AdvertorialMadiun

Maidi Penuhi Nazar Tidur di Rumah Warga Kurang Mampu

Nazar politik Maidi tidur di rumah warga kurang mampu ditepatinya Minggu (4/8). Wali kota Madiun itu ingin menyatu dengan masyarakat. Keakraban dengan warga ekonomi menengah ke bawah itu ternyata masih terjaga sekalipun dirinya sudah menjadi orang nomor wahid di Kota Pendekar. Semua kepala organisasi perangkat daerah (OPD) diajak. Modelnya diundi, jadi tidak bisa memilih.

————–

HENGKY RISTANTO, Manguharjo, Jawa Pos Radar Madiun

RUMAH Suyitno yang terletak di RT 9 RW 4, Kelurahan Pangongangan, Manguharjo, itu memang hanya berjarak selemparan batu dari Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun. Tapi, kondisi rumah bercat abu-abu yang berada di pinggir Jalan Ahmad Yani tersebut sangat kontras dengan bangunan lain. Barangkali ibarat bumi dan langit.

Tetapi, rumah yang didiami Suyitno-Mentis itu menjadi pilihan tempat menginap semalam Wali Kota Madiun Maidi. Oleh karenanya, selepas menyaksikan pergelaran wayang kulit di lokasi Sunday Market pada Sabtu (3/8) sekitar pukul 23.45, Maidi beserta Yuni Setyawati, istrinya, bergegas menjejakkan kaki menuju rumah dengan konstruksi bangunan lawas tersebut.

Matanya tampak kuyu. Karena sudah kantuk dan sebelumnya telah disibukkan beberapa rutinitas dinas yang padat sejak pagi. Dia juga tak banyak bicara kepada orang lain yang mengantarnya pada malam itu. Maidi beserta istri seketika langsung masuk ke dalam kamar yang biasa ditempati Mentis tidur.

Kamar itu sangat sederhana. Hanya berukuran luas sekitar 2,5 meter x 3 meter. Di situ terdapat dipan dengan kasur kapuk dan kelambu. Lantainya juga belum keramik. Baru sebatas ubin. Namun, Maidi mencoba menikmati bagian dari nazarnya tersebut. Seketika dia langsung merebahkan diri di kasur.

Maidi mengaku itu bukan mencari sensasi atau popularitas. Tetapi, sebagai bentuk pemenuhan nazar. Sekaligus salah satu cara dirinya untuk mendekatkan diri ke masyarakat. Dia berharap dengan bermalam di rumah warga bisa mendapatkan aspirasi atau masukan untuk kepentingan pembangunan ekonomi sosial.

Karena ternyata masih banyak warga Kota Madiun yang tinggal di rumah tidak layak huni (RTLH) seperti halnya Suyitno-Mentis. Bahkan, persoalan serupa itu sempat ditemuinya di rumah Sukini, Gang Trubus, RT 11 RW 4, Kelurahan Pangongangan.

Ketika menjejakkan kaki di rumah semipermanen itu, Maidi bergegas melangkahkan derap kakinya ke sejumlah ruang. Seperti dapur, kamar tidur, dan kamar mandiri. Satu per satu dicek olehnya. Dia ingin memastikan apakah warganya hidup berkecukupan. ’’Bayangkan kalau bermalam di sini. Dengan semua keterbatasan yang ada. Nanti akan kami berikan subsidi. Baik itu listrik maupun (kebutuhan) air bersih (PDAM). Apalagi, dia (Sukini, Red) hidup sebatang kara,’’ katanya.

Program itu disebutnya humanis karena sangat memanusiakan manusia. Sekaligus memastikan kehadiran pemerintah sebagai pelayan masyarakat. ‘’Apa gunanya kalau kita membangun infrastruktur yang luar biasa, tapi ternyata ada masyarakat yang hidupnya belum sempurna (secara ekonomi),’’ ujarnya.

Menurut dia, permasalahan sosial ekonomi semacam ini bisa diselesaikan lewat dana kelurahan. Oleh karenanya, alokasi dana kelurahan yang tahun ini hanya sebesar Rp 9,5 miliar akan diajukan penambahan menjadi Rp 56 miliar. ’’Saya harap dana itu ke depannya bisa dimanfaatkan oleh pihak kelurahan untuk mengatasi permasalahan seperti ini. Karena seharusnya mereka yang mengetahui keberadaan warga kurang mampu di wilayahnya,’’ terang Maidi.

Merasa persoalan ini perlu segera diselesaikan, Maidi ingin mengajak seluruh pejabat organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemkot Madiun turun ke bawah. Memastikan secara langsung apa kebutuhan dan keinginan masyarakat. ‘’Ini penting sekali. Kurangnya apa mereka coba kami penuhi dan perhatikan. Penggunaan dana CSR juga akan kami gerakkan untuk kegiatan semacam ini,’’ ungkapnya.

Di Kelurahan Pangongangan, Maidi mendapati ada sekitar 45 warga kurang mampu yang perlu mendapat penanganan dan perhatian khusus. Karena itu, pada Sabtu malam lalu (3/8), satu per satu didatangi dengan sistem bagi tugas antara Maidi dengan Wawali Inda Raya berserta kepala OPD lainnya. ‘’Yang jelas, ini program utama. Dan, akan terus berlanjut,’’ pungkasnya. *****(ota/c1/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close