Magetan Terancam Kian Sepi jika Tak Punya Nilai Tawar

660

MAGETAN – Surabaya-Magetan via ruas tol trans-Jawa hanya 2 jam. Semarang-Magetan pun segendang sepenarian, kisaran 2 jam. Singkatnya waktu tempuh membuat Bupati Magetan Suprawoto ikut waswas. Yakni, tidak ada yang mampir ke Magetan. ’’Saya yakin itu tidak menjadi kekhawatiran saya saja, tapi semua orang,’’ kata Bupati Magetan Suprawoto.

Dia mengatakan, Magetan harus punya nilai tawar agar menarik warga luar daerah berkunjung. Masalah ini bukan sekadar tanggung jawab bupati. Tapi, juga warga Magetan. Jika tak ada yang menarik, praktis Magetan akan semakin sepi. Pengguna jalan akan langsung melanjutkan perjalanan tanpa melirik Magetan. ’’Ini kewajiban semua orang, bukan saya saja,’’ ujarnya.

Bumi Ki Mageti, dikatakan Kang Woto –sapaan bupati Magetan– sudah dianugerahi alam yang luar biasa indah. Keberadaannya di kaki Gunung Lawu memiliki banyak panorama yang bisa dijual. Tinggal dipoles mengikuti selera pasar. Maka bisa menjadi objek wisata yang menarik. Tak kalah dengan destinasi wisata di kota lain. ‘’Magetan harus jadi kota yang dicari. Bahkan menjadi addict,’’ sebutnya.

Tak berhenti pada keindahan alamnya, Magetan juga memiliki kawasan kampung unik Desa Temboro. Bahkan mendapat julukan sebagai ’’Kampung Madinah’’ di Indonesia. Memiliki Desa Temboro yang kental dengan sisi religius itu, baginya seperti mendapat durian runtuh. Rezeki yang sangat luar biasa. Suasana itu tidak akan dimiliki kabupaten lainnya. ’’Temboro ini lokasinya juga di pinggir jalan raya. Mudah dijangkau,’’ tuturnya.

Untuk merealisasikan Magetan menjadi kota yang dicari itu, butuh investor. Pemkab tidak akan mampu menangani seorang diri. Itu tak terlepas dari minimnya APBD Kabupaten Magetan. APBD 2017 hanya Rp 1,7 triliun. Sebanyak 90 persennya merupakan kucuran pemerintah pusat, yakni berupa dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK). Untuk mengelola dana itu sangat tidak leluasa karena sudah di-plotting penggunaannya. Semisal untuk pendidikan dalam wujud dana bantuan operasional sekolah (BOS). ’’Tanpa investor tidak akan bisa maju. Karena PAD (pendapatan asli daerah, Red) sangat kecil,’’ pungkasnya. (bel/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here