Majalah Jawa Terlama Hidup di Lima Zaman

31

KALAU ada pertanyaan, media cetak apa di Indonesia yang umurnya paling panjang dan masih terbit hingga sekarang? Mungkin tidak percaya, bahwa media itu adalah sebuah majalah mingguan berbahasa Jawa bernama ”Panjebar Semangat” dan sampai bulan September 2019, sudah lebih dari delapan dasawarsa atau genap berusia 86 tahun. Sebuah usia yang sudah cukup panjang, mengingat banyaknya media cetak yang terus mulai berguguran tergerus dengan perkembangan jaman.

Majalah Panjebar Semangat diterbitkan di Surabaya pada hari Sabtu tanggal 2 September 1933. Selamat ulang tahun tentunya. Yang memberi nama Panjebar Semangat sebagai majalah berbahasa Jawa ngoko (bahasa rendah) adalah Dr. Soetomo, pahlawan nasional pencetus kebangkitan nasional Indonesia. Tak mengherankan bila kantor redaksional majalah menjadi satu komplek tepatnya dibelakang/samping kompleks GNI (Gedung Nasional Indonesia) Jln Bubutan Surabaya dimana Dr Soetomo dimakamkan. Sedangkan pencetus ide untuk mendirikan majalah Panjebar Semangat adalah Raden Sundjojo. Setelah terbit, majalah Panjebar Semangat  dikelola oleh redaksi muda mantan guru di Probolinggo, namanya Imam Supardi yang lahir di Lumajang 10 Mei 1904 yang sebelumnya juga mengelola majalah Soeara Oemoem yang terbit mingguan.

Panjebar Semangat pertama kali terbit dalam bentuk lembaran koran empat halaman dengan tiras 2.000 eksemplar. Ketika pertama kali terbit, jumlah pelanggannya baru 37 orang. Agar penampilan lebih menarik, dua tahun kemudian diubah menjadi bentuk majalah dengan sampul dibuat menarik untuk ukuran pada waktu itu.

Nama Panjebar Semangat sendiri dipilih oleh Dr Soetomo dengan tujuan khusus seperti diungkapkan pada editorial edisi perdana berbunyi: “Semangat kang kita sebarake, jaikoe semangat kang bangoenake kesadaran kang bisa nglairake goemregahe bangsa kita, ngabdi marang kabeneran, toendoek marang kasoetjian sarta soemarah marang keadilan.

Dr. Soetomo sengaja memilih menggunakan medium bahasa Jawa salah satu tujuannya agar pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada pembacanya lebih mudah diterima dan dimengerti. Dengan terbitnya majalah Panjebar Semangat diharapkan agar masyarakat yang berada di daerah pedalaman dan tidak dapat memahami bahasa Belanda maupun bahasa Indonesia dapat mengetahui kemajuan dan kegiatan perjuangan kemerdekaan bangsa.

Alasan ini dapat dilihat dalam tajuk rencana yang ditulis sendiri oleh Dr. Soetomo dengan judul “Toedjoean Ian Kekarepan” yang dimuat di halaman pertama nomor Perdana: “…….Pirang-pirang ewu bangsa kita kang isih durung bisa basa Indonesia, sarta senajan bisa-a ijo isih durung kang durung ngerti temenan. Bab iki kacetha ing pasrawungan kita sedina-dina, sarta uga Ing kalane ana vergadering. Ing sawatara panggonan, yen wong kang arep pidato nari marang wong akeh, pilih nganggo basa apa, wong-wong mau padha satjr manuk njaluk nganggo basa Jawa. Bab iki luwih-luwih yen Pinuju gandringan ing kalangane Kaum Krama ing desa-desa. Apa bangsa kita pirang-pirang ewu kehe mau ora perlu diwenehi sesuluh? Apa bangsa kita kang durung ngerti basa Indonesia mau ora perlu kadhidhik supaya gelem lelumban ing kalanganing pergerakan kita?”

Kemudian juga dijelaskan, mengingat semangat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang terus menggema untuk menggunakan bahasa persatuan,bahasa Indonesia,tetapi justru mengapa Dr. Soetomo malahan menerbitkan majalah berbahasa Jawa: “Kliru banget yen wong duwe Pangira-ira sarana metune surat kabar basa Jawa iki kita bakal misah-misahake Ing antarane bangsa kita kang nganggo basa Jawa Ian basa liyane, sarta kliru banget yen wong duwe panyana-nyana kita nduweni tujuwan kang Provincialistich. Iku babar pisan ora. Kita nyebarake semangat marang kadang-kadangku ing lapisan ngisor, supaya sarana kesadharane Ing tembe bisa-a kumpul karo sedulur-sedulur dhewe bebarengan nggayuh kekarepan kang luhur…”

Sambutan terhadap terbitnya majalah ini sungguh di luar dugaan. Hal ini bisa dilihat dari terus meningkatnya tiras setiap tahun. Pada waktu terbit tahun 1933 dengan tiras 2000 eksemplar, dua tahun berikutnya sudah menjadi 4000 eksemplar. Malahan pada tahun 1937, saat Dr Soetomo keluar negeri, beliau berpesan agar sebelum pulang dari luar negeri, pelanggan bisa 4.000. Tetapi kenyataannya jumlah pelanggan malahan bisa mencapai 8.000 orang. Puncaknya pada saat menjelang Jepang masuk ke Indonesia, antara tahun 1941 sampai dengan 1942, tiras sudah mencapai 13.000 eksemplar. Sebuah oplah yang paling besar untuk ukuran media cetak pada masa itu.

Namun sebagaimana nasib media cetak yang lain, sesuai peraturan Osomu Seiri No: 16, Panjebar Semangat juga ikut dilarang terbit. Pelarangan terbit juga diakibatkan adanya seorang tentara Jepang yang membawa gambar untuk dimuat yang isinya tentunya propaganda. Namun setelah dicetak, ada bagian gambar tertentu yang tertutup. Bagi pembaca dan teknis percetakan pada masa itu suatu hal yang lumrah.Tapi tidak demikian bagi tentara Jepang. Hal tersebut menjadi suatu yang serius, dan akhirnya pimpinan redaksinya ditahan.

Sejak pelarangan tersebut, Panjebar Semangat tidak terbit selama tujuh tahun. Barulah awal tahun 1949 Imam Supardi kembali ke Surabaya dari pengasingannya di Kediri dan Malang untuk berusaha menerbitkan kembali Panjebar Semangat. Harapan itu terkabul. Pada bulan Maret 1949 dengan tiras awal 3000 eksemplar Panjebar Semangat dapat diterbitkan kembali.

Dengan semangat untuk terus mengembangkan penerbitannya, Panjebar Semangat mencapai puncak kejayaannya yaitu antara tahun 1957 sampai dengan tahun 1962. Pada tahun 1962, tiras Panjebar Semangat sudah mencapai 85.000 eksemplar. Sebuah jumlah tiras yang sangat fenomenal. Tidak ada pada masa itu, sebuah majalah yang jumlah tirasnya menyamai Panjebar Semangat. Hanya majalah berbahasa Indonesia terbesar pada masa itu “Star Weekly” yang dipimpin pendiri Kompas dan Gramedia Group PK Ojong yang hampir dapat menyamai Panjebar Semangat. Star Weekly sebelum ditutup tirasnya pada tahun 1958 sudah 52.000, bandingkan dengan Panjebar Semangat pada tahun yang sama sudah 60.000 eksemplar.

Munculnya krisis ekonomi di akhir tahun 1960-an ditambah dengan meninggalnya Imam Supardi selaku pimred memukul sangat telak tiras Panjebar Semangat menjadi tinggal 16.000 eksemplar. Naiknya Muhammad Ali selaku pimred ditambah mulai membaiknya situasi ekonomi, bertambah pula pelanggannya. Tahun 1968 tirasnya sudah mencapai 22.000 eksemplar dan puncaknya pada tahun 1982 dengan tiras 66.000. Namun puncak tiras tersebut tidak dapat dipertahankan, terus mengalami penurunan dan menurut catatan sampai dengan tahun 2009 tiras Panjebar Semangat tinggal sekitar 26.000 eksemplar. Bertahan sampai dengan sekarang. Namun ada yang aneh dari jumlah eksemplar terbitan Panjebar Semangat. Kalau di dunia pemasaran media cetak ada istilah “return”  atau cetakan akan kembali bila tidak laku dijual, di Panjebar Semangat tidak dikenal istilah itu. Karena hampir 99,9% eksemplar Panjebar Semangat yang dicetak adalah untuk pelanggan. Akan berbeda kondisinya sebelum tahun 1980-an masih banyak dijual secara eceran dan juga dijumpai di kios koran/majalah.

Mengapa pelanggan Panjebar Semangat begitu setia berlangganan ?. Tentu ada rubrik yang ditunggu sehingga menimbulkan addix (kecanduan) bagi pembacanya. Rubrik Panjebar Semangat pada dasarnya ada pangudarasa (editorial), sumber semangat (semacam kata bijak), sari warta (berita pendek), crita cekak (cerita pendek), crita sambung (cerita bersambung), geguritan (puisi), alaming lelembut (cerita misteri), apa tumon (cerita humor pengalaman penulis/pengirim).

Namun menurut survey yang dilakukan oleh redaksi Panjebar Semangat terhadap pelanggan, yang paling disukai adalah rubrik alaming lelembut, cerpen, apa tumon dan crita sambung. Alasan penuturan redaksi, bahwa orang Jawa senang dengan cerita mistik, dan umumnya majalah berbahasa Jawa dapat dipastikan ada cerita mistiknya. Selain itu, cerita bersambung sangat mendapat tempat di hati pembaca dan pelanggan. Malahan menurut cacatan bagian pemasaran, bila cerita bersambungnya bagus nanti tiras dan jumlah pelanggannya naik. Tapi sebaliknya, bila cerita bersambung kurang bagus, tiras dan pelanggannya menurun. Tidak hanya daya tarik rubrik, tapi juga bila pada musim pendaftaran sekolah, tiras juga ikut turun. Maklum pelanggan Panjebar Semangat 60% PNS dan didominasi guru, maka pengeluaran langganan majalah merupakan prioritas kesekian, sehingga elastisitasnya sangat tinggi.

Peredaran majalah bahasa ini menyebar ke seluruh Nusantara, dimana komunitas Jawa berada. Malahan ada pelanggan dari Belanda, Suriname dan juga pepustakaan di luar negeri diantaranya Belanda dan USA. Namun peredaran paling banyak di Jawa Tengah baru disusul Jawa Timur

Sebenarnya di Indonesia menurut catatan penulis, majalah berbahsa Jawa yang terbit tinggal tiga. Dengan jumlah majalah bahasa Jawa  yang tinggal tiga, yaitu Panjebar Semangat (terbesar), Jayabaya dan Mekarsari dibandingkan penutur bahasa Jawa se Indonesia lebih dari 100 juta orang, tiras majalah bahasa Jawa demikian kecil memang mengkhawatirkan  Apalagi majalah Jaya Baya dan Mekarsari kelihatannya juga sudah sangat terbatas tirasnya. Demikian juga Panjebar Semangat yang terus menurun tirasnya.

Namun menilik Panjebar Semangat mengalami hidup di lima jaman, yakni pada masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, orde lama, orde baru dan era reformasi dimana masing-masing zaman mempunyai kompleksitas permasalahan yang berbeda-beda.

Namun, hebatnya, Panjebar Semangat selalu bisa “mrojol selaning garu” atau lolos dari belitan permasalahan dan melompat ke zaman berikutnya dengan penuh percaya diri. Meski harus diakui berkali-kali Panjebar Semangat nyaris gulung tikar. Namun pada akhirnya Panjebar Semangat mampu mengatasi segala permasalahan yang muncul tanpa mengandalkan teori muluk-muluk, karena dengan pertimbangan rasa yang sudah ada dikepala pengelola untuk memanage majalah ini dan tak kalah pentingnya kesetiaan pelanggannya. Namun sampai kapan ditengah terpaan teknologi yang berkembang dan sebagian media cetak ternama mulai gulung tikar?. Waktu yang akan mencatat dan menjawabnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here