogo kalau nggak salah yang sering ngikutin saya. Nah , wartawan-wartawan itu yang sering ngasih koran,’’ kata Rachman.

Semua piala, foto, dan koran itu seolah membawa warga Jalan Tawang Sakti ini mengenang kembali masa lalunya. Rachman sudah akrab dengan cabang olahraga tinju sejak 38 tahun silam. Ketertarikannya dengan olahraga bela diri itu sejak remaja. Dia betah duduk berlama-lama di depan layar kaca untuk menyaksikan pertandingan tinju. ’’Mulai latihan waktu tahun 1981 umur saya sekitar 20,’’ terang pria 56 tahun ini.

Masih segar dalam ingatannya latihan pertama di stadion dan lapangan kodim. Dia dilatih langsung oleh Samanhudi, salah seorang prajurit TNI AD. Baru berjalan beberapa bulan, bapak satu anak ini turun di kejuaraan tinju daerah (kejurda) di Situbondo. Dari event pertama yang dia ikuti, Rachman mendapatkan medali emas. Setelah itu sudah puluhan medali dia kumpulkan. ’’Saya dulu sempat menghitung jumlah medali, perak satu, perunggu satu lainnya medali emas,’’ paparnya

Sasasana Tundhung Madiun adalah tempat pertama dia berlatih. Tak lama berselang berpindah di sasana Garuda Putih Madiun. Berkat prestasi yang dia torehkan, tahun 1984, Rachman bergabung dengan Sasana Bhayangkara. Selama di Sasana Bhayangkara inilah Rachman dan atlet petinju lainnya digembleng secara matang untuk pelatihan nasional (pelatnas). ’’Tahun 1984 di Surabaya, petinju terbaik Jatim, setelah bertanding dengan M.Sakri dari Probolinggo di kelas bulu,’’ kenangnya.

Digembleng di Surabaya, prestasinya kian moncer. Nama Rachman Priyono terdaftar sebagai enam petinju yang berhak mengikuti pemusatan latihan tinju tingkat Asia. Dua petinju lainnya adalah Johny Asadoma dan Atman Wiratma. Di tahun tersebut mereka dipersiapkan untuk turun kejuaraan Asia XII 1985.

’’Dilatih sama Richard Pangkey yang waktu itu jadi ketua pembinaan pertina (Persatuan Tinju Indonesia),’’ jelasnya sembari menyebut Kejuaraan Tinju Amatir Piala Asia di Bangkok adalah gelanggang internasional pertama yang dia ikuti.

Masa kejayaannya itu dia rasakan di era 1984-1985. Sampai akhirnya di antara kurun waktu tersebut saat berlatih sparing dengan temannya mata Rachman di sebelah kiri terkena sikut lawan. Sampai sekarang, jika bagian mata tersebut cukup sensitif dengan pukulan. ’’Kalau kena pukulan seperti membesar, ada syaraf yang terjepit,’’ bebernya.

Itu cukup menganggu Rachman saat berada di atas ring. Itu sempat terjadi ketika Rachman bertanding mewakili Indonesia di tahun 1985 dalam Piala Presiden. Pada pertandingan pertama dia menang melawan Australia. Berikutnya, pada pertandingan kedua melawan petinju Jepang. Dia KO. Penyebabnya gangguan di mata kirinya kambuh. ’’Pertandingan terakhir saya Presiden Cup tahun 1986 juga kalah,’’terangnya.

Sampai akhirnya, tahun 2004 Rachman memutuskan pulang ke Madiun. Singkat cerita, di 2007 bertemu dengan Yudi Ananto yang saat ini menjabat sebagai bendahara Pertina Kota Madiun. Dari situlah, Rachman mulai disibukkan dengan melatih generasi tinju asal Madiun. ’’Saya waktu ditemui Pak Yudi masih kerja bangunan, sekaran ya kerja bangunan sama ternak delapan kambing,’’ paparnya.

Baginya, tantangan melatih generasi saat ini bukanlah pekerjaan mudah. Mental mereka perlu didorong dengan niatan berlatih yang kuat dan tidak manja. Nah, permasalahan beberapa tahun  itu mereka terkendala biaya. ’’Jadi yang membiayai dulu sampai sekarang ya  Pak Anno Sri Nugroho, dari uang makan sampai transportasi setiap pertandingan (Ketua Pertina Kota Madiun),’’ pungkasnya. ****(ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close