Mahmud Ghozali, Difabel yang Piawai Membuat Kaligrafi dan Memijat

69

Keterbatasan fisik tak menjadi halangan bagi Mahmud Ghozali untuk berkarya. Dengan semangatnya, pemuda 20 tahun itu mampu menghasilkan produk seni kaligrafi. Belakangan dia menekuni pekerjaan sebagai tukang pijat.

——————–

DI SEBUAH rumah sederhana masuk wilayah Dusun/Desa Lego Kulon, Kecamatan Kasreman, Mahmud Ghozali tinggal bersama keluarganya. Sejak lahir, kondisi fisik putra pasangan Muryanto dan Masiyem itu tidak sesempurna orang lain. Dia hanya memiliki satu tangan. Itupun berukuran lebih kecil dari lazimnya tangan pemuda seusianya..

Selain keterbatasan fisik, pemuda 20 tahun itu memiliki gangguan pendengaran. Jika seseorang hendak berkomunikasi dengannya harus meninggikan suara atau dengan gerak bibir yang jelas.

Saat ditemui Radar Ngawi di rumahnya kemarin (25/1) Mahmud baru saja pulang dari salat Jumat di masjid tidak jauh dari rumahnya. Tak lama setelah berganti pakaian, dia keluar sambil menenteng kresek hitam. Sementara, dagunya mengapit papan tripleks berukuran sekitar 1 meter x 20 sentimeter.

Tas itu ternyata berisi beberapa potong huruf Arab dengan sentuhan seni kaligrafi. Sambil duduk di kursi kayu jati panjang tak jauh dari meja tempatnya mengeluarkan potongan kaligrafi itu, dia lantas menatanya dengan kaki hingga tersusun kalimat Asma Allah Arrahman Arrahim. ‘’Dia memang suka bikin tulisan-tulisan seperti ini (kaligrafi, Red),’’ kata Masiyem ibunya.

Mahmud memang memiliki keterbatasan fisik. Meski begitu, berusaha mencukupi kebutuhannya sendiri. Salah satunya dengan membuat karya seni kaligrafi. Keterampilan itu diketahui ibunya setelah Mahmud pulang dari Ponpes Al-Muttaqin, Nganjuk. ‘’Setelah lulus SD, Mahmud  mondok. Lulusnya kalau tidak salah tahun 2010 lalu,’’ terang Masiyem.

Meski sepintas tampak tidak istimewa, proses pembuatan kaligrafi itu membutuhkan perjuangan tersendiri. Pasalnya, Mahmud mengerjakannya dengan kaki. ‘’Semua aktivitas pakai kaki. Kalau pas makan di tempat umum saja biasanya berusaha pakai tangan, meskipun sulit,’’ papar Masiyem.

Selama ini Mahmud sering diminta temannya membuatkan kaligrafi. Pun pernah mendapat order dari salah satu sekolah membuatkan tokoh pewayangan dari bahan kertas karton. ‘’Kadang diminta, kadang saya yang menawari. Kebanyakan mereka bilang bagus,’’ kata Mahmud.

Di sela menyelami seni kaligrafi, kini Mahmud juga menekuni pekerjaan baru sebagai tukang pijat. Pun, dia menggunakan kedua kakinya untuk memijat. Bermula dari permintaan sejumlah tetangga, lalu merambah hingga luar desa.

Beda dengan seni kaligrafi, untuk pijat Mahmud mendapatkan upah dari pemakai jasanya. Namun, dia enggan menyebut nominalnya. ‘’Nggak setiap hari mijat, paling seminggu dua kali,’’ sebutnya. ***(latiful habibi/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here