M. Khamim Nahrowi, Pegawai Tidak Tetap yang Nyambi Tukang Cukur

32

PONOROGO – Khamim Nahrowi melakoni dua jenis pekerjaan berbeda. Pagi berkutat administrasi SD tempatnya bekerja, siang hingga sorenya memangkas rambut para pelanggan. Pekerjaan sambilan yang tetap dipertahankan sejak lulus kuliah karena gaji honorer rendah.

Sejumlah anak muda berambut panjang dan lebat menyilangkan kedua kaki di sebuah bangku panjang. Suara mesin cukur terdengar dari luar tempat mereka duduk. Sekitar 10 menit kemudian, seorang di antaranya masuk ke dalam ruangan 3×4 meter itu. M. Khamim Nahrowi mempersilakannya duduk menghadap kaca dan menutup separo bagian depan tubuhnya dengan celemek. ‘’Dirapikan saja, Pak,’’ kata anak itu kepada Khamim.

Ya, Khamim adalah tukang cukur di utara perempatan Keron Ayu, Desa Somoroto, Kauman. Salonnya buka sejak siang hingga sore. Tepatnya setelah selesai bekerja di salah satu SD di Ponorogo. Pegawai tidak tetap (PTT) dengan peranan tenaga administrasi tata usaha (TU) itu sengaja tidak langsung pulang ke rumahnya di Desa Sampung. Dia mencari penghasilan tambahan lewat usaha jasa yang sudah dirintis sejak 10 tahun silam. ‘’Gaji tenaga honorer sangat rendah,’’ ujarnya.

Pria 29 tahun ini tidak mau buka-bukaan dengan gaji tenaga TU tempatnya bekerja sejak lima tahun lalu. Yang jelas, nilainya tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan istri dan anaknya yang masih balita. Juga tidak sebanding dengan beben kerja yang ditanggung. Sebab tidak jarang harus membawa pulang tugas untuk diselesaikan di rumah. Karenanya, meski menjadi PTT, dia tidak berhenti mencukur sejak lulus kuliah di STKIP PGRI Ponorogo pada 2013. ‘’Sejak kuliah sudah membuka usaha potong rambut. Saya jadikan sebagai side-job,’’ ungkap suami Fitriani Afrin Tika tersebut.

Khamim sudah mahir memotong rambut sejak SMA. Namun, keahliannya itu tidak dipelajari dari kursus, melainkan otodidak. Bahkan terkesan nekat. Sebab, selain masih berstatus pelajar, dia berkeliling dari satu SD ke lainnya untuk menawarkan proposal pangkas rambut gratis para siswanya. Penolakan lebih sering didapatkan sebelum akhirnya ada salah satu lembaga berani mencoba kemampuannya. Namun, kegiatan tanpa pamrihnya yang sekaligus praktik belajar itu tidak berjalan mulus. ‘’Sering sekali wali murid yang komplain karena hasil cukur anaknya dinilai tidak bagus. Akhirnya saya pangkas lagi agar lebih rapi,’’ kenangnya.

Tanpa disadari, skill Khamim mencukur pun menjadi mumpuni. Menguasai teknik mencukur hingga gaya potongan rambutnya anak muda. Dia memutuskan bekerja di tempat cukur milik temannya. Upah digunakan tambah biaya kuliah. Hingga kini akhirnya bisa membuka usaha tempat cukur sendiri. Setidaknya ada 20-an pelanggan datang dalam lima jam. ‘’Semoga bisa menjadi berkah,’’ tutur Khamin. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here