Maidi Optimistis Program Smart City Berhasil

41

MADIUN – Konsep kota pintar atau smart city kian dimatangkan di Kota Madiun. Kamis (4/7) pemkot mengadakan bimbingan teknis (bimtek) gerakan menuju 100 smart city bagi para pegawai negeri sipil (PNS). Tujuannya menggali dan memunculkan ide dan inovasi baru untuk meningkatkan layanan berbasis teknologi.

Wali Kota Madiun Maidi menyebut smart city sudah menjadi misi tata kelola wajah perkotaan sekaligus titik awal implementasi pancakarya. Karena itu, banyak hal yang perlu dievaluasi.

previous arrow
next arrow
Slider

Sebab, menurut dia, program smart city tidak hanya berbicara masalah information technology (IT), tapi juga kecerdasan pola pikir seluruh perangkat daerah dalam membuat inovasi untuk kemajuan suatu wilayah. Harapannya, smart city dapat menjadi jembatan menuju kota andalan. Sehingga ke depan Kota Madiun dapat menjadi contoh bagi daerah lain. ‘’Smart city bukan hanya IT kan, semua OPD jika ada yang kurang sempurna, kami sempurnakan. Mana yang trouble nanti kami urai,’’ kata Maidi.

Di samping itu, dia menegaskan masyarakat menjadi perhatian utama dalam pengembangan smart city. Karena inti dari kerja sama di bidang smart city adalah mendorong penggunaan teknologi untuk memajukan kota yang didesain sedemikian rupa. Sehingga sesuai dengan kebutuhan dan potensi daerah untuk hasil yang optimal bagi masyarakat.

Selain itu, untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, transparan, dan tepercaya. ‘’Jadi, program smart city itu luar biasa. Maka dari itu kami harus betul-betul concern dan kerja keras sehingga Kota Madiun bisa menjadi pertimbangan untuk kota lain, bahwa kota ini betul-betul maju,’’ ujar mantan sekda Kota Madiun tersebut.

Presentasi contoh smart city disampaikan konsultan pendamping dari Kementerian Kominfo, Marsudi Wahyu Kisworo. Dia menjelaskan bahwa smart city bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan cara-cara yang cerdas, salah satunya penggunaan teknologi yang tepat.

Namun, yang terpenting, kata Marsudi, ada komitmen dari kepala daerah untuk mewujudkan smart city. Dia mencontohkan, Kota Madiun sebagai kota pendekar, seharusnya ke depan dapat menyelenggarakan event skala internasional. Seperti festival pencak silat dunia.

‘’Kami itu kan membantu membuat rencana. Nah, ketika diimplementasikan tergantung komitmennya kepala daerah. Saya kira banyak ya inovasi yang bisa dikembangkan di luar mainstream. Misalnya memproduksi tarian berbasis silat, kan belum ada di dunia ini. Atau bisa juga batik maupun baju bermotif silat,’’ papar Marsudi.

Diungkapkan, Kota Madiun ke depannya bisa menjadi seperti Makassar. Sekalipun anggaran yang dibutuhkan untuk mewujudkan smart city tergolong besar mencapai Rp 3 triliun. Tetapi, anggaran itu tidak semua didapat dari APBD. ‘’Bisa diperoleh dari kemitraan swasta maupun bersumber dari bantuan pemerintah pusat melalui dana inovasi responsif,’’ terang Marsudi. (her/c1/ota/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here