Lupakan Sarjana Penjaskes, Andri Pilih Dagang Ayam Kampung

129
PENGUSAHA: Andri Setyo Wibowo menguasai bisnis jual beli ayam kampung di Pacitan.

Menjamurnya restoran dan rumah makan yang menyajikan menu ayam kampung di Pacitan dijadikan ladang bisnisnya. Bahkan, laki-laki ini bisa dibilang satu-satunya pemasok hampir seluruh pasar di Pacitan. Namun, usahanya tak selalu mulus.

———————-

SUGENG DWI, Pacitan

KOKOK ayam nyaring terdengar di salah satu ruangan rumah Andri Setyo Wibowo. Di kandang berukuran 25×10 meter itu puluhan ayam kampung berlarian menghindari orang yang akan menangkapnya.  ‘’Di sini hanya tempat potong. Kami dapat pasokan dari peternak di desa,’’ kata Andri, peternak ayam kampung.

Andri punya ribuan ekor ayam kampung yang disebar di 25 peternak. Warga Dusun Ngemplak, Sirnoboyo, itu sukses jadi pemasok ayam kampung di Pacitan. Hampir semua restoran, rumah makan, dan pedagang ayam di pasar jadi pelanggan setia Andri. Dalam sehari dia memotong 100 hingga 300 ekor. Sebelum Ramadan hingga selesai Lebaran lalu, setiap hari memotong 700 hingga 1.000 ekor. ‘’Sampai tambah karyawan untuk bantu potong karena saking banyaknya,’’ ungkapnya.

Kesuksesan pria 29 tahun ini tak lepas dari coba-coba dan aji mumpung. Lebih dari 40 tahun orang tuanya jualan ayam di Pasar Arjowinangun. Saban hari sejak sekolah dasar (SD) Andri terbiasa membantu mencabuti bulu-bulu ayam setelah diopotong sebelum dipasarkan. ‘’Cabutnya manual, dari kelas V SD sampai lulus SMA bantu cabuti bulu ayam,’’ kenang pria kelahiran 18 juni 1990 itu.

Bapak satu anak itu sempat mengenyam pendidikan jurusan penjaskes di Universitas Nusantara Kediri. Namun, kembali ke kampung halaman. Pertemuannya dengan ayam kembali membuka matanya akan prospek bisnis tersebut di Pacitan. Berawal dari jual beli ayam kampung 2012 silam. Suami Tutik Nurhayati itu melebarkan sayap dengan memberanikan diri mencari supplier anak ayam. ‘’Saya dapat kenalan di Jogja saat itu,’’ ungkapnya.

Lambat laun, para peternak binaannya terus bertambah. Setiap pekan, minimal 1.000 ekor anak ayam harus dikirim pada para peternak yang tersebar di Pacitan. Pun jumlah tersebut kerap tak memenuhi permintan pasar saat momen-momen tertentu. Hingga, Andri harus mengambil dari ayam kampung warga. ‘’Standarnya Rp 35 ribu satu ekor,’’ sebutnya.

Beberapa kali dia nyaris bangkrut pada awal usaha. Terparah saat harus menjual ratusan ayamnya dengan harga murah lantaran anakan kurang nafsu makan. Saat itu harga yang ditawarkan pemborong dari Jogja hanya mampu menutupi modal. ‘’Waktu banjir 2017 lalu, ayam saya nyaris tenggelam. Sementara yang sudah telanjur saya potong, saya bagikan ke warga karena gak bisa kirim,’’ pungkasnya.*** (sat/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here