Litera

MALAM TERNYATA TAK SELAMANYA GELAP

Cerpen: Agnes Adhani

KEMBALI ke kota ini selalu membuatku gemetar dan keringat dingin menderas, sehingga selalu tak ada keberanian untuk turun dari bus atau kereta. Apalagi malam ini saat turun dari bus di terminal Purabaya. Ingin rasanya berbalik dan kembali ke dalam bus yang masih terparkir di tempat penurunan penumpang dan melanjutkan perjalanan ke Jogja.

Senja telah larut, kulayangkan pandang seputar terminal yang sudah berubah. Tidak sesangar dan seseram 10 tahun lalu saat kutinggalkan. Tas punggung yang tergantung di pundak, kupindah dalam pelukanku. Sepotong baju kotak-kotak ungu lengan panjang, perlengkapan mandi: pasta gigi, sikat gigi, sabun mandi cair, dua sachet sampo, sabun muka, bedak, dan lipstick dalam pounch kotak-kotak warna ungu, botol minum berisi setengah, dompet, HP, charger, powerbank, dua permen Tolak Angin. Tak lupa agenda dengan bolpoint terselip di dalamnya. Isi tas punggung kuhapal satu per satu. Termasuk isi dompetku, ada tujuh lembar ratusan ribu,  tiga lembar lima puluh ribuan, lima lembar puluhan ribu, sembilan lembar lembar lima ribuan, sembilan lembar dua ribuan, satu lembar ribuan, lima koin ribuan, tiga koin lima ratusan. Sejumlah kartu, yaitu KTP, ATM BRI, ATM BNI, lima lembar fotokopi BPJS kesehatan, dan kartu namaku yang tampak kucel yang di belakangnya tertera empat nomer rekening yang setiap bulan harus kulihat dan kutuliskan di depan mesin ATM. Ada kartu NPWP, OVO, Alfamart, Hycard, dan Flazz Gramedia. Di antara itu terselip kartu nama seseorang yang harus kutemui. Selain itu ada sekotak nasi kuning lengkap yang kusiapkan sejak tadi siang. Membayangkan dan membilang apa yang ada di dalam tas mengurangi kegamanganku melangkah keluar terminal.

“Ojek Mbak?” seorang tukang ojek menawariku.

“Tidak, saya dijemput,” jawabku sambil tetap melangkah yang membayangkan seseorang yang menjemputku.

Di depan pintu keluar terminal tampak sesosok perempuan yang masih kukenali.

“Anna?” ucapnya agak ragu-ragu sambil menyongsongku.

“Iya Mbak Inne, ini aku,” sambutku sambil menghambur dalam pelukannya. Ternyata mataku tidak membasah dan tak ada yang mengganjal dalam dada. Lega. Kegelisahanku sirna saat hangat pelukan Mbak Inne merangkumku.

“Sudah makan? Ayo kita nikmati pecel Yu Gembrot, pasti kamu merindukannya di antara aroma karat di pasar Joyo,”Mbak Inne menuntunku ke Honda Jazz yang terparkir di seberang jalan. Aku hanya menurut dan mengikuti langkahnya.

*****

“Maafkan aku yang telah menyuruhmu pergi 10 tahun lalu dan kini memaksamu kembali,” tutur lembut Mbak Inne setelah kami menikmati masing-masing segelas jeruk hangat dan sepincuk nasi pecel Yu Gembrot yang masih terasa sama, hanya empalnya yang potongannya semakin kecil.

“Aku memang layak kembali. Aku tidak harus lari,” kataku pelan.

”Sudah siap menemuinya?” kata Mbak Inne setelah membayar malam kami. Setelah perut terasa penuh dan kenyang. Gamangku hilang. Aku mantap menyelesaikan masalah yang sudah berlarut dan berlarat.

*****

Keluar dari tempat parkir di pasar Joyo, di antara besi-besi tua, mobil meluncur ke Perumnas Manisrejo. Sepanjang jalan tampak keramaian warung kopi, warung tenda, cafe, dan wedangan yang berjajar sepanjang jalan Slamet Riyadi, jalan AURI, dan jalan Kolonel Suwarno. Semakin ramai saat mobil berbelok ke timur memasuki jalan Sumberkarya. Memasuki gerbang Perumnas I Manisrejo, Mbak Inne membangunkanku dari lamunan dalam menikmati perjalanan. Aku tidak berdebar walaupun ada yang bergolak dalam dada membayangkan Chichi yang sudah sepuluh tahun kutinggalkan. Ini adalah ultahnya yang ke-17, sweet seventeen. Semoga kedatanganku tidak mencemari kemanisan ultahnya.

Mobil diparkir di sudut jalan. Mbak Inne menuntunku memasuki sebuah rumah di sudut yang terang namun tidak ada hingar-bingar pesta. Kejutan apa yang akan kuterima? Aku agar ragu dan gamang, tetapi Mbak Inne menguatkanku dengan genggaman tangannya yang sangat erat. Begitu pintu diketuk Mbak Inne, sesosok gadis berbaju ungu muda menghambur ke luar dan berteriak memanggilku.

”Ibu!” kupeluk gadisku dan kuciumi tiada henti dengan air mata menderas tiada henti. Syukur kepadamu Tuhan, putriku tidak membenciku. Pelukannya yang erat menunjukkan kerinduan yang terlalu dalam dipendam. Tak tahu berapa lama kamu berpelukan dan bertangisan. Tersadar setelah kudengar derit kursi roda bergerak mendekatiku. Aku terpaku. Ternyata melihatseonggok tubuh rapuh di atas kursi roda itu mampu menghapuskan sakit hati dan dendamku selama 10 tahun.

”Masuklah,” katanya dengan suara yang tidak terlalu jelas lafalnya.

Kami bertiga memasuki ruang tamu yang tak berubah bahkan tampak semakin rapuh serapuh pemiliknya yang ada di atas kursi roda itu.

Chichi tak mau melepaskanku. Kami duduk di kursi panjang berdua. Mbak Inne di depanku membisu. Lelaki di kursi roda itu berada di dekat Mbak Inne. Kukeluarkan kotak nasi kuning. Kusodorkan kepada Chichi.

”Ini yang bisa Ibu bawakan untukmu.”

”Ibu ingat kesukaanku?” katanya penuh haru.

”Aku ibumu, Ndhuk. Mana mungkin melupakannya. Setiap tahun ibu pasti membuat  nasi kuning seperti ini,” kataku meyakinkannya. Chichi tidak mau menerima kotak nasi itu.

”Ada apa? Kau menolaknya?” tanyaku terkejut.

”Tidak, aku ingin Ibu menyuapiku,” jelas Chichi sambil menggelendot di pundakku dan memelukku.

”Ya ampun, kupikir kau menolaknya,” kataku sambil cepat-cepat membuka kotak nasi itu dan kusuapkan nasi kuning yang pembuatannya menyisakan hiasan kekuningan di jemariku. Tangan ini terasa membawa berkah penuh kasih, karena karyaku dinikmati dengan begitu lahapnya oleh Chichi. Seluruh perhatianku hanya tercurah pada kotak nasi, sendok, dan mulut Chichi yang selalu sudah terbuka saat sendok menghampirinya. Begitu cepatnya nasi kuning tandas. Aku tidak tahu bagaimana dua pasang mata memperhatikanku dalam menyuapi Chichi.

*****

“Tahun depan aku kuliah di Surabaya. Aku ikut Ibu,” jelas Chacha setelah menghabiskan tandas nasi kuning yang kubawakan. Aku hanya diam.

”Ibu tidak suka aku ikut Ibu kok diam saja?” desak Chichi. Kutatap Mbak Inne dan laki-laki itu.

“Chichi boleh ikut Ibu di Surabaya dan berkuliah di sana. Selesaikan SMA-mu dengan nilai yang terbaik,” dengan lemah laki-laki itu menjawab. Kutarik napas panjang nan lega. Doaku terkabul setelah 10 tahun berjuang untuk mendapatkan putriku yang selama ini untuk berbicara dan menemui saja tidak diizinkan. Chichi secepatnya masuk ke dalam dan keluar dengan tas punggung yang menggunung. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan Chichi dengan bapaknya. Ia siap ikut aku selama liburan ini. Malam itu juga kami diantar Mbak Inne kembali ke terminal dan meluncur ke timur menuju Surabaya. Kamar untuk Chichi sudah kusiapkan sejak lima tahun lalu saat aku membangun rumah mungil yang kurencanakan untuk kutempati berdua dengannya. Selama perjalanan tangan Chichi tak pernah lepas dari genggamanku dan kepalanya tak lepas dari pundakku. Napas halus dan senyumnya menghiasi tidur malamnya di atas bus Sumber Selamat. Dan kulihat malam ternyata tak gelap.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close