Makin Edan, Harga Cabai Rawit Setara Daging Sapi

60
LOKAL: Seorang pedagang di Pasar Besar Madiun menunjukkan komoditas cabai yang dijual.

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Harga cabai rawit naik gila-gilaan. Dua hari terakhir terpantau harga bahan pokok itu melambung tinggi di sejumlah pasar tradisional di Kota Madiun. Per kilogramnya mencapai Rp 90–100 ribu. Nyaris setara dengan harga daging sapi yang dijual di kisaran Rp 110–120 ribu per kilogramnya.

Imbasnya, banyak pembeli menjerit. Pedagang di sejumlah pasar juga mengeluh. Mereka tidak bisa mengambil produk dalam jumlah besar. Sebab, harga dari pemasok di Kediri sudah mahal.

Maieni, salah seorang pedagang di Pasar Besar Madiun, mengatakan bahwa tingginya harga jual cabai rawit itu sudah terjadi lebih dari sebulan lalu. Puncaknya saat Idul Adha, harga jual cabai ke konsumen mencapai sekitar Rp 100 ribu. ’’Dari tengkulak naik menjadi Rp 80–90 ribu. Saya jualnya Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per kilogram,’’ katanya Selasa (13/8).

Kepala Dinas Perdagangan Kota Madiun Gaguk Hariyono tak menampik harga cabai rawit stabil tinggi. Hal itu dipicu harga jualnya sempat anjlok sehingga para petani cabai rawit cenderung mengabaikan tanaman mereka. Akibatnya, banyak tanaman yang mati. Suplai ke pengepul pun berkurang. Maka, harga cabai rawit sekarang melonjak. ‘’Ya, cabai yang kualitas bagus itu memang sudah tembus Rp 100 ribu per kilogram. Tapi, kalau yang campuran berkisar Rp 80–90 ribu per kilogram,’’ ungkapnya.

Pihaknya mengaku sudah berusaha untuk menekan harga cabai rawit di tingkat pedagang. Seperti mengusulkan pasokan cabai impor dari India ke Bulog melalui pemprov. Namun, ternyata tak memberikan efek. Harga cabai rawit tetap saja merangkak naik. ’’Bahkan, ketersediaannya di pasaran saat ini masih cukup banyak,’’ ujar Gaguk.

Meski harganya naik, menurut dia, tidak berpengaruh pada penjualan cabai di pasaran. Konsumen tetap membelinya meski harga cukup tinggi. ‘’Bagaimanapun cabai merupakan komoditi yang sangat dibutuhkan dalam memasak. Masyarakat tetap membelinya walaupun mahal, tapi mungkin ada yang menguranginya. Yang tadinya bisa beli seperempat kilo, sekarang jadi se-ons,’’ tuturnya.

Gaguk mengaku pihaknya bersama pemerintah daerah (pemda) lain sempat diundang oleh pemprov dan Satgas Pangan Jatim untuk membahas persoalan ini pekan lalu. Solusinya dengan menggelar operasi pasar untuk menstabilkan harga seperti instruksi dari Dinas Perdagangan Jatim.

Operasi pasar, lanjut dia, sengaja ditempuh sambil menunggu petani cabai di Jatim memasuki masa panen.

Sementara berdasarkan data dari Dinas Pertanian Jatim, diprediksi produksi cabai pada bulan ini bisa mencapai sekitar 25.666 ton. Sebelumnya, pada Juli lalu hanya 17.353 ton. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here