Lupakan Arjo, Mianto Cari Rezeki dari Budidaya Jamur Tiram

38

Mianto perlahan mulai bisa melupakan pekerjaan meracik arjo yang telah menahun ditekuninya. Dia kini nyaman menjadi pebudidaya jamur tiram kendati hasilnya kalah jauh ketimbang memproduksi jenis minuman keras itu.

____________

Aroma khas penyulingan tetes tebu tak lagi tercium saat bertandang ke rumah Mianto di Dusun Poncol, Desa Kerek, Kecamatan/Kabupaten Ngawi. Yang ada, si empunya rumah sibuk dengan jajaran rak jamur tiram. Jari tangan Mianto lincah memunguti satu per satu jamur yang siap panen. Sembari berpindah rak, dia menenteng keranjang tempat menaruh jamur dengan tangan kirinya.

Tak berselang lama, Mianto keluar. Setumpuk jamur tiram dituangnya ke dalam karung. Sebagian lagi dibeber dan dipilah-pilah. ‘’Yang di karung itu nanti siang diambil. Kalau yang ini buat tetangga. Kemarin sudah pesan,’’ terang pria 33 tahun yang masih membujang itu.

Mianto menekuni usaha jamur tiram setahun belakangan. Tepatnya, tiga bulan setelah polisi menggeruduk desanya, menutup usaha produksi arak jowo (arjo) rumahan setempat. Beberapa bulan kemudian Mianto sengaja menebus 2 ribu bag log.

Bibit-bibit jamur tiram itu didapat dari teman luar desa yang lebih dulu membudidayakannya. ‘’Dulu main spekulasi saja. Mau ‘’masak’’ (istilah memproduksi arjo di desa setempat, Red) takut, dan bingung mau bekerja apa,’’ kenangnya.

Ya, tiga bulan setelah penutupan rumah produksi miras di desanya, Mianto maupun para peracik lain kelimpungan. Bersama Tungku penyulingan tak lagi berasap. Garis polisi membentangi dapur dan peranti suling tetes tebu.

Bayang-bayang tagihan kredit menjalari kepala mereka yang dirundung ketakutan. ‘’Saya berpikir harus berbuat sesuatu agar hidup tetap berlanjut. Berbekal tabungan dan Rp 4 juta, saya beli log jamur. Kalau raknya bikin sendiri,’’ ujar Mianto.

Sejak itu Mianto akrab bersentuhan dengan tanaman bernama latin Pleurotus ostreatus tersebut. Beberapa hari sekali dia panen. Hasilnya dijual ke tetangga sekitar dan sejumlah kenalannya untuk diolah dan dijajakan lagi. ‘’Penghasilannya beda jauh dengan saat masih ‘’masak’’ dulu, 100 banding 10,’’ bebernya.

Mianto biasa mengantongi Rp 12 ribu untuk sekilo jamur tiram. Dengan penghasilan itu, dia menyambung jalan rezeki mencukupi kebutuhan hidup. Kendati demikian, tak jarang Mianto nyabet pekerjaan lain lantaran perawatan jamur tidak begitu banyak menyita waktu. Setelah memasang bag log di rak, dia cukup memperhatikan kelembabannya. ‘’Tergantung musim penyiramannya. Agak lebih sering kalau pas kemarau,’’ ungkapnya.

Menanggalkan jurus-jurus meracik arjo yang dikuasai secara turun-temurun bukan perkara gampang. Lantaran keseharian lebih kerap berkutat dengan tungku, kayu bakar, dan tetes tebu, di dapur, Mianto cukup kesulitan saat mencari bibit jamur tiram. ‘’Awalnya istilahnya berjudi. Soalnya, sama sekali belum tahu bagaimana cara memelihara jamur,’’ sebutnya.

Mianto bersusah payah mempelajari pernik membudidayakan jamur tiram. Bertanya kiri-kanan kepada yang lebih ahli dalam dunia perjamuran dilakoninya. Video tutorial juga kerap dipelototinya. ‘’Lumayan hasilnya sekarang, bisa untuk nyicil utang,’’ ujarnya.

Putra semata wayang pasangan Yatmi-Sukri itu benar-benar merasakan perbedaan penghasilan antara meracik arjo dengan membudidayakan jamur tiram. Kesehariannya jaug sudah jauh berbeda dibandingkan dengan sebelum rumah produksi arjo ditutup. Baik secara kegiatan fisik maupun dari segi rupiah yang masuk kantong. ‘’Tidak apa-apa sedikit, yang penting cukup. Yang lebih penting lagi sudah tidak dihantui urusan dengan hukum,’’ katanya. ***(deni kurniawan/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here