Maftuh Anan, Balita Keempat Menderita Luka Bakar

26
BUTUH PERTOLONGAN: Usai menjalani operasi pertama, Maftuh Anan ditimang ayahnya.

Arif Nur Hasan bukan satu-satunya balita yang menderita luka bakar di Bumi Reyog. Hingga saat ini, RSUD Dr. Harjono Ponorogo telah menangani sedikitnya empat pasien balita combustio. Maftuh Anan, bayi 15 bulan asal Desa Pengkol, Kauman menjadi pasien keempat yang menderita luka bakar terpapar air mendidih.

—————-

NUR WACHID, Ponorogo

RUANG delima dipenuhi pasien anak. Ruang ujung paling barat di lantai dua itu, Tamuji, ayahnya tampak menggendong putra bungsunya yang masih 15 bulan. Sembari memegang botol infus, istrinya mengelus kepala si buah hati sembari menghibur agar tidak rewel. Siang itu, Anan tak henti-hentinya menangis. Tidak dapat terbayang bagaimana sakit yang dirasakan Anan. Di usia yang masih sangat belia, dia harus menjalani perawatan intensif. Akibat tersiram air mendidih hingga membuat kulit bagian dada dan perut melepuh. ‘’Baru belajar berjalan dan kebetulan melihat cangkir berisikan kopi panas,’’ kata ayah empat anak ini.

Tamuji dan Tutik Lestari gundah gulana. Selain harus menguatkan hati lantaran putra bungsunya tertimpa musibah, pasutri buruh tani ini juga harus memikirkan biaya perawatan dan operasi. Keduanya sempat meminta agar si buah hati tak dioperasi. Padahal, luka bakar yang didera sudah mencapai sepuluh persen. ‘’Kita sempat minta rawan jalan saja. Kesulitan biaya, mas,’’ lanjutnya.

Akan tetapi, dokter tak berani ambil risiko lantaran luka bakar membuat Anan rentan infeksi. Pasutri buruh tani ini akhirnya mengamini permintaan dokter. Meskipun sampai saat ini masih kebiungan menutup biaya. Pasutri ini tak menyangka nasib malang menimpa keluarganya. Pukul 19.00, Jumat (14/6), Tutik membuatkan kopi untuk suami. Setelah meletakkannya di meja, dia melipat baju. Sementara Anan yang masih belajar berjalan, tertatih melangkahkan kaki menuju tempat duduk ayahnya. Nahas, tangannya meraih gelas di meja. Seketika, balita itu meronta kesakitan dan dilarikan ke puskesmas setempat. ‘’Penangannya agak terlambat karena keluarga sempat minta rawat jalan saja,’’ imbuh dr. Siti Nurfaidah, Kabid Pelayanan Medik RSUD Dr. Harjono Ponorogo.

Pihak keluarga baru mengiyakan operasi setelah 12 jam perawatan. Kasus combustio memang mengharuskan penanganan cepat untuk menghindari infeksi. Operasi pertama telah dilakukan. Pasca operasi kondisi Anan semakin membaik. Hanya, dokter memberikan saran agar dilakukan operasi kedua. ‘’Sudah ada perkembangan signifikan,’’ lanjutnya.

Mayoritas combustion dilatarbelakangi kelalaian orang tua. Yang tidak menjauhkan jangkauan anak dari air mendidih, pestisida dan air keras. Pertolongan pertamanya segera mengalirkan kalori panas dengan cara merendam air pada bagian tubuh yang terdampak. Selanjutnya, memeriksakan ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Luka bakar yang diolesi pasta gigi, kecap, dan sejenisnya tidak direkomendasikan dalam dunia kesehatan. ‘’Anak-anak memiliki rasa penasaran tinggi. Jauhkan dari benda yang membahayakan,’’ tuturnya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here