Mahasiswa Klaten Edarkan Obat Terlarang di Pacitan

140

PACITAN – Herado Ilham Dewatama nekat mengaku mengidap gangguan jiwa demi mendapatkan puluhan butir tablet Clozapine dari dokter. Namun, mahasiswa 19 tahun asal Klaten, Jawa Tengah, itu ternyata tidak mengonsumsinya. Salah satu obat yang masuk jenis psikotropika tersebut dijual kepada para pelanggannya. ‘’Herado mendapat resep dari dokter di Solo dan menebusnya di apotek,’’ kata Kasat Reskoba Polres Pacitan AKP Muhammad Agung Purnomo kemarin (18/2).

Agung mengungkapkan, penangkapan Herado berawal dari pengembangan kasus pengguna psikotropika sebelumnya. Pria yang tinggal di lingkungan Teleng, Barean, Pacitan, itu diduga sudah bertahun-tahun jadi penjual dan pemakai obat-obat terlarang. Modusnya mengaku mengidap gangguan jiwa kepada dokter di Solo tersebut. Setelah mendapat resep dan menebusnya, dia lantas mengedarkan eceran di Pacitan. Per butir dibanderol Rp 40 ribu. ‘’Kami tangkap di Donorojo akhir Januari lalu,’’ ujarnya.

Hasil penggeledahan, petugas menemukan 11 butir pil Clozapine ditambah satu klip plastik bertuliskan RSJD dr RM. Soedjarwadi atas nama Herado. Serta kartu berobat di rumah sakit tersebut. ‘’Karena dia mengedarkan dan menjual, kami jerat pasal 60 ayat 2 UU 5/1997 tentang Psikotropika,’’ jelas Agung sembari menyebut ancaman hukumannya paling lama lima tahun penjara.

Sebelum meringkus Herado, petugas lebih dulu menangkap Ekky Wahyu Priyambodo, 19, Jumat lalu (25/1). Laki-laki yang masuk daftar pencarian orang (DPO) itu diamankan setelah petugas mendapat laporan warga Nanggungan, Pacitan, itu tengah menggunakan obat-obatan di Gedung Gazibu. ‘’Kami tangkap di depan Hotel Pacitan tak jauh dari lokasi awal laporan,’’ ungkap Agung.

Dari tangan mahasiswa tersebut disita satu butir  pil putih bertanda MF serta  beberapa bungkus kosong sisa pil psikotropika berbagai merek. Ekky mengaku telah menggunakan obat-obatan tersebut sejak di bangku SMA dua tahun silam. ‘’Dia hanya pemakai,’’ katanya.

Agung tak menampik kebanyakan pengedar psikotropika di Pacitan mendapat obat terlarang dari Solo. Modusnya tak jauh beda dengan yang dilakukan Herado. Kini pihaknya masih mendalami jaringan tersebut serta penggunanya di Pacitan. ‘’Kebanyakan modus untuk mendapatkan obat seperti itu, ngaku gila,’’ sebut Agung. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here