Magetan “Dikepung” Sampah

53

MAGETAN – Bank Sampah memiliki peran dan kontribusi penting dalam pengurangan sampah, terutama plastik. Dengan keberadaan bank sampah tersebut, Pemkab Magetan menargetkan dapat mengurangi lebih dari 50 persen sampah.

Predikat Magetan sebagai daerah wisata tercoreng. Masalah itu muncul dari sulitnya pemkab mengendalikan sampah. Pengelolaan sampah di daerah lereng Gunung Lawu itu juga minor. Sehingga mengancam kondisi lingkungan. Salah satunya adalah Telaga Sarangan. Banyak ditemukan sampah berserakan di sekitar maupun di permukaan air telaga.

Kondisi itu tentu mengancam pariwisata daerah berikut ekosistemnya. Sudah seharusnya pemkab cepat bertindak. Sebelum semua terlambat. Termasuk dalam optimalisasi TPA Milangsari. Saat ini, kondisi TPA seluas 5,2 hektare tersebut terancam overload. Karena hanya menyisakan lahan kosong sekitar 2.500 meter persegi saja.

Sementara di sisi lain, keberadaan bank sampah yang diharapkan mampu mengurai sampah sebelum masuk ke TPA Milangsari berjalan tak maksimal. Berdasar data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Magetan, saat ini terdapat 200 unit bank sampah. Namun, hanya segelintir yang aktif beroperasi. Sehingga tidak terlalu banyak berkontribusi pada penguraian sampah plastik. ‘’Bank sampah di sini memang belum optimal. Padahal, keberadaannya sangat membantu mengatasi masalah sampah,’’ terang Kepala DLH Magetan, Saif Muchlissun Rabu (15/5).

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan vakumnya operasional bank sampah. Di antaranya, banyak warga yang belum memahami benar konsep 3R. Meski begitu, pemkab tetap optimistis bisa mengurangi sampah. Sebab, mereka terus melakukan sosialisasi tentang pengolahan sampah. Termasuk kebijakan mereka mengurangi konsumsi minuman mineral kemasan plastik di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).

Muchlis menambahkan kebijakan lainnya adalah dengan menerbitkan instruksi bupati mengenai pembentukan bank sampah di setiap desa dan kelurahan. Sebagai langkah awal, pihaknya bakal memberikan pendampingan dan pendampingan supaya program itu berjalan optimal. ‘’Nantinya akan kami dampingi terus,’’ ujarnya.

Dalam hal ini, keterlibatan publik diperlukan untuk membuat pengelolaan sampah menjadi masif dan efektif. Sehingga, kesadaran masyarakat timbul untuk bertanggungjawab atas sampah mereka.

Sementara itu, dari sekitar ratusan bank sampah di Magetan, salah satu yang masih aktif dan memberi kontribusi ekonomi bagi anggotanya dan mengurai masalah sampah adalah bank sampah Sedap Malam, Bulukerto.

Dari bank sampah tersebut masyarakat setempat mendapat penghasilan tambahan. ‘’Kami memilah sampah yang bisa digunakan lagi. Karena produksi sampah sangat banyak,’’ jelas Direktur Bank Sampah Sedap Malam, Bulukerto Iriani Sih Winarti.

Olehnya berbagai jenis sampah rumah tangga bisa dikelola dan bernilai ekonomi. Misalnya, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos cair. Sebelum kemudian dijual. ‘’Untuk ukuran 500 mililiter dijual seharga Rp 10 ribu,’’ ungkap perempuan yang akrab disapa Wiwin itu.

Sedangkan sampah anorganik, kata dia, dapat diolah menjadi kerajinan tangan. Wiwin mengungkapkan dalam sebulan bank sampah yang dikelolanya bisa menjual sekitar lima kilogram sampah kantong plastik. Serta sekitar 20 kilogram botol plastik. ‘’Paling banyak smapah anorganik itu plastik. Seperti kresek dan botol,’’ ujarnya.

Dia menerangkan dari hasil penjualan itu tak kurang Rp 150 ribu bisa masuk kas bank sampah. Selanjutnya, hasil uang yang terkumpul tersebut dikelola sebagai simpan pinjam. Sehingga kesannya dapat membantu modal usaha warga sekitar. ‘’Sebenarnya bukan uang tujuan kami. Tapi, kepedulian terhadap lingkungan,’’ kata Wiwin.

Diakuinya, untuk menyadarkan kepedulian warga setempat terdahap lingkungan bukan perkara mudah. Semula hanya 10 rumah yang menjadi nasabah bank sampah Sedap Malam pada tahun 2011. Dengan sosialisasi secara terus-menerus program itu berangsur membaik. Hingga akhirnya nasabah bank bertambah hingga 30 rumah. Di mana mereka menyetor sampah rumah tangga setiap dua minggu sekali. ‘’Sampah-sampah plastik sangat sulit terurai. Nah, kami tidak ingin membuat masalah persampahan itu,’’ jelasnya. (bel/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here